tahukah kau, neraka sepi hari ini
isinya luruh membebani jantungku

aku kerontang hari ini,
mungkin setitik bintang-Nya menetesiku

kau merasuki aku, adam
mengurungku seperti singa, bermahkota
kilau emas dan taburan permata
mengunyahku seperti kutu, bertahta
di atas cahaya, membara

udara selihai sutra menyeringai,
menyemai benih,
menumbuhkan cemara
yang lamban terbangun di dalam rahimku

neraka sepi,
isinya turun membunuh teman baikku

asing

kita menangis, di hari mereka bernyanyi
dan kita palingkan wajah ke langit
selagi mereka memandang hina kepadanya

karena kita lemah,
karena kita asing

kita menangis, kita berdoa
di hari mereka bernyanyi dan bermain

kita bawa luka kita yang berdarah nanah
dan kepada kaki langit yang tak terlihat,
kita melayang, diundang

kita adalah,
kelompok kecil anak-anak yatim

kita terbungkus,
oleh pekat limbah hitam tahun demi tahun

dan kita tetaplah asing

 


baris demi baris di atas adalah sebuah terjemahan bebas dari puisi berjudul “Ghorabaa” karya Samih al-Qasim

Untuk Ibu

assalamu’alaykum, Ibu
aku tahu neraka sedang membara, dalam
batinmu tergambar lewat serak suara
dan gemetar jemarimu

tapi ibu, di luar sana
yang mencinta bergelantung
di atas pepohonan kokoh watakmu
menunggu tiupan napasmu, menggoyang
menjatuhkan mereka, mesra
ke genangan di pinggir jalan, usai
hujan di ujung november

dan aku akan selalu berdiri, dekat
mencari cara merasa hangat

cerita berdinding semesta

Aku tak
ingin mendengarkan waktu
kau datang
ke serambi rumahku.
Hujan
tak kunjung reda dan dipanku
menyejuk. Kau mengerti,
kan?

Tapi
ketujuh laron yang mengelilingi
lampu kamar memaksaku
keluar
dan mengambil air di dalam baskom.
Demi
ketaksukaanku kepada
mereka, kita
terpaksa bertemu. Bukan
untuk bertukar pandang apalagi
berjual beli.
Kita hanya
ada di ruang yang sama, merasakan
kehadiran satu sama
lain dan tak
pergi untuk rentang
waktu yang tak
lama. Lalu

berpisah, saat

kau berhenti

berpikir dan

aku berhenti

ada.

Oh, kau yang terlelap di negeri nun jauh di sana,
tutuplah matamu, dan akan kau dengar
nyanyian lembut menggelitik udara

bumi memberi maaf, dengan cahaya kekal
yang menyirami lumpur yang mencemar

untuk hidup dan percaya,
kekuatan bersemi dari keduanya

Oh, bukalah matamu, dan akan kau lihat
biarpun jauh jarak kita terpisah,
langit hangat akan mengikat erat.