[ FF ] : Antara Endah dan Witch of The Waste

Belum terlelap, dan mimpi sudah bermula.

Sayup-sayup, aku masih mampu mendengar suara empuk Endah menyanyikan lagu Tentang Seseorang dengan amat syahdu. Untuk Rhesa, ku rasa.

Saat Endah mulai menyanyikan reff untuk kedua kalinya, visi itu datang.

Seorang wanita membawa tas merah besar, yang dengan mudah ku ketahui berisi sejumlah besar uang. Padahal aku belum melihat tas itu dibuka. Aku juga belum pernah bertemu wanita itu sebelumnya. Aku hanya tahu.

Aku melihat wanita itu dari samping, sementara seorang temanku sedang duduk rapi di depannya. Mereka terhalang sebuah meja berwarna putih.

“Ia sakit,” kata sebuah suara, jauh entah di mana.

Aku menoleh kepada wanita itu, melihat lengannya yang gemuk. Entah mengapa aku begitu ingin menyentuh lengan itu.

“Ia sakit,” ulang suara itu lagi, masih jauh entah di mana tapi kini terasa seperti diucapkan oleh lidahku sendiri. Suara itu, seperti suara ombak yang terdengar dari cangkang kerang. Terasa jauh, sekaligus seperti berada di nadi sendiri.

Aku melihat lagi kepada wanita itu. Aku mencoba untuk bangun saat melihat lendir berwarna cokelat keluar dari jari-jari gemuk wanita itu. Ayolah, bangun. Dengarkan Endah lagi. Kau bahkan belum terlelap! kataku kepada diriku saat itu. Diriku yang sedang ketakutan melihat lendir cokelat itu mulai membanjir di lantai putih ruang kantorku.

Witch of the waste tiba-tiba muncul di benakku. Aku merasa ialah wujud asli wanita berlendir di sampingku. Aku melirik pelan-pelan menuju wajahnya. Jangan lihat! Ini akan jadi buruk kalau kau sampai melihatnya. Kau belum tidur, nak. Dengarkanlah, Endah masih menyanyi.

Tapi mataku seperti tak ingin menurutinya. Aku melihat wajah itu, yang ternyata benar adalah witch of the waste. Ia kemudian menatapku.

“Aku akan memberimu sebuah kutukan.” Walau tanpa membuka mulutnya, aku tahu wanita itu telah mengatakan itu kepadaku.

Tiba-tiba ia mengepakkan lengan berlendirnya, seolah-olah keduanya adalah sayap. Ia bersiap menyerangku, mengubahku menjadi wanita berumur 90 tahun. Dan saat batang hidungnya yang besar seperti paruh hampir menyentuh hidungku, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku sambil membayangkan Endah memetik gitar.

Ku bersumpah akan mencinta, katanya.


323 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s