sore, di sebuah hari (yang seharusnya) hujan

Aku melangkah masuk,
menahan mulut untuk tidak tertawa
hingga tiba saatnya.

Wajah yang tergesa itu
berubah heran dan ledak tawa
terlalu hebat untuk kupaksa diam.

Kemudian
masing-masing tangan kita
menggenggam
teh tawar dingin dan cokelat hangat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s