Gadis kecil itu datang lagi. Ia melangkah cepat-cepat memasuki gerbang tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri seperti pada kedatangan sebelumnya. Aku turun dari singgasana baruku yang terbuat dari batu pualam. Singgasana itu ‘pemberian’ nenek kaya raya yang sering datang mengunjungi suaminya beberapa hari sebelum ia juga pindah ke sini.

“Tuan!”

Aku mendarat di pinggir kolam. Ujung jubahku terhempas di permukaan kolam dan membuat air dingin yang memenuhi kolam tumpah ke tanah dan mengenai sepatu jelek gadis kecil itu.

“Ada apa lagi?”

“Mengapa ia begitu murung, Tuan?” Gadis itu menatapku tanpa gentar. Kurang ajar sekali. Padahal kepalanya sudah ku buat gundul. Tapi ia masih punya kepercayaan diri yang sama.

“Lalu, kau mau meminta kembali rambut hitammu? Bukankah sudah kukatakan itu bukan jaminan? Itu adalah konsekuensi, harga yang harus kau bayar.”

“Tapi aku tidak pernah meminta agar ia menjadi begitu sedih. Ia terlihat menderita.”

Aku berdecak tak sabar. Gadis kecil ini bodoh sekali. “Tapi ia di dekatmu, kan?”

“Ya, tapi aku tak bisa melihatnya seperti itu.”

Dasar manusia. “Kali ini, apa yang kau tawarkan?”

“Apapun, asalkan dia bahagia.”

Bodoh. Dia pikir, dia tahu apa yang dia katakan? “Kau jelek sekali. Satu-satunya yang bagus hanya rambut itu, yang sudah kau berikan waktu itu.”

“Apapun, Tuan.” Matanya masih sejernih malam. Aku bisa mati melihat mata itu. Ah, aku punya ide.

“Matamu.”

Kali ini mata itu berkedip.

“Aku tak akan bisa lagi melihatnya.” Ia goyah. Ada sesuatu bergetar dalam dirinya. Kalimat itu lebih menyerupai pertanyaan daripada pernyataan.

“Ya, itu harga yang harus kau bayar, bocah.”

“Tapi ia akan bahagia?”

Aku hampir membekukan air di dalam kolam. Tanpa sadar, kukuku sudah siap merobek tenggorokannya.

“Tentu saja, bodoh. Kau meragukanku ya?”

“Maaf.”

Ia menunduk. Dan sesuatu yang basah terjatuh di atas bulu tanganku. Beraninya ia.

Aku menekan kukuku ke kulit lehernya. Darah segar mengalir dari sana. Gadis kecil itu kembali menatapku.

“Maafkan aku, Tuan! Aku bersedia, ambil mataku.”

Matanya menatapku tanpa kejernihan seperti sebelumnya. Cairan yang jatuh ke atas bulu tanganku, aku mengenali mereka berdesakan keluar dari kedua mata itu.

Aku melempar gadis kecil keluar dari gerbang rumahku. Ia masih menatapku dari depan gerbang, berbisik penuh harap agar aku mengambil matanya. Demi kuwujudkan permintaannya. Ia tak sadar bahwa aku telah melakukannya.

Ketika akhirnya ia jatuh tertidur di sana, aku naik kembali ke atas singgasanaku. Sebentar lagi, takdirku akan datang.

“Bodoh.”

Akhirnya ia muncul, dalam bentuk seekor merpati.

“Aku sudah menunggumu.”

“Tidak perlu kata perpisahan, Tuan?”

Ia mewujud menjadi gadis kecil itu, duduk di dahan pohon ceri besar favorit si nenek kaya.

“Kita terlarang memberi tanpa pamrih, Tuan!”

Kemudian ia meniupkan sesuatu.

Aku menyempatkan diri melirik gadis kecil itu terbaring jauh di bawah sana, sebelum ketiadaan menelanku di udara.

442 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s