Ingin Ya

Ketika semua 

mulut berbicara,

seperti dengung 

lebah tak kenal lelah.

Ketika akal

kekeringan argumentasi.

Amarah merayap di antara katup-katup

jantung hingga mencekik nadi.

Oh lidahku

tak tajam seperti punyamu

tak pandai meliuk 

nyinyir mencari

lemah.

Mungkin

segala yang kuingini

hanya berhenti

membuatmu mengerti.

Karena kau cuma

ingin ya.

Advertisements

[ FF ] : Di Sisi Mutiara

Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamarku. Cahayanya yang menyilaukan membangunkanku dari mimpi singkat yang sama seperti kemarin. Ya, aku bermimpi melihat Mutiara lagi. Kali ini wajahnya terlihat dari samping. Seperti ia berjalan di samping kananku. Setelah aku pikir-pikir, itu adalah mimpi yang aneh karena aku hampir tidak pernah berjalan di sampingnya.

Biasanya Mutiara berjalan agak di depanku. Mengapa begitu, aku tidak pernah benar-benar memikirkan alasannya. Kurasa karena aku memang suka berjalan sedikit lebih lambat darinya. Lagipula bahu Mutiara yang kecil itu sangat mempesona kalau dilihat dari belakang. Mungkin itu salah satu alasan terbaik yang mampu aku ingat.

“Cepatlah.”

Begituย Mutiara sering berkata. Ia menyuruhku cepat-cepat dan menjajarinya. Tapi aku hampir tidak pernah mau. Dia akan memandangiku dengan sedikit kesal lalu berjalan lebih cepat lagi. Apakah itu penyebabnya meninggalkanku? Jangan-jangan begitu.

Aku memang tak pernah bertanya. Waktu ia mengatakan ingin berpisah, aku seperti tahu bahwa itu akan terjadi. Sehingga alih-alih bertanya, aku hanya bilang, “begitu ya.”

Dan pergilah Mutiara meninggalkanku. Ia terlihat sungguh-sungguh menginginkan perpisahan itu. Tapi saat berbalik badan untuk pergi, aku melihat air mata menuruni pipinya dengan deras. Jika begitu menginginkannya, mengapa ia malah bersedih saat itu benar-benar terwujud? Ah, aku tidak pernah mengerti wanita itu. Aku tidak pernah mengerti wanita manapun.

“Semalam aku bermimpi kau mengatakan bahwa kau ingin berpisah,” kata Mutiara suatu hari.

“Lalu?”

“Lalu aku bilang, ‘ya sudah kalau begitu.’ Tapi aku menangis waktu terbangun.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Aku kan mencintaimu.”

Itu adalah satu-satunya kesempatan Mutiara mengucapkan kata cinta kepadaku. Bahkan saat aku mengungkapkan perasaan sukaku padanya, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum lalu menggenggam tanganku yang basah karena embun dari gelas plastik berisi es cendol yang kupegangi selama hampir sejam. Waktu aku minum, es cendolnya sudah tidak terlalu enak. Tapi aku menyantapnya dengan semangat, sebab Mutiara sedang bersandar di bahuku.

Ya, dia duduk di samping kananku. Tersenyum, menyelipkan rambut hitam lurusnya ke belakang telinga, lalu menyandarkan kepalanya yang kecil ke bahuku yang gendut.

Aku ingat sekarang, saat itulah aku melihatnya berada di samping kananku.

Wajahnya waktu itu dan wajahnya di mimpi barusan sama persis.

Matahari semakin meninggi. Aku menyingkapkan selimut dan bergegas keluar menuju beranda. Angin lembut mengusap keningku yang kegerahan. Aku bahagia, Mutiara. Ternyata kau memang pernah di sisiku.


367 kata

breathe easy

i can’t dream yet another dream
without you lying next to me, there’s no air.
out of my mind nothing make sense anymore
that’s all i breathing for
oh
tell me why
i can’t dream yet another dream
there’s no air
no
why
i can’t breathe easy
’til you’re by my side
tell me
i can’t breathe easy
without you lying next to me
no air

haiiiish, udah lama nggak posting di mari. bingung mau nulis apaan, ya sudah ngetik aja yang kedengeran di kuping.

84 kata

terhimpit di sini, di pojok putih.ย bersama milyaran kuman yang bersembunyi sempurna di balik kilau alumunium yang tertimpa cahaya pagi. dengan punggung ditekan punggung-punggung lain yang jauh lebih padat dan kokoh. dengan harum parfum ratusan merk yang tercampur rata seperti adukan gula dan kuning telur dalam adonan kue ulang tahunku yang ke-dua-puluh-satu. aku terhimpit di sini. menarik napas, mengembangkan diafragma, memburu oksigen yang berhamburan sporadis di antara udara dingin namun pengap.

tapi itu masih jauh lebih baik. daripada berada di taman cantik. dengan capung-capung emas penanda hujan beterbangan bebas mengambang di udara. tidak sesiapa kecuali aku yang menguasai titik itu. jangankan berebut udara bersih. bahkan langit seperti menghiburku dalam padanan warna mereka yang memanja. lalu tiba-tiba angin ketidaksukaanmu menerpa tubuhku. menekan tenggorokanku dengan pisau-pisau tajam tak kasat mata. tega.

memindahkanmu ke dalam barisan kata ini seperti membalikkan telapak tangan yang di atasnya diletakkan sebutir telur. bukan hanya sulit, tapi juga berbahaya. aku terlalu tak berani membiarkan telur itu jatuh lalu pecah.

tapi aku akan mencoba mengenali apa yang setidaknya bisa kulakukan.

pertama, aku bertanya tentang dimensi hati. apakah ia seperti sepetak tanah yang memiliki sekat di sekelilingnya? atau ia seperti sebuah palung di lautan? sekat-sekat pada sepetak tanah tadi digantikan fungsinya oleh dinding-dinding palung dengan permukaannya yang kasar dan keras, walaupun lumut —dan makhluk-makhluk lain yang diragukan apakah mereka hewan atau tanaman— menempel. aku begitu ingin tahu.

tapi aku tahu, ini sulit. sulit. aku kesulitan. kebingungan. seperti jutaan lembar kuman yang mengambang di dalam segelas air putih. aku kebingungan.

antara jam tangan dan mega

aku melirikmu lagi, oh, jam tanganku
berdetak rapi dalam tiap geser jarummu
Tuan mickey mouse masih tersenyum
lebar sekali ala iklan pasta gigi.

entah apa maksudnya dengan senyum itu
benarkah kau ingin menyemangatiku?
atau meledek pipi yang merah bersemu?

kemudian di ujung sana ada pak satpam
yang tersenyum tapi mengawasi
kepala-kepala mereka yang tak lagi gundul
atau sepatu-sepatu yang tak hitam

aku melirikmu lagi, oh, jam tanganku
harusnya semenit lebih delapan detik lagi
maka ujung sepatu itu akan muncul

dan saatnya terjadi, bukannya berhenti.
deburan jantungku menggulung ke angkasa
seperti kepulan awan yang bergumpal
saat pesawat antariksa terbang ke ujung mega

rasanya aku ingin tahu diri dan pergi

tapi sebuah janji bahagia menahanku

dalam dimensi yang berdiri sendiri

dan orang dewasa, masih selalu begitu

mereka tak pernah mampu ku mengerti