adakah maaf bagi kami, duhai anak lelaki
deburan ombak mengantarmu ke depan kaki
sedangkan tangan lemah dan tubuh kotor kami
khusyuk bersujud kepada dunia yang tak berhati

akankah lemahnya empati dan bisik nurani
berbuah nyata menjadi doa di dini hari
akankah air mata yang tak seberapa
dan sesak di dada yang tak terlalu lama

sanggup mengubah neraka yang menyala
menjadi surga tanpa dahaga

Advertisements

[ Kata ] : Lain Kali

Aku boleh saja meraung di pelukan ayahku atau mengurung diri di kamar sepanjang hari itu.
Tapi aku memilih menjadi sewaras biasanya, bahkan lebih daripadanya.
Aku menjadi lebih waras sampai aku pun merasa
tak pasti, masih waraskah kewarasan sewaras itu?

Jadi aku membiarkan otak pencipta persepsi di kepalaku beraksi,
memberiku imajinasi bahwa keruntuhan di dada ini tidak sebesar yang kakakku tangisi.
Bahwa semua ini adalah keindahan dari Yang Kuasa. Dan aku mensyukurinya,
bersedih secukupnya dan menjadi kuat tak seperti biasanya.

Aku tahu waktu itu aku tegar. Tapi lain kali,
di antara hari-hari yang mungkin lebih buruk dari hari itu,
di antara malam-malam di mana otak pencipta persepsi tak mampu beraksi,
atau saat kewarasan mengering menjadi debu.

Maukah kau berjaga? Tanpa memapah pun tak apa.
Karena aku ingin, menangkapmu di saat yang sama.
Biarpun aku tak pandai mencinta.

asing

kita menangis, di hari mereka bernyanyi
dan kita palingkan wajah ke langit
selagi mereka memandang hina kepadanya

karena kita lemah,
karena kita asing

kita menangis, kita berdoa
di hari mereka bernyanyi dan bermain

kita bawa luka kita yang berdarah nanah
dan kepada kaki langit yang tak terlihat,
kita melayang, diundang

kita adalah,
kelompok kecil anak-anak yatim

kita terbungkus,
oleh pekat limbah hitam tahun demi tahun

dan kita tetaplah asing

 


baris demi baris di atas adalah sebuah terjemahan bebas dari puisi berjudul “Ghorabaa” karya Samih al-Qasim

[ Cerita ] : Orang – Orang Kolong

Langit biru cerah menggantung di atas Kali Ciliwung. Tapi kami menatapnya dengan sangsi. Ini kan bulan ‘ber-ber-ber’, bulan-bulan hujan sering turun.

“Kenapa?” tanya salah satu teman kami. Jemarinya sibuk memainkan rokok.

“Bogor hujan.”

“Oh.” Teman kami itu memasukkan rokok tadi ke saku kemejanya. Kemudian dia berdiri.

“Saya beli minuman deh. Mau?”

Kami merogoh kantong celana dan mengeluarkan satu-satunya lembaran uang lima ribuan. Kami memberikan uang itu kepada yang tadi menawarkan diri. Uang itu untuk beli beberapa kaleng bir yang nantinya akan kami campur dengan air putih.

Anda menatap kami sebal dan bingung. Sambil menutup hidung atau menahan napas untuk menghalangi bau sampah tercium, Anda menatap kami jijik.

“Miskin, tidak punya rumah, tapi bisa-bisanya malah membuang uang untuk beli bir.” Itu yang Anda pikirkan.

Anda pikir kami tidak tahu ya? Kami tahu. Anda yang tidak tau bahwa miras itu membantu kami tetap hangat saat air kiriman dari Bogor menggenangi tempat tidur kami di bawah sana. Malam-malam.

Entah siapa yang memulai kebiasaan itu. Tapi itulah yang (akan) terjadi. Seorang perempuan akan mengedarkan sebuah gelas yang kami pulung. Isinya campuran bir tadi dengan air bersih yang dia dapatkan dari saluran air ledeng milik toko buku dekat jembatan.

Ketinggian air mulai menaiki badan Ciliwung. Ujung gorong-gorong yang kami jadikan MCK sudah digenangi air selutut. Kami mulai memindahkan barang-barang penting ke atas. Kain-kain sarung yang menjadi batas ruang antar keluarga kami lipat. Barang hasil pulungan seharian kami angkut dan tempatkan di dalam gerobak. Salah seorang anak kami yang sedang meriang kami pindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Yah, tidak terlalu tinggi juga. Hanya sekitar sepuluh senti dari air. Tapi itu juga lumayan.

Lalu datanglah air Bogor yang banyak itu. Kami berdiri, dan ada juga yang berjongkok. Istri kami menyelimutkan kain lusuh ke atas tubuh si anak sakit. Bir dan campuran air diedarkan dan kami teguk pelan-pelan. Awalnya terasa dingin di tenggorokan tapi kemudian tubuh kami menghangat.

Hujan baru turun di atas kami. Air yang datang tambah banyak. Anak kami yang sakit mulai mengigau. Rembesan air dari jembatan di atas kami menetes turun ke dahinya. Istri kami mengelap air itu. Dia ingin memindahkan anak itu tapi bingung juga mau ke mana.

Hujan semakin deras di atas sana. Langit gelap karena memang sudah maghrib. Sekitar kami gelap. Hanya sedikit cahaya kuning lampu jalan masuk ke sini. Si anak sakit tidak lagi mengigau dan mulai bernapas tenang. Sangat tenang.

Jam demi jam berlalu. Kami mengobrol. Ada yang tidur. Ada yang main kartu. Hujan masih deras. Kira-kira dua jam sebelum pagi, istri kami menepuk bahu.

“Anak itu sudah tidak bernapas.”

Kami menatap setitik air di sudut mata istri kami. Hujan mulai berhenti di atas sana. Kami tahu beberapa jam lagi air akan berkurang dari samping tempat tidur kami. Anak itu barangkali beruntung. Tempatnya nanti mungkin lebih dari sekedar kolong.


460 kata

[ Cerita ] : Ditagih Pagi

Kepalaku sudah mulai panas saat file Microsoft Word itu terbuka. Benar saja, warna merah di mana-mana. Kalau pekan lalu merah hanya muncul di sepertiga paragraf-paragrafku, sekarang lebih parah. Aku bahkan sudah tak tahu lagi mana yang benar karena terlalu banyak coretan di sana-sini. Belum lagi balon-balon gendut yang memenuhi sisi kanan file. Benar-benar merusak mata.

Setelah seluruh warna merah itu habis aku pelototi satu per satu, akhirnya aku kembali ke halaman pertama. Mencermati tiap coretan, membaca baik-baik balon-balonnya dan memikirkan kata-kata apalagi yang harus dituangkan ke situ sebagai gantinya.

Tiba-tiba angin dingin menyentuh bahuku. Rambut-rambut kecil di sekitar tengkukku berdiri. Aku menoleh ke belakang. Langit dini hari yang tadi diterangi bulan setengah lingkaran berubah. Samar-samar aku melihat cahaya kilat di kejauhan. Nyawaku tinggal sedikit.

Aku menatap layar lagi. Baru dua paragraf yang berhasil diperbaiki. Aku menaikkan konsentrasi hingga dia mendidih di kepalaku yang kedinginan. Dengan cepat, tanganku mengetik sementara otakku berputar dan mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Tiap kata dan tiap kalimat mengirimkan darah dari seluruh tubuhku ke hidung. Aku mimisan.

Di belakang sana, aku bisa merasakan awan kelabu bergulung-gulung. Kilat yang tadi baru cahayanya saja yang kelihatan mulai memperdengarkan suaranya. Sementara itu, darah terus meleleh dari lubang hidungku dan mulai menetes ke atas papan ketik.

Saat tiga perempat balon terselesaikan, hujan mulai turun satu-satu. Mereka tadinya hanya berupa titik-titik kecil di atas telapak tanganku lalu berubah menjadi genangan di atas meja. Papan ketikku jadi tidak enak ditekan. Di atas sana guntur menggeram berkali-kali sebelum berubah menggelegar. Mereka bersahutan, bergantian membelah langit dan menyambar pepohonan di sekitarku. Gosong.

Sebentar lagi pagi. Kilat menyambar pohon di samping kananku. Pohon itu tumbang dan hampir menimpaku. Di ujung timur sana cahaya redup muncul setitik. Mati aku.

Hujan masih terus mengguyur. Mengubah bibir merahku menjadi ungu lalu biru. Jari-jariku sudah sekaku kayu. Satu paragraf terakhir menunggu.

Waktunya habis.

Burung bertengger di bekas gosong pohon tadi. Dia bernyanyi pelan. Hujan berubah menjadi gerimis tapi darah dari hidungku tak akan berubah menjadi kental.

Di belakang sana, Sang Ratu mencoba menghangati punggungku. Lalu aku terlanjur mati.


341 kata

[ Cerita ] : Rei dan Mika

Pria itu menarik tangan kiriku. Dengan tergesa-gesa, ia mendorong pintu kaca kemudian berlari. Aku menoleh ke belakang. Lobi hotel yang baru saja kami tinggalkan terlihat biasa saja. Orang-orang berlalu lalang dengan tenang. Ada wanita bersetelan jas dengan rok berwarna kelabu berlari, tapi sepertinya ia hanya terlambat menghadiri rapat. Tidak ada yang memperhatikanku– maksudku, kami.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

Tapi pria itu bahkan tak menoleh. Dia tetap berlari kencang. Sementara kaki kecilku berulang kali terantuk trotoar jalan. Sekali lagi aku menoleh ke belakang. Hotel itu sudah tertinggal jauh.

Tiba-tiba pria itu berhenti. Aku menubruk tubuh gempalnya. Baru dia menoleh, melepaskan pegangan tangannya dan berjongkok. Kepalanya jadi sejajar dengan daguku.

“Dengarkan aku, Rei.” Sekarang kedua tangannya mencengkeram bahuku.

“Tapi–”

“Mayat yang kau lihat tadi adalah Tuan Al. Aku menyumpal mulutnya tepat sebelum Nyonya Al datang. Les menusukkan jarum itu dengan gerakan yang efisien, seperti biasanya. Kau tidak perlu khawatir. Polisi baru akan menemukannya lima belas menit lagi. Tapi saranku, segera temui nenek kalian dan bersiaplah untuk berangkat. Kalau Mika bertanya sesuatu, katakan saja kau kena demam dan tidur semalaman. Mengerti?”

Tangan kiriku berkedut. Tapi pria itu tidak menyadarinya. Dia berdiri dan sibuk mengusap kaca jam tangannya. Kemudian kepalaku pening. Setiap sel di otakku berebut mencerna kalimat-kalimatnya.

“Anu–.”

Pria itu menoleh. “Kau masih di sini? Cepat temui nenekmu!”

“Baiklah. Tapi, kenapa aku tidak boleh menceritakannya kepada Mika?”

Pria itu menatap mataku, memeriksa kedua bola mataku dengan seksama.

“Kenapa kau menanyakan itu? Apa dia tahu sesuatu?”

Aku tergagap. Tangan kiriku kembali berkedut. Aku berusaha menghentikannya.

“Mungkin.”

“Kalau begitu, aku harus menyuruh Les ke sana dan menghabisinya. Kau ikut aku.”

Pria itu menarik tanganku lagi. Dia berjalan cepat-cepat. Dan sebelum aku sempat mengatakan apapun, kaki-kaki kami sudah masuk ke dalam sebuah taksi.

“Les, Mika tahu sesuatu. Habisi dia.” Pria itu berbicara dengan ponselnya.

“Tunggu!” seruku. Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokanku tercekat ketakutanku sendiri yang terasa menggumpal di situ.

“Ada apa?”

Aku berpikir keras. Apa yang harus aku katakan? Jika Les ke sana, dia akan segera sadar bahwa bukan Mika yang ada di rumah itu. Aku harus menghentikannya. Saat sebuah kalimat hampir keluar dari mulutku, tiba-tiba pria itu menggenggam tangan kiriku yang berkedut.

“Kau bukan Rei.”

Karena aku harus menyatakannya

Aku tidak menyukaimu. Tapi saat aku sedang menulis puisi, aku teringat dua patah kata. Kata menjadi larik,  larik menjadi bait. Sungguh, aku suka puisimu.

Tapi kemudian aku sadar, aku belum menyatakannya. Kau belum tahu  betapa aku menyukai puisimu yang itu.

Jadi aku pergi mencari rumahmu. Demi itu, aku berjalan kaki berminggu-minggu. Dan untungnya, kesialan terlalu sibuk untuk sekedar membuatku kecewa.

Saat aku sampai di rumahmu,  aku mengelilingi tiap tembok dan mencari puisi itu. Ternyata kau menggoreskannya di tembok belakang, dekat taman kecil tempat anakmu bermain. Aku membacanya.

“Kau sedang apa?” sapamu.

“Aku sedang mengagumi puisimu.”

“Lalu?” tanyamu.

“Aku harus menyatakan…”

“Betapa kau menyukainya?” potongmu.

Aku terperangah. Kemudian aku ingat sepotong adegan di tempat itu, beberapa waktu sebelumnya. Aku sudah menyatakannya. Padahal aku ingin sekali melakukannya lagi.

“Oh, andaikan tamak diperbolehkan.”