[ 2 ] : Makan dan Jajan

Matahari baru muncul sedikit waktu kereta sampai di stasiun Tugu. Tanpa perlu bersusah payah, aku sudah melihat temanku clingak-clinguk mencariku di dekat pintu keluar stasiun. Setelah bercipika-cipiki dan sambil berhahahaha sejenak, kami pergi meninggalkan stasiun menggunakan sepeda motor milik temanku.

Udara pagi saat itu sangat segar, khas udara kota minim polusi. Perut yang kelaparan akhirnya membuat kami terdampar di Warung Gudeg Bu Amad, sebuah tempat makan yang cukup terkenal di Jogja. Buktinya, waktu itu belum pukul setengah 6 pagi tapi tempat ini sudah ramai didatangi para pemburu sarapan gudeg. Di sini, aku memuaskan kekangenanku dengan gudeg dan daging ayam kampung yang lembut. Dibandingkan dengan gudeg lain, menurutku rasa gudeg di tempat ini adalah yang paling cocok di lidahku. Gudegnya yang tidak terlalu manis, nasinya pulen tapi tidak terlalu lembek, dan tekstur daging ayamnya lembut sekali. Porsi dan harganya pun pas, tidak mahal dan sangat worth it dengan kepuasan yang dirasa. Enak. Sayang sekali aku tidak sempat memotret karena waktu itu benar-benar lapar. Begitu pesanan datang, aku langsung menandaskannya tak bersisa. Kami bahkan tidak saling mengobrol saking ‘khusyuk’nya. Setelah menyelesaikan urusan sarapan pagi, kami melaju menuju rumah temanku itu dan beristirahat.

Sekitar pukul 11 siang, kami mulai lapar. Kebetulan waktu itu temanku ada janji bertemu dua kawan lamanya dan mereka sepakat untuk makan siang di Mie Ceker Bandung. Lho, ini kan Jogja, kok makan Mie Ceker Bandung? Ya, tak apa dong. Mie Ceker Bandung ini setahuku memang ada di mana-mana, di Jakarta pun ada. Tapi Mie Ceker Bandung yang kami datangi juga istimewa. Ia berada di sebuah rumah antik dengan interior yang cantik. Rumah antik ini juga berfungsi sebagai tempat penginapan. Sebagai menu makan siang, aku memesan mie ceker dan temanku mie ayam rica-rica. Rasa mie cekernya enak, porsinya juga pas buatku, sayang cekernya kecil-kecil. Tapi aku naksir mie ayam rica-rica pesanan temanku. Rasanya lebih nggak biasa dibandingkan dengan mie ceker yang cenderung konvensional. Enak banget. Next time pesan itu aja berarti.

Tak lama setelah pesanan kami habis, barulah teman-teman temanku (yang sekarang tentu temanku juga, hehe) datang. Mereka memesan nasi goreng dan mie ayam ceker. Senang sekali bisa berkenalan dengan mereka. Mereka seru dan riuh, cocok denganku. Dari cerita-cerita mereka, aku mengenal istilah darah murni, half bood dan mud blood. Tentunya ini istilah karangan untuk lucu-lucuan saja. Dan karena obrolan kami tentang tiga macam darah itu belum selesai, kami melanjutkan obrolan di Kalimilk. Kalimilk adalah sebuah tempat makan (dan nongkrong) yang menjadikan susu sebagai penganan utama. Semua menu di sini mengandung susu atau produk olahannya. Setelah menunggu antrian kira-kira setengah jam, kami akhirnya memesan kalimilk strawberry, hazelnut, coffee, bubble gum, kentang goreng dan mashed potato dengan mayonais. Dari keempat minuman itu, menurutku yang paling enak adalah hazelnut. Temanku yang penyuka kopi tentu memilih yang coffee. Sedangkan untuk yang strawberry dan bubble gum menurutku rasanya biasa saja. Sedangkan untuk kedua cemilan, rasanya juga seperti kentang goreng dan mashed potato di tempat lain. Tapi rasanya kalau ke Jogja lagi, aku tetap datang ke sini karena tempatnya enak untuk santai dan ngobrol dengan teman-teman. Selain itu, aku memang penyuka susu dan akan selalu excited dengan tempat makan berbau susu. Demikiaaaaan..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s