Karena aku harus menyatakannya

Aku tidak menyukaimu. Tapi saat aku sedang menulis puisi, aku teringat dua patah kata. Kata menjadi larik,  larik menjadi bait. Sungguh, aku suka puisimu.

Tapi kemudian aku sadar, aku belum menyatakannya. Kau belum tahu  betapa aku menyukai puisimu yang itu.

Jadi aku pergi mencari rumahmu. Demi itu, aku berjalan kaki berminggu-minggu. Dan untungnya, kesialan terlalu sibuk untuk sekedar membuatku kecewa.

Saat aku sampai di rumahmu,  aku mengelilingi tiap tembok dan mencari puisi itu. Ternyata kau menggoreskannya di tembok belakang, dekat taman kecil tempat anakmu bermain. Aku membacanya.

“Kau sedang apa?” sapamu.

“Aku sedang mengagumi puisimu.”

“Lalu?” tanyamu.

“Aku harus menyatakan…”

“Betapa kau menyukainya?” potongmu.

Aku terperangah. Kemudian aku ingat sepotong adegan di tempat itu, beberapa waktu sebelumnya. Aku sudah menyatakannya. Padahal aku ingin sekali melakukannya lagi.

“Oh, andaikan tamak diperbolehkan.”

2 thoughts on “Karena aku harus menyatakannya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s