[ Cerita ] : Rei dan Mika

Pria itu menarik tangan kiriku. Dengan tergesa-gesa, ia mendorong pintu kaca kemudian berlari. Aku menoleh ke belakang. Lobi hotel yang baru saja kami tinggalkan terlihat biasa saja. Orang-orang berlalu lalang dengan tenang. Ada wanita bersetelan jas dengan rok berwarna kelabu berlari, tapi sepertinya ia hanya terlambat menghadiri rapat. Tidak ada yang memperhatikanku– maksudku, kami.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

Tapi pria itu bahkan tak menoleh. Dia tetap berlari kencang. Sementara kaki kecilku berulang kali terantuk trotoar jalan. Sekali lagi aku menoleh ke belakang. Hotel itu sudah tertinggal jauh.

Tiba-tiba pria itu berhenti. Aku menubruk tubuh gempalnya. Baru dia menoleh, melepaskan pegangan tangannya dan berjongkok. Kepalanya jadi sejajar dengan daguku.

“Dengarkan aku, Rei.” Sekarang kedua tangannya mencengkeram bahuku.

“Tapi–”

“Mayat yang kau lihat tadi adalah Tuan Al. Aku menyumpal mulutnya tepat sebelum Nyonya Al datang. Les menusukkan jarum itu dengan gerakan yang efisien, seperti biasanya. Kau tidak perlu khawatir. Polisi baru akan menemukannya lima belas menit lagi. Tapi saranku, segera temui nenek kalian dan bersiaplah untuk berangkat. Kalau Mika bertanya sesuatu, katakan saja kau kena demam dan tidur semalaman. Mengerti?”

Tangan kiriku berkedut. Tapi pria itu tidak menyadarinya. Dia berdiri dan sibuk mengusap kaca jam tangannya. Kemudian kepalaku pening. Setiap sel di otakku berebut mencerna kalimat-kalimatnya.

“Anu–.”

Pria itu menoleh. “Kau masih di sini? Cepat temui nenekmu!”

“Baiklah. Tapi, kenapa aku tidak boleh menceritakannya kepada Mika?”

Pria itu menatap mataku, memeriksa kedua bola mataku dengan seksama.

“Kenapa kau menanyakan itu? Apa dia tahu sesuatu?”

Aku tergagap. Tangan kiriku kembali berkedut. Aku berusaha menghentikannya.

“Mungkin.”

“Kalau begitu, aku harus menyuruh Les ke sana dan menghabisinya. Kau ikut aku.”

Pria itu menarik tanganku lagi. Dia berjalan cepat-cepat. Dan sebelum aku sempat mengatakan apapun, kaki-kaki kami sudah masuk ke dalam sebuah taksi.

“Les, Mika tahu sesuatu. Habisi dia.” Pria itu berbicara dengan ponselnya.

“Tunggu!” seruku. Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokanku tercekat ketakutanku sendiri yang terasa menggumpal di situ.

“Ada apa?”

Aku berpikir keras. Apa yang harus aku katakan? Jika Les ke sana, dia akan segera sadar bahwa bukan Mika yang ada di rumah itu. Aku harus menghentikannya. Saat sebuah kalimat hampir keluar dari mulutku, tiba-tiba pria itu menggenggam tangan kiriku yang berkedut.

“Kau bukan Rei.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s