[ Cerita ] : Ditagih Pagi

Kepalaku sudah mulai panas saat file Microsoft Word itu terbuka. Benar saja, warna merah di mana-mana. Kalau pekan lalu merah hanya muncul di sepertiga paragraf-paragrafku, sekarang lebih parah. Aku bahkan sudah tak tahu lagi mana yang benar karena terlalu banyak coretan di sana-sini. Belum lagi balon-balon gendut yang memenuhi sisi kanan file. Benar-benar merusak mata.

Setelah seluruh warna merah itu habis aku pelototi satu per satu, akhirnya aku kembali ke halaman pertama. Mencermati tiap coretan, membaca baik-baik balon-balonnya dan memikirkan kata-kata apalagi yang harus dituangkan ke situ sebagai gantinya.

Tiba-tiba angin dingin menyentuh bahuku. Rambut-rambut kecil di sekitar tengkukku berdiri. Aku menoleh ke belakang. Langit dini hari yang tadi diterangi bulan setengah lingkaran berubah. Samar-samar aku melihat cahaya kilat di kejauhan. Nyawaku tinggal sedikit.

Aku menatap layar lagi. Baru dua paragraf yang berhasil diperbaiki. Aku menaikkan konsentrasi hingga dia mendidih di kepalaku yang kedinginan. Dengan cepat, tanganku mengetik sementara otakku berputar dan mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Tiap kata dan tiap kalimat mengirimkan darah dari seluruh tubuhku ke hidung. Aku mimisan.

Di belakang sana, aku bisa merasakan awan kelabu bergulung-gulung. Kilat yang tadi baru cahayanya saja yang kelihatan mulai memperdengarkan suaranya. Sementara itu, darah terus meleleh dari lubang hidungku dan mulai menetes ke atas papan ketik.

Saat tiga perempat balon terselesaikan, hujan mulai turun satu-satu. Mereka tadinya hanya berupa titik-titik kecil di atas telapak tanganku lalu berubah menjadi genangan di atas meja. Papan ketikku jadi tidak enak ditekan. Di atas sana guntur menggeram berkali-kali sebelum berubah menggelegar. Mereka bersahutan, bergantian membelah langit dan menyambar pepohonan di sekitarku. Gosong.

Sebentar lagi pagi. Kilat menyambar pohon di samping kananku. Pohon itu tumbang dan hampir menimpaku. Di ujung timur sana cahaya redup muncul setitik. Mati aku.

Hujan masih terus mengguyur. Mengubah bibir merahku menjadi ungu lalu biru. Jari-jariku sudah sekaku kayu. Satu paragraf terakhir menunggu.

Waktunya habis.

Burung bertengger di bekas gosong pohon tadi. Dia bernyanyi pelan. Hujan berubah menjadi gerimis tapi darah dari hidungku tak akan berubah menjadi kental.

Di belakang sana, Sang Ratu mencoba menghangati punggungku. Lalu aku terlanjur mati.


341 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s