[ Cerita ] : Orang – Orang Kolong

Langit biru cerah menggantung di atas Kali Ciliwung. Tapi kami menatapnya dengan sangsi. Ini kan bulan ‘ber-ber-ber’, bulan-bulan hujan sering turun.

“Kenapa?” tanya salah satu teman kami. Jemarinya sibuk memainkan rokok.

“Bogor hujan.”

“Oh.” Teman kami itu memasukkan rokok tadi ke saku kemejanya. Kemudian dia berdiri.

“Saya beli minuman deh. Mau?”

Kami merogoh kantong celana dan mengeluarkan satu-satunya lembaran uang lima ribuan. Kami memberikan uang itu kepada yang tadi menawarkan diri. Uang itu untuk beli beberapa kaleng bir yang nantinya akan kami campur dengan air putih.

Anda menatap kami sebal dan bingung. Sambil menutup hidung atau menahan napas untuk menghalangi bau sampah tercium, Anda menatap kami jijik.

“Miskin, tidak punya rumah, tapi bisa-bisanya malah membuang uang untuk beli bir.” Itu yang Anda pikirkan.

Anda pikir kami tidak tahu ya? Kami tahu. Anda yang tidak tau bahwa miras itu membantu kami tetap hangat saat air kiriman dari Bogor menggenangi tempat tidur kami di bawah sana. Malam-malam.

Entah siapa yang memulai kebiasaan itu. Tapi itulah yang (akan) terjadi. Seorang perempuan akan mengedarkan sebuah gelas yang kami pulung. Isinya campuran bir tadi dengan air bersih yang dia dapatkan dari saluran air ledeng milik toko buku dekat jembatan.

Ketinggian air mulai menaiki badan Ciliwung. Ujung gorong-gorong yang kami jadikan MCK sudah digenangi air selutut. Kami mulai memindahkan barang-barang penting ke atas. Kain-kain sarung yang menjadi batas ruang antar keluarga kami lipat. Barang hasil pulungan seharian kami angkut dan tempatkan di dalam gerobak. Salah seorang anak kami yang sedang meriang kami pindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Yah, tidak terlalu tinggi juga. Hanya sekitar sepuluhย senti dari air. Tapi itu juga lumayan.

Lalu datanglah air Bogor yang banyak itu. Kami berdiri, dan ada juga yang berjongkok. Istri kami menyelimutkan kain lusuh ke atas tubuh si anak sakit. Bir dan campuran air diedarkan dan kami teguk pelan-pelan. Awalnya terasa dingin di tenggorokan tapi kemudian tubuh kami menghangat.

Hujan baru turun di atas kami. Air yang datang tambah banyak. Anak kami yang sakit mulai mengigau. Rembesan air dari jembatan di atas kami menetes turun ke dahinya. Istri kami mengelap air itu. Dia ingin memindahkan anak itu tapi bingung juga mau ke mana.

Hujan semakin deras di atas sana. Langit gelap karena memang sudah maghrib. Sekitar kami gelap. Hanya sedikit cahaya kuning lampu jalan masuk ke sini. Si anak sakit tidak lagi mengigau dan mulai bernapas tenang. Sangat tenang.

Jam demi jam berlalu. Kami mengobrol. Ada yang tidur. Ada yang main kartu. Hujan masih deras. Kira-kira dua jam sebelum pagi, istri kami menepuk bahu.

“Anak itu sudah tidak bernapas.”

Kami menatap setitik air di sudut mata istri kami. Hujan mulai berhenti di atas sana. Kami tahu beberapa jam lagi air akan berkurang dari samping tempat tidur kami. Anak itu barangkali beruntung. Tempatnya nanti mungkin lebih dari sekedar kolong.


460 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s