[ Cerita ] : Sr. Fawn dan Mata Hitamku

Angin bertiup kencang dan membuat ohiedo yang menutupi kepalaku meluncur ke bahu. Panik, aku segera menariknya lagi ke atas kepala dan merapikan rambut hitamku agar tidak menyembul keluar.

“Wah, tidak terasa sudah hampir masuk bulan ketiga.” Tiba-tiba saja Patto sudah berjalan di sampingku. Ia mengiringi langkah cepatku dengan mudah karena tingginya hampir dua kali tinggiku. Ya, semua orang memang mudah mengiringi langkahku. Mereka bisa berjalan dua sampai tiga kali lebih cepat dariku. Kaki mereka tak seperti kaki pendekku.

“Ada siapa di kelompokmu?” tanya Patto. Ia pasti tidak melihat wajahku. Kalau ya, dia pasti memilih menutup mulutnya. Lagipula,ia beruntung karena walaupun suasana batinku sedang tidak enak karena pembagian kelompok itu, aku sedang malas menyemburnya.

Etera Cetra.”

“Enisa? Beruntung sekali kau!” Patto berbahagia di atas penderitaanku. Lain hari, ia harus kuberi pelajaran.

“Setidaknya aku tidak diuji oleh ayah sendiri.”

“Yah, ayahmu kan bukan salah satu dari mereka,” timpal Patto, belum mengerti maksudku. Aku terpaksa menyeringai, bahagia melihat wajah bingungnya.

“Baf ye raiga brou, Patto,” sambungku sambil berjalan meninggalkannya yang sedetik kemudian mengubah air muka ceria menjadi seolah penuh derita.

“Hei, tunggu sebentar! Kemarin aku melihat nama lain di papan pengumuman itu!”

“Departemen Dua menukar penguji kita. Aku masuk. Selamat tinggal!”

Aku meraih gagang pintu ruang uji tanpa menghiraukan wajah Patto yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sendirilah yang akan mengujinya. Aku sebenarnya tak mengerti mengapa malah Patto yang harus mengalami itu. Entah dikemanakan objektivitas yang selama ini dibangga-banggakan Departemen Dua.

Untuk kasus Patto, subjektivitas ayahnya bukan pada risiko bahwa nantinya ia akan memberikan nilai lebih untuk anaknya. Karena yang terjadi justru sebaliknya. Tuntutan untuk berlaku adil akan membuat Sr. Bourd malah berlebihan dan memberi nilai terlalu rendah untuk anaknya sendiri. Aku jadi kasihan pada Patto.

“Mana Nona Entera?”

Aku menghentikan langkah. Seseorang pria berdiri di depanku. Matanya, hitam. Tak seperti mata siapapun. Kecuali satu orang. Aku.

“Kita akan menunggu Nona Etera.”

Ia hanya melihat ujung kepalaku sebentar. Kemudian menarik salah satu dari tiga kursi hitam yang mengelilingi sebuah meja bulat berwarna biru dan mempersilakanku. Ia bersikap seolah-olah aku ini biasa. Bukan fenomena.

“Selamat siang, Synor-”

Enisa tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ia terlihat terkejut. Ia pasti mengenali perbedaan pria ini dengan kebanyakan orang, dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih keras. Apa reaksi Enisa?

“Ya ampun, aku satu kelompok dengan anak Sakki? Beruntung sekali!”

Tidak. Enisa ternyata tidak mengenali perbedaan itu. Ia melihat ke ujung kepalaku, mataku, lalu kulit tanganku. Ya, ia hanya terkejut karena harus diuji bersamaku. Aku menoleh ke arah pria yang masih berdiri di depan pintu, di samping Enisa. Ya, kulitnya memang tak selangsat milikku. Dan rambutnya ternyata cokelat, mungkin diwarnai. Andaikan aku bukan anak Saki, aku pun sudah melakukan itu.

Tak lama kemudian, Enisa menarik kursinya sendiri masih sambil menggerutu. Aku menghiraukannya dan mulai memperhatikan pria penguji kami. Si Mata Hitam. Ia sudah duduk di antara kursiku dan Enisa.

“Synor Fawn. Penguji kalian. Silakan kenakan penutup telinga kalian.”

Namanya aneh. Seperti nama-nama keluarga Awnbors. Sr. Fawn memperhatikan gerak kami, memastikan bahwa penutup telinga telah terpasang.

“Usap meja di depan kalian dan kerjakan soalnya. Kalian punya waktu 90 menit. Jika kalian sudah menyelesaikan soal sebelum 90 menit, lepaskan penutup telinga itu. Kalian akan dianggap telah menyelesaikan soal. Setelah itu istirahat 30 menit sebelum kembali lagi ke sini untuk wawancara. Jelas?”

“Ya,” jawab Enisa dengan nada malas.

“Nona Elmier?”

Aku mengangguk cepat.

Sr. Fawn berdiri dan menekan tombol di samping pintu. Lampu ruangan berubah warna menjadi biru redup. Ia memberi tanda kepada kami untuk memulai.

“Kosongkan pikiran lain, konsentrasi pada ujian kalian,” katanya sebelum masuk ke dalam ruangan penguji yang tetap berlampu putih terang.

Ya, Synor. Aku akan berkonsentrasi sebelum menanyakanmu tentang mata hitam itu. Tapi tak berapa lama, mataku seperti ditarik ke arah meja dan kepalaku mulai berdenyut sakit.

616 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s