Akuntan: KAP atau Perusahaan?

Ekhemm. Pada suatu hari temen-temen kampus gua pada bergerombol di deket meja dosen intermediate gua. Salah satu temen kampus gua ada yang belum ngumpulin tugas. Dia tanya ke dosen boleh gak tugasnya itu dikirim via kurir ke alamat kantornya si dosen. Dosen gua setuju. Dia mencatat sebuah alamat. Umm, di BEI Tower. Terus temen-temen gua serempak pada riweh gitu, dan terjadilah sebuah dialog:

Beberapa teman: “jangan-jangan bapak kerja di……”.
Di detik itu gua bilang: “bursa efek!”
Tapi ternyata temen-temen gua bilang: “iway!!”
Dengan bodohnya gua bilang: “apaan tuh iway?”
Dengan takjub teman gua bilang: “hah, lu gak tau iway?”

Dan semakin bingung lah gua. Siapa (apa) gerangan iway ini?

Teman gua bilang lagi: “Ernst & Young. Salah satu KAP terbesar di dunia”

Ooooooh, Kantor Akuntan Publik toh. Kirain Ernst & Young itu semacem merk baju terkenal gitu. Ternyata KAP.

Continue reading

Goodwill, Amortisasi dan….. Cinta

Suatu hari di Gandaria City, duduklah 2 orang sahabat.

…..

#SahabatSatu :

Jadi, investasi dalam saham itu ketika terjadi akuisisi mencakup 3 hal:

Pertama, penentuan biaya perolehan.

Kedua, alokasi kelebihan biaya perolehan pada aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi.

Ketiga, akuntansi untuk goodwill

#SahabatDua :

Bentar deh, alokasi kelebihan biaya perolehan itu maksudnya gimana sih? Gue lupa deh.

#SahabatSatu :

Gini lho, dalam mengakuisisi suatu perusahaan ada 3 macem hal yang harus clear dulu. Ada biaya perolehan, ada nilai buku, ada nilai wajar. Ketiga hal ini boleh jadi berbeda nilainya karena emang mereka adalah tiga hal yang berbeda.

Biaya perolehan, adalah segala daya upaya yang lu lakuin buat mendapatkan perusahaan yang lu akuisisi tadi. Nilai buku, adalah nilai yang tercatat mengenai perusahaan itu. Dan nilai wajar, adalah nilai sebenarnya dari perusahaan itu.

Misalnya gini, lu mau mendapatkan seorang lelaki. Nilai buku dari lelaki itu adalah…. dia ganteng. Dan lu mengeluarkan banyak usaha untuk mendapatkannya. Usaha lu itu banyak banget. Mulai dari cari tau tentang dia, kenalan, nraktirin temen-temennya, berkonsultasi dengan temen-temen lu mengenai kelanjutan hubungan lu sama dia, dll. Itu semua masuk ke biaya perolehan. Sedangkan yang namanya nilai wajar adalah nilai sebenernya lelaki yang lu deketin itu. Tau-tau selain ganteng, dia juga pinter, kaya, atau bahkan artis! Mungkin aja kan? Nah itu nilai wajar.

Antara biaya perolehan, nilai buku dan nilai wajar itulah sangat mungkin banget ada perbedaan. Biaya perolehannya 1 milyar misalnya, tau-tau nilai bukunya 800juta. Dan nilai wajarnya 900juta. Beda kan?

Selisih antara biaya perolehan dan nilai buku itu harus lu alokasikan pada aktiva dan kewajiban yang nilai wajarnya beda sama nilai bukunya. Caranya, setiap selisih yang terjadi pada nilai wajar dan nilai buku aktiva dan kewajiban itu lu kaliin persentase kepemilikan lu.

#SahabatDua  :

Oke, udah kelar nih gua alokasi-alokasiin. Tapi kok masih selisih ya. Masih ada 100juta nih yang gua gak tau apaan.

#SahabatSatu :

Nah, itu yang namanya goodwill. Nilai lebih dari biaya perolehan yang keluarin dengan total selisih-selisih nilai wajar dan nilai buku yang udah lu itung tadi.

Jadi ketika lu udah menginventarisir kecerdasan, kekayaan, kebaikan hati lelaki ganteng itu tadi; masih ada satu hal aneh yang tidak teridentifikasi. Yaaa, bisa gua ibaratkan goodwill ini dengan… cinta. Cinta beda kan ya sama kebaikan hati?

Lu enggak pernah bisa memegang atau melihat cinta itu, tapi lu ngerasain kan? itu jadi aset konsolidasi hati antara lu dan dia kan? Nah, itulah cinta. Itulah goodwill. Dan itu harus diamortisasi setiap tahun.

#SahabatDua :

Hah, diamortisasi?

#SahabatSatu :

Ya, kayak aktiva macem rumah dan bangunan. Goodwill juga harus diamortisasi. Lu kan gak pernah bisa ngeliat si goodwill ini. Masa lu mau mengakui sesuatu yang gak bisa lu liat sih? Sisihkanlah uang lu sebagai alokasi penyusutan alias amortisasinya.

#SahabatDua :

Oh, oke. Berarti kurang tepat dong kalo goodwill kita ibaratkan dengan cinta. Kalo cinta kan semakin hari semakin bertambah.

#SahabatSatu :

Yakin lu, bahwa cinta sudah pasti akan bertambah semakin hari? Kan lu gak pernah liat cinta itu. Okey, lu mungkin masih liat lelaki yang ganteng tadi itu baik. Tapi apa itu bisa diartikan dengan cinta? Atau okey, setelah beberapa tahun lu liat nih lelaki kurang perhatian. Terus lu bisa bilang dia udah gak cinta? Gak bisa gitu dong. Perkara perasaan itu yang tau cuma Alloh. Maka, sebagai antisipasi lu harus menyisihkan beban amortisasi atas cinta rrr… goodwill itu.

Kenapa amortisasi ini penting? Karena ketika lu sudah bertahun-tahun menikmati kebersamaan dengan lelaki tadi, dan lu sudah mengalokasikan beban amortisasi; jika kemudian lu menghadapi kenyataan bahwa lelaki tadi udah gak cinta lagi sama lu, lu gak akan over-shock terus pengen bunuh diri. Lu bisa bangkit dengan tegak dan move on. Karena lu paham bahwa sangat mungkin cinta akan memudar.

#SahabatDua :

Yahh, pesimis banget dong..

#SahabatSatu :

Gak juga lah. Rumah aja ada beban penyusutannya. Padahal kan rumah nilainya naek terus. Sama ama goodwill err…. cinta. Jadi walaupun kita udah mengalokasi beban amortisasi atas cinta lelaki itu terhadap kita, tapi jika memang ia tetap cinta dan mau bersama kita ya bagus kan? Gak usah dipusingin. Kita pun akan hidup bahagia!

———

Demikianlah diskusi antara 2 sahabat tentang goodwill, amortisasi dan….. cinta.

Curhat Mahasiswa KK

Gila, gua udah ujan-ujan di motor, macet banget pula. Pas sampe kampus, dosen gak dateng. Dem!

Berdiri 2 jam di transjakarta, desek-desekan, lari-larian karena udah jam 5. Pas sampe kampus dosen cuap-cuap 5 menit, cengangas-cengenges, dan ngomong ‘udah ya, kita pulang aja’. What??!!

Jalan kaki pake payung, kaus kaki udah basah kuyup kena genangan air. Setengah jam di kampus, cuma gua sama dosen yang dateng. Krik-krik.

Jam 23.56 kirim email tugas kelompok ke dosen. Sementara itu, temen sekelompok lagi pada tidur nyenyak atau malem mingguan di tempat lain. Hoaaaahmm

Kalo posisi kita ada di antara 4 statement itu, apa sih yang dirasain? Gua sih pasrah. Well, beginilah resiko jadi mahasiswa kelas karyawan. Mungkin ada banyak orang yang menganggap kondisi mereka udah sustain, jadi kuliah memang cuma untuk mempermudah kenaikan jabatan aja. Kami paham itu. Tapi ada sebagian lagi yang macem statement ke-4 di atas. Pusing mencoba ngertiin makna 1 soal di modul yang tebelnya amit-amit, dengan otak gak seencer anak PTN, dengan otak sisa kerja.

Bagi universitas mungkin bisa dengan gampangnya bilang “begini memang situasi di sini, kalo gak cocok silakan pindah”. In fact, pernyataan itu bener. Kita bayar berapa sih emang? Ngapain mau nuntut yang bagus? Mau belajar dengan benar? Mehhh. Pindah sono.

Bagi mahasiswa, ada yang lebih memilih bilang “guys, titip absen ya. gua lagi mutung. males kuliah”. In fact, ya terserah juga. Urusan dia. Mungkin semua ini terlalu melelahkan baginya. Rrr.. Dia udah kerja, dia udah jauh lebih pinter mungkin. Duitnya banyak, mungkin. Jadi ya itu bukan urusan.

Tapi ya itu tadi, ada temen gua yang lucu-lucu, rajin-rajin dan pinter-pinter! Ada juga yang rajin ngegambar ampe stress walaupun duitnya banyak. Gua suka malu kalo males-malesan.

Yaudah deh, gua cuma menuangkan gagasan. Tentang satu sudut di dunia pendidikan kita (duileee). Sudut yang jarang dilihat, tapi nyata teraba.

*buat dimana saja mahasiswa kelas karyawan berada. choose your way responsibly!

Things to remember: Cash Flow

Kontennya cash flow statement ini ada 3:

1. operating activities: kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan operasi dan biasanya determining net income. oh iya, hal-hal macem beban depresiasi, keuntungan dari penjualan investment dan penambahan jumlah piutang juga masuk disini lho. Wajib direkonsiliasi tuh.

2. investing activities: termasuk di dalamnya adalah beli aset, penjualan investment (bukan keuntungannya ya).

3. financing activities: meliputi (a) mendapatkan sumber daya dari pemilik dan provide mereka laba atas investasi mereka, dan (b) meminjam uang dari kreditur dan membayar jumlah yang dipinjam.

Sumber informasi penyusunan cash flow statement;

1. balance sheet (yang comparative)

2. income statement

3. data transaksi yang dipilih

Tidak semua laki-lakiiiiii  #eh aktivitas perusahaan terkait dengan cash. Bisa juga tidak. Berikut contoh-contohnya:

1. Penerbitan common stock untuk membeli aset

2. Konversi obligasi menjadi common stock

3. Penerbitan utang untuk membeli aset

4. Pertukaran aset jangka panjang

*kayak barter (nuker) gitu deh istilah gampangnya.

Nah, non-cash significant activities ini cukup dicatat tersendiri di bawah cash flow statement.

Things to know: Accounting Information System (Sistem Informasi Akuntansi) … cont’d

Karena kadang-kadang lupa dan keder, ada baiknya juga kita buat summary mengenai sistem informasi akuntansi.

Dalam sistem informasi akuntansi, kita harus paham tentang 4 hal yang menjadi dasar:

1. Basic terminology (terminologi dasar)

2. Debits and credits

3. Accounting equation (persamaan akuntansi)

4. Financial statements and ownership structure (laporan keuangan dan struktur kepemilikan)

—–

3. Accounting equation (persamaan akuntansi)

Dalam sistem double-entry, untuk setiap debet harus ada kredit, dan sebaliknya. Kemudian ini menuntun kita kepada persamaan dasar akuntansi.

Dari persamaan dasar tersebut, didapatkan lah persamaannya yang udah diexpand:

Things to know: Accounting Information System (Sistem Informasi Akuntansi) … cont’d

Karena kadang-kadang lupa dan keder, ada baiknya juga kita buat summary mengenai sistem informasi akuntansi.

Dalam sistem informasi akuntansi, kita harus paham tentang 4 hal yang menjadi dasar:

1. Basic terminology (terminologi dasar)

2. Debits and credits

3. Accounting equation (persamaan akuntansi)

4. Financial statements and ownership structure (laporan keuangan dan struktur kepemilikan)

—–

2. Debits and credits

Langsung sajah…