cerita berdinding semesta

Aku tak
ingin mendengarkan waktu
kau datang
ke serambi rumahku.
Hujan
tak kunjung reda dan dipanku
menyejuk. Kau mengerti,
kan?

Tapi
ketujuh laron yang mengelilingi
lampu kamar memaksaku
keluar
dan mengambil air di dalam baskom.
Demi
ketaksukaanku kepada
mereka, kita
terpaksa bertemu. Bukan
untuk bertukar pandang apalagi
berjual beli.
Kita hanya
ada di ruang yang sama, merasakan
kehadiran satu sama
lain dan tak
pergi untuk rentang
waktu yang tak
lama. Lalu

berpisah, saat

kau berhenti

berpikir dan

aku berhenti

ada.

5 thoughts on “cerita berdinding semesta

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s