[ Cerita ] : Mata Merah dan Pita Biru

Matanya merah lagi. Aku tak ingin mengira-ngira bahwa mungkin ia baru saja menangis. Tapi wajah pucat itu, bibir pecah-pecah itu, hidung kecil itu, dan tentu saja mata merah itu, mau tak mau membuatku berpikiran begitu. Andai ia tahu, betapa tak inginnya aku melihatnya begitu.

Tak ia tak tahu. Dan aku tak pernah punya nyali lagi untuk membuat ia tahu. Ia sudah terlalu rapuh dan satu kalimatku hanya akan membuatnya semakin berantakan. Jadi aku menyingkir dan memberinya jalan, di dunia nyata atau di hatinya. Aku menyingkir dan menghindari matanya.

“Oh, terima kasih,” katanya sambil berjalan melewatiku menuju pintu toilet. Semoga saja ia tidak–

Akhirnya suara itu terdengar dari balik pintu toilet. Ia muntah. Aku menghembuskan napas lega. Berarti mata merah itu karena ia menahan mual sepanjang perjalanan menuju ke sini. Artinya ia tak baru saja menangis. Ia hanya tidak enak badan, ia mual. Itu wajar. Jadi aku meraih gagang pintu dan masuk ke ruang kerjaku.

“Dia muntah-muntah terus. Asam lambungnya tinggi. Pasti telat makan lagi.”

Komentar itu, dari teman satu ruanganku, membuatku hampir tersedak liurku sendiri. “Siapa?” Aku konyol. Malah bertanya siapa. Bukankah mendengar namanya disebut saja sudah membuatku hampir runtuh?

“Yang di dalam toilet. Siapa lagi.”

Syukurlah. Tidak menyebut nama. Tapi suaranya tetap terngiang di kepalaku. “Aku tidak bisa makan. Walaupun aku benar-benar mau.”

“Permisi, ada yang punya tisu?”

Kepalanya muncul dari balik pintu. Sialnya aku sempat menoleh dan mata itu lagi. Merah karena menahan mual. Mual karena telat makan. Telat makan karena–.

“Ambil saja di sana,” jawab teman seruanganku lalu ia beranjak dari kursi dan keluar. Meninggalkanku dan ia yang sedang mengambil tisu.

“Aku taruh di sini, ya!”

Aku menoleh. Ia meletakkan sebuah kotak berbungkus koran bekas diberi pita biru.

“Terima kasih,” katanya lagi sambil mencopot pita biru itu dan mengantonginya cepat-cepat.

Sedetik kemudian ia berjalan pergi meninggalkan ruanganku.

Aku meraih kotak berbungkus koran itu. Aku masih membayangkan pita biru itu tertempel di atasnya. Aku mengusap bagian itu, yang ditinggalkan pita biru. Aku membuka bungkus koran pelan-pelan, tak ingin merusaknya. Betapapun sepertinya ia membungkus kotak itu cepat-cepat dan tak rapi. Khas ia.

Setelah bungkus koran itu lepas seluruhnya, aku tertegun. Kotak itu, isinya, dan sebuah kartu ucapan yang tertempel di sebelah kiri dengan namaku. Ia menghancurkanku. Dengan pita biru yang ia copot terburu-buru karena malu. Dan dengan perasaan itu yang tak bisa aku balas walau hanya seperdelapannya.

388 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s