[ Kata ] : Lain Kali

Aku boleh saja meraung di pelukan ayahku atau mengurung diri di kamar sepanjang hari itu.
Tapi aku memilih menjadi sewaras biasanya, bahkan lebih daripadanya.
Aku menjadi lebih waras sampai aku pun merasa
tak pasti, masih waraskah kewarasan sewaras itu?

Jadi aku membiarkan otak pencipta persepsi di kepalaku beraksi,
memberiku imajinasi bahwa keruntuhan di dada ini tidak sebesar yang kakakku tangisi.
Bahwa semua ini adalah keindahan dari Yang Kuasa. Dan aku mensyukurinya,
bersedih secukupnya dan menjadi kuat tak seperti biasanya.

Aku tahu waktu itu aku tegar. Tapi lain kali,
di antara hari-hari yang mungkin lebih buruk dari hari itu,
di antara malam-malam di mana otak pencipta persepsi tak mampu beraksi,
atau saat kewarasan mengering menjadi debu.

Maukah kau berjaga? Tanpa memapah pun tak apa.
Karena aku ingin, menangkapmu di saat yang sama.
Biarpun aku tak pandai mencinta.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s