[ FF ] : Di Sisi Mutiara

Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamarku. Cahayanya yang menyilaukan membangunkanku dari mimpi singkat yang sama seperti kemarin. Ya, aku bermimpi melihat Mutiara lagi. Kali ini wajahnya terlihat dari samping. Seperti ia berjalan di samping kananku. Setelah aku pikir-pikir, itu adalah mimpi yang aneh karena aku hampir tidak pernah berjalan di sampingnya.

Biasanya Mutiara berjalan agak di depanku. Mengapa begitu, aku tidak pernah benar-benar memikirkan alasannya. Kurasa karena aku memang suka berjalan sedikit lebih lambat darinya. Lagipula bahu Mutiara yang kecil itu sangat mempesona kalau dilihat dari belakang. Mungkin itu salah satu alasan terbaik yang mampu aku ingat.

“Cepatlah.”

Begitu Mutiara sering berkata. Ia menyuruhku cepat-cepat dan menjajarinya. Tapi aku hampir tidak pernah mau. Dia akan memandangiku dengan sedikit kesal lalu berjalan lebih cepat lagi. Apakah itu penyebabnya meninggalkanku? Jangan-jangan begitu.

Aku memang tak pernah bertanya. Waktu ia mengatakan ingin berpisah, aku seperti tahu bahwa itu akan terjadi. Sehingga alih-alih bertanya, aku hanya bilang, “begitu ya.”

Dan pergilah Mutiara meninggalkanku. Ia terlihat sungguh-sungguh menginginkan perpisahan itu. Tapi saat berbalik badan untuk pergi, aku melihat air mata menuruni pipinya dengan deras. Jika begitu menginginkannya, mengapa ia malah bersedih saat itu benar-benar terwujud? Ah, aku tidak pernah mengerti wanita itu. Aku tidak pernah mengerti wanita manapun.

“Semalam aku bermimpi kau mengatakan bahwa kau ingin berpisah,” kata Mutiara suatu hari.

“Lalu?”

“Lalu aku bilang, ‘ya sudah kalau begitu.’ Tapi aku menangis waktu terbangun.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Aku kan mencintaimu.”

Itu adalah satu-satunya kesempatan Mutiara mengucapkan kata cinta kepadaku. Bahkan saat aku mengungkapkan perasaan sukaku padanya, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum lalu menggenggam tanganku yang basah karena embun dari gelas plastik berisi es cendol yang kupegangi selama hampir sejam. Waktu aku minum, es cendolnya sudah tidak terlalu enak. Tapi aku menyantapnya dengan semangat, sebab Mutiara sedang bersandar di bahuku.

Ya, dia duduk di samping kananku. Tersenyum, menyelipkan rambut hitam lurusnya ke belakang telinga, lalu menyandarkan kepalanya yang kecil ke bahuku yang gendut.

Aku ingat sekarang, saat itulah aku melihatnya berada di samping kananku.

Wajahnya waktu itu dan wajahnya di mimpi barusan sama persis.

Matahari semakin meninggi. Aku menyingkapkan selimut dan bergegas keluar menuju beranda. Angin lembut mengusap keningku yang kegerahan. Aku bahagia, Mutiara. Ternyata kau memang pernah di sisiku.


367 kata

Oh, kau yang terlelap di negeri nun jauh di sana,
tutuplah matamu, dan akan kau dengar
nyanyian lembut menggelitik udara

bumi memberi maaf, dengan cahaya kekal
yang menyirami lumpur yang mencemar

untuk hidup dan percaya,
kekuatan bersemi dari keduanya

Oh, bukalah matamu, dan akan kau lihat
biarpun jauh jarak kita terpisah,
langit hangat akan mengikat erat.

[ Cerita ] : Purannaha

“Boneka kayu.”

Sejuta berkas cahaya tiba-tiba menyerang mataku. Perih sekali rasanya. Sedetik yang lalu, aku masih berada jauh di dasar mimpi. Ya, mimpi-mimpi itu lagi. Mimpi tentang seorang gadis yang kurasa adalah aku, namun dengan bentuk yang nyaris seluruhnya berbeda. Aku membuka mataku pelan-pelan. Sinar-sinar tadi menjinak, menelusup lambat memberiku ruang untuk melihat. Hingga kedua mataku membuka sepenuhnya, baru aku sadar di mana aku sekarang. Sebuah kamar serba putih dan higienis.

“Bagaimana tidur siangmu?”

Seorang wanita sedang melipat baju dan memasukkannya ke dalam tas besar. Keriput di sudut senyumnya membentuk mimik ramah, penyayang, murni, dan menenangkan. Ia adalah seorang ibu walau tak pernah melahirkan.

“Lumayan,” jawabku, sambil setengah menimbang-nimbang bagaimana tidur siangku tadi tanpa mencampurkannya dengan nuansa dalam mimpi itu. Aku mengangguk. Ya, tadi itu lumayan.

Aku melirik jam dinding. Sudah jam lima sore. Aku harus ke kamar mandi dan membasuh wajahku sebelum keluar untuk memotret.

“Perlu kubantu? Sini, nak.”

Wanita itu menghampiriku, menggenggam lembut pangkal lenganku dan membantuku turun dari tempat tidur kayu. Kayu. Boneka kayu.

Bayangan mimpi itu berkelebat lagi. Seorang lelaki, tak lebih dari dua puluh tahun usianya. Sama seperti aku di mimpi itu. Ia berlari di depanku, menggenggam sebilah pedang besar dan menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi langkahnya. Aku menunduk, melihat kaki-kakiku merah mengeluarkan darah segar. Tanah berkerikil itu mengoyak keduanya. Aku meringis, perih sekali rasanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya wanita yang sedang membimbing langkahku. Suara lembutnya mengenyahkan anak lelaki itu dari kepalaku.

Aku mengangguk.

“Aku tahu kau pasti gugup sekali. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Anak itu membuat catatan di buku kecilnya. Ibunya menangis waktu menemukan catatan itu dan tersenyum bangga waktu menemukan nama anaknya di daftar pendonor.”

Tiba-tiba jantungku terasa sakit sekali.

“Kenapa, nak? Sakit? Ayo, duduk dulu di sini.”

Aku duduk, mengusap pelan dadaku yang nyeri. Kurang dari dua puluh empat jam lagi aku akan berpisah darinya. Jantung ini, yang menemani masa dua puluh empat tahun hidupku dengan rasa sakit yang ia denyutkan.

Selang beberapa saat, sakit itu mereda. Aku bangkit dari kursi dan membersihkan diri ala kadarnya. Waktu cahaya kemerahan masuk dari jendela kamar, aku bergegas mengenakan kardigan rajut kesukaanku dan melangkah keluar sambil menenteng kamera kecilku.

“Jangan sampai gelap, ya. Sedang banyak angin di luar.”

 

Enam kurang sepuluh menit dan tiga foto saja yang kudapat. Aku duduk di sebuah kursi di taman. Kursi yang agak jauh dari anak-anak yang riuh bermain kejar-kejaran. Aku lebih suka kursi yang jauh ini. Karena dengan duduk di atasnya, aku akan melihat anak-anak itu bermain dinaungi langit senja yang merah bercampur ungu di selapis awan terluarnya.

“Sannaha!”

Aku menoleh. Benar-benar menoleh karena seseorang menyebut kata itu. Seolah-olah itu adalah namaku padahal aku berani bersumpah baru kali ini aku mendengar kata itu. Seorang ayah melambaikan tangan pada salah satu anak perempuan yang sedang tertawa girang karena kedatangannya. Anak perempuan itu berlari dan melompat ke pelukan si ayah. Aku bisa merasakan hangat itu. Ayah.

“Boneka kayu, cabut pedang ratu dan bersiaplah.”

Lelaki itu menoleh tanpa menumbukkan tatapannya kepadaku. Tapi aku bisa merasakan tubuhku menghangat. Hangat yang sama seperti saat ayah menepuk bahuku. Mereka pasti memiliki suhu yang sama. Tak peduli setelah itu puluhan makhluk kekar menyeramkan mengepung kami, aku tak merasa takut. Aku bisa mengayunkan pedangku dengan ringan namun tetap tanpa belas kasihan. Darah-darah merah kehitaman bercipratan menodai pakaian sutraku.

Setelah berhasil melumpuhkan belasan orang dengan pedang besarnya, lelaki itu mulai bergerak memberi aba-aba kepadaku lewat matanya. Ia menyuruhku untuk maju sedikit untuk kemudian menjauh dari area pertempuran. Aku menuruti perintah sorot mata itu, mempercayakan keselamatanku kepada kehangatan yang terpancar dari keduanya.

“Lupa pesanku, ya? Ayo masuk! Sudah mulai dingin.”

Wanita itu sudah tiba di sampingku. Kemudian membawaku masuk ke dalam kamarku yang higienis. Aku kehilangan bayangan lelaki itu lagi. Di balik selimut yang mendekapku, tubuhku menggigil tak karuan. Rasa-rasanya, aku ingin menangkap tatapan lelaki itu, atau telapak tangan ayahku. Hanya keduanya yang mampu memberi hangat.

Purandara.

Walau napasku sesak oleh air sungai yang masuk ke paru-paru, tapi aku bisa merasakan tangannya yang besar menarik tubuhku menjauh dari arus ganas. Purandara, sungguh, aku pun ingin segera membuka mata dan tak membiarkan kau berlama-lama mencemaskanku. Tapi cairan ini, menekan kesadaranku untuk tetap bertahan. Aku akan bangun. Tunggulah.

Aku terbatuk-batuk dan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia menghampiriku dengan tatapan cemas. Ia membantuku duduk dan mengusap punggungku. Kemudian ia memberiku segelas air putih segar. Aku minum pelan-pelan dan berterima kasih padanya.

“Aku baik-baik saja. Tidurlah lagi.”

Aku menggenggam tangannya. Semoga itu cukup meyakinkannya untuk kembali beristirahat. Aku bersyukur saat melihatnya tersenyum dan mengecup keningku. Ia kembali ke sofa besar di pojok kamar.

“Bagaimana kalau tidur di sini?” pintaku, tiba-tiba. Aku rasa aku membutuhkan itu. Ia berada di sampingku, menepuk-nepuk punggung tanganku. Kemudian ia akan tertidur duluan.

“Yah─ boleh juga.”

Ia bangkit dari sofa yang sudah didudukinya. Menghampiriku, membuka selimut dan ikut berlindung di baliknya bersamaku. Kami saling mendekap. Benar saja, aku merindukan tepukannya. Selang beberapa tepukan, ia tertidur. Sementara aku memejamkan mata walau tetap terjaga. Purandara, aku ingat namanya.

 

“Tenang saja, Love. Hari ini, Dave milikmu satu-satunya. Eh salah, milik kalian berdua maksudnya. Kau dan pendonormu. Semoga anak itu berada di taman yang indah sampai kau tiba untuk berterima kasih padanya,” kata Luile, perawat yang sedang sibuk mencatat kondisi tubuhku.

“Tolong bilang Dave untuk pelan-pelan dengan pisaunya. Love kita ini orangnya lembut sekali, kan?” Gadis kecil itu, yang bernama Sannaha itu, baru saja berkenalan denganku tadi pagi. Begitu tahu aku hari ini akan dioperasi, ia ngotot ingin menemaniku. Ia cukup dikenal di rumah sakit ini. Ya, aku tahu mengapa ia bisa seperti itu hanya dengan melihat caranya berbicara dengan Luile.

Sejujurnya, aku merasa sangat aneh ketika menyebut nama Sannaha. Aku seperti menyebut nama seseorang yang sama dengan namaku. Padahal tidak begitu. Aku merasa nama itu milikku.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat anak lelaki setelah kau makan? Barangkali ada yang tampan dan jatuh cinta padamu. Kau harus punya yang seperti itu setelah dapat jantung baru, kan?” celoteh Sannaha dengan bersemangat. Sulit dipercaya ia leukemia.

“Dia puasa, Sannaha.”

Luile mengacak-acak rambut Sannaha kemudian melangkah keluar dari kamarku.

“Kalau begitu, ayolah!” Sannaha menarik tanganku. “Sekali-kali tidak perlu pakai kardigan, Love,” kata gadis cilik itu lagi saat melihatku seperti akan meraih kardiganku.

“Baiklah.”

Aku pasrah mengikutinya. Kadangkala aku harus mempercepat langkahku agar tak terseret-seret olehnya.

“Pelan-pelan, Sannaha. Ia tak mau kau ajak berlari begitu!”

Seorang perawat jaga di depan pintu paviliun khusus lelaki menegur kami.

“Dia harus cepat sedikit kalau mau dapat jodoh!” seru Sannaha dengan wajah sok tahu. Aku mengacak-acak rambut tipisnya, seperti yang Luile lakukan tadi.

“Jangan berkeliaran di koridor, ya!” pesan perawat jaga itu. Sannaha mengangguk patuh sambil terus menarik tanganku.

Tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras. Cukup keras sehingga aku yakin bahwa Sannaha akan mendengarnya. Aku harus duduk dan menenangkan diri. Dadaku tak terasa amat sakit. Hanya saja, detaknya sungguh terlalu keras tak beraturan. Saat tanganku benar-benar hampir terlepas dari genggaman Sannaha, tiba-tiba gadis itu berhenti. Kami tiba di depan pintu sebuah kamar. Aku melirik papan namanya. Elang.

“Dia ini tampan sekali, Love. Ayo kita masuk. Aku akan memperkenalkanmu padanya.”

Baru saja Sannaha ingin menarik gagang pintu, seseorang keluar dari kamar itu. Seorang ibu. Seperti yang kupunya.

“Sannaha.”

Ia menyebut nama itu sambil melihatku kepadaku. Sekali lagi, aku merasakan nama itu adalah milikku.

“Hai, ibu. Kami mau masuk dan lihat Elang Merah. Dia ada, kan?” tanya Sannaha. Aku hampir pingsan. Jantungku berdebam. Aku seperti kehilangan separuh napasku.

“Dia sudah dibawa ke Dave. Sudah, ya. Ibu harus keluar sebentar.”

Ibu itu berlalu. Aku masih sibuk menenangkan jantungku yang masih bergemuruh.

“Hei, Love, kau dengar yang tadi itu, tidak?”

“Apa?”

“Ibunya Elang bilang dia sudah dibawa ke Dave. Kau ingat, kan, Luile bilang hari ini Dave hanya milikmu dan pendonor itu. Artinya─”

Tiba-tiba saja detak jantungku normal. Terasa sangat normal. Ia tak bergemuruh. Pendonorku? Si Elang ini? Aku refleks menoleh ke arah ujung koridor, mencari ibu itu. Tapi ia sudah menghilang.

“Kau pasti mau melihatnya, kan?” tanya Sannaha. “Ayo kita ke sana!” Gadis kecil itu sudah menarik tanganku lagi tanpa memberi kesempatan untuk mempertimbangkan apalagi menolak.

Sannaha.

Nama itu terus bergaung di kepalaku sepanjang perjalanan kami dari paviliun pria menuju ruang operasi. Seolah-olah itu namaku dan bukan milik gadis cilik ini. Bayangan Purandara kadang ikut bermunculan. Berganti-gantian dengan gaung nama Sannaha. Seperti Purandara yang memanggilku dengan nama itu.

“Love, kau baik-baik saja?” Kami sudah sampai di depan ruang operasi. Tapi di sana masih sepi dan tidak ada tanda-tanda ada yang lain kecuali mereka berdua.

“Aku tidak apa-apa.”

Sannaha.

                “Love, kau tidak apa-apa, kan?”

Sannaha, kau tidak apa-apa, kan?

                “Jawab aku dulu! Siapa sih namamu sebenarnya?”

“Sannaha.”

Aku menutup mulutku, tak menyangka bahwa jawaban itu yang akan keluar. Tadinya aku mengira Sannaha akan memprotes. Tapi ia hanya menatapku dengan tatapan mencemooh. Aku kebingungan.

“Kau capek, ya? Kita masuk ke sana saja yuk!”

Sannaha menuntunku masuk ke sebuah ruangan.

Awalnya aku pikir kamar itu kosong sampai aku melihat sosok itu. Wajahnya pucat seperti tak bernyawa. Seolah-olah ia hanya hidup karena sokongan alat-alat yang membelitnya. Aku mendekati tubuh itu, ingin mengamati wajahnya dari dekat sebab aku merasa mengenali─

“Purandara.”

Aku merasakan air mata meleleh tanpa bisa kucegah. Ia di sini. Terbaring kurang dari satu meter dekatnya denganku.

“Apa-apaan kau, Love? Namanya Elang.”

untuk Sannaha dan Purandara, dua jagoan keren di Citra Rashmi-nya Kang Tasaro GK. really love the story!! can’t wait for the second book >.<

[ Anime ] : Mononoke Hime

“You say you’re under a curse? So what? So’s the whole damn world.”

Princess_Mononoke_Japanese

The story starts with Ashitaka, the last prince of Emishi protects his village from a tatari-gami. Ashitaka kills the demon before it reaches the village, but unfortunately the demon give a curse to his right arm. The curse gives him a superhuman fighting ability but it will kill him soon. The village’s wise woman tells Ashitaka to find the cure to the west and see with eyes unclouded by hatred.

Heading to the west, Ashitaka meets Jigo, a monk who tells him to ask for a help from Shishigami, the giant deer who called The Forest Spirit. After saving life of two man who found injured in a river, Ashitaka meets San and her wolf clan. Ashitaka greets them, but being ignored. He brings the two man to an Irontown led by Lady Eboshi.

Ashitaka learns that Lady Eboshi built the Irontown by cutting the trees and make a conflict with the forest gods. The town is a refuge for social outcasts, including former brothel workers and lepers, whom Eboshi employs to manufacture firearms to defend against the gods. Ashitaka also finds out that Eboshi is responsible for turning Nago -the god who attacked Ashitaka’s village- into demon. Eboshi explains that San -the girl who lives with wolf clan- has a deep hatred to humankind and wants to kill Eboshi.

Soon after that San infiltrates the Irontown to kill Eboshi, but Ashitaka intervenes and makes them unconscious. A woman who her husband killed by a wolf shots Ashitaka and makes him bleeding but the curse holds him from dead. He leaves the Irontown with San and falls into unconsciousness because of the wound. San tries to kill him, but she stops it after Ashitaka call her ‘beautiful’ in his unconsciousness. San brings Ashitaka to the forest of Shishigami and starts to develop a deep feeling for him after the god saves his life. Ashitaka awakes and recognizes that the curse still exist.

Meanwhile, a boar clan led by Okkoto attack Irontown. Eboshi prepares for the battle and conspires with Jigo, who revealed to be a mecenary, to kill The Forest Spirit and give his head to the Emperor of Japan. According to legend, the god’s head can give immortality. San, who still have strong hatred over human wants to save Okkoto, The Forest Spirit and the forest itself while Ashitaka wants to stop the conflict between humankind and forest.

The film impresses me extremely. It affects me and leaves a strong memory. I have watched it several times and it still give me goosebumps. First time I watched it was in middle of a night. At first I felt a little bit afraid of the sounds from the forest where Nago being corrupted by iron from gunshot. But after some minutes, I felt better and can continued watching. Seeing the scenes, learning the story, and developing feeling for the characters; made me cry after the film ended. I can shouted boldly that I fall in love with this film T_T

Ashitaka, who is so tough, brave, and tender really touches me. San, with her ‘beautiful hatred’ also impresses me and gives me a chill everytime I remember her. I feel sorry for her, but also envy of her struggle for the forest. Even Lady Eboshi, who most people hates her because of her greed for power and wealth, I can understand her. What she has done to the people with lepers and poverty moves me. She helps them, gives prosperity and cheerfulness to their life. Actually I hate Jigo, but soon after I realize that he wants kill the forest spirit to protects his people, I can feel ‘really ok’ of him. And then I learn that Miyazaki made the characters as human as they are. I can’t say it better than that.

The central theme which is about relationship between humankind and earth really moves me. It’s really sad to know that human evolves and becomes more prosperous, but not the earth. It hurts from time to time because of human’s greed. I wish I can do something to at least not giving extra suffer to the earth. I wish we could live peacefully without harming the environment.

The film sountracks that composed by Joe Hisaishi are genius. They give extra ammunisions to shot me and make me die hundred times everytime I hear them. And the ending, it makes me sad at first and then I feel pleased later. It’s so touchy. I feel so warm inside. Yes, inside. Here.

source: wiki

breathe easy

i can’t dream yet another dream
without you lying next to me, there’s no air.
out of my mind nothing make sense anymore
that’s all i breathing for
oh
tell me why
i can’t dream yet another dream
there’s no air
no
why
i can’t breathe easy
’til you’re by my side
tell me
i can’t breathe easy
without you lying next to me
no air

haiiiish, udah lama nggak posting di mari. bingung mau nulis apaan, ya sudah ngetik aja yang kedengeran di kuping.

84 kata

sekali-kali, mumpung masih pagi

nampaknya jumat pagi yang sejuk dengan gerimis sisa hujan semalaman membuat lidah-lidah benakku meluncurkan kata. entah apa, yang berkejaran di kepala, tapi rasanya aku memikirkanmu. dalam hangat rangkulan sebuah mantel yang tak terlalu tebal, aku ingin menuangkan apa yang tak terkatakan itu. walau aku tahu mungkin tak terbaca dan bebal tanpa makna, tapi hujan kata itu ingin kutuliskan dalam tiap ketuk tuts keyboard hitam yang konon katanya masih baru ini. jempol yang menekan tombol space sambil tetap miring, suara orang-orang di sekitarku yang masih sedikit, dan suara-suara mereka yang berada di pikiranku.

apa kabar jia? puaskah kau dengan apa yang ku tuliskan untukmu? apakah keputusanku untuk mengembalikan chandra dan mengubah perasaan syano membuatmu nyaman?

apa kabar wanita pembaca berita yang belum bernama? masih inginkah kau keluar dari sel abu-abu? apakah kau akan tahan untuk melepaskan selimut lalu terbunuh tragis karena itu? perlukah adikmu kupinta membalaskan dendam? akankah kau merasa puas jika ketidaksiapanku padamu hanya akan menghasilkan halaman tanggung?

apa kabar dwi— dan mungkin ela? sampai kapan kalian akan saling salah paham? maafkan aku belum memikirkanmu sering-sering.

apa kabar rumi dan keempat temanmu yang aku lupa siapa nama mereka? semoga keberadaan teman-temanku membuatku bisa menyambung tulang-tulangmu yang patah. kuatkan aku untuk memberikanmu ruang yang banyak. karena kau adalah persembahan bagi mereka yang mencari dan mencintai.

tanpa mengurangi sedikit pun rasa sayangku, apa kabar kalian semua? yang hinggap dan pergi, yang kuharapkan akan kembali suatu saat nanti. maafkan mama yang tak bisa menjaga kalian untuk tetap tinggal sebelum akhirnya berhasil kulahirkan.

give me power.

*merem-merem sambil ngusap-ngusap tangan yang kedinginan*

Bukankah telah terlingkar masing-masing di lengan kita? Sebuah benang merah panjang yang tak terlihat namun diam-diam menghubungkan kita lewat doa akan teman sejati yang tanpa nama. Lalu suatu waktu kita akan merasakan bahwa benang itu tak lagi mengikat dengan kencang. Ia akan terulur longgar, yang menandakan bahwa sang teman sejati telah mendekat. Dan saat itu telah tiba masanya. Pertemuan.


a note for ms. novaliantika who will ‘meet’ her eternal friend soon. congrats! 😀