kardus merah (dari dan untuk ibu)

Gadis itu membuka kardus merah di hadapannya. Dua kaleng besar biskuit, satu kotak egg roll dan sebotol sirup rasa jeruk berbinar di sepasang matanya.

“Tinggal minyak goreng, kain dan mukena. Hehehehe.”

Wajah gadis itu sumringah. Dia menutup lagi kardus merah itu dan mengambil lakban. Bunyi lakban yang ditarik dari gulungannya terdengar cempreng, tapi di telinga gadis itu seperti bunyi terompet di tahun baru. Semarak, semarak, semarak.

“Hei, coba ke sini sebentar!” panggil seseorang dari ruang sebelah.

Si Ibu, memberinya isyarat untuk ikut masuk ke ruangannya.

“Kapan pulang?” tanyanya pada gadis itu. Sementara itu tangannya seperti meraih sesuatu dari laci besar meja kerjanya.

“Malam takbiran, Bu.”

“Oh. Nih, buat ibumu. Sampaikan salam saya, ya!”

Si Ibu mengulurkan satu stoples penuh kue almond. Mata gadis itu langsung berkilat-kilat.

“Beneran buat saya, Bu?” tanyanya, sekedar menenangkan diri dari keterkejutan.

“Bukan. Kan saya bilang buat ibumu.” Si Ibu berpura-pura berwajah kesal, tapi kemudian terkekeh melihat perubahan ekspresi gadis itu.

“Ah, iya! Itu maksud saya, Bu.”

Gadis itu tersenyum riang, lalu undur diri dan kembali kepada kardus merahnya. Dia membuka kardus itu dan memasukkan kue almondnya dengan penuh semangat. Terbayang olehnya wajah senang ibunya nanti saat melihat kue almond ini. Ibunya suka sekali kue almond. Dan kalau sampai beliau tahu bahwa Si Ibu yang memberikannya, tak terbayang semakin bernilainya kardus merah itu. Senyum ibunya akan mengembang. Senang, senang, senang.

Keesokan harinya, gadis itu berjalan terburu-buru menuju ruangan di mana kardus merahnya berada. Tangan kanannya memeluk plastik berisi kain dan mukena, sedangkan tangan kirinya menenteng minyak goreng. Dia membuka pintu ruangan itu dan menyalakan lampunya. Dalam sekejab, ruangan terang benderang. Namun dalam sekejab itu pulalah senyum di wajahnya berubah menjadi kerut samar di antara kedua ujung alisnya. Kardus merah itu tak di sana. Raib, raib, raib.

—-

Oh dinda, bukan hilangnya

yang membuat sengsara.

Tapi angan atasnya

yang meniupkan angin hampa

di relung dada, saat dia tak ada..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s