Luna

Kau tahu aku tak pernah membenci hujan. Sekalipun aku bisa saja ketakutan saat mendengar petir menyambar, aku tetap tak pernah bisa membenci hujan. Ia seringkali hadir di waktu yang tepat. Seperti sore itu, ketika–

Tapi, saudaraku sudah bosan dan bilang begini.

“By the time I’m writing this, probably…”

“Stop!”

“Lho, kenapa?”

“It’s just not good for you to talk about that here.”

“Ini kan rumahku, suka-sukaku lah.”

“Tapi– ya sudah, teruskan.”

“Baik, akan kulanjutkan. Hei, sebentar– tapi apa?”

“Hmm?”

“Tadi kau bilang tapi sebelum bilang oke. Apa maksud tapi-mu itu?”

“Oh, tidak tidak.”

“Jangan begitu, cepat katakan!”

“Tidak bisa, Non.”

“Kenapa?”

“Hmm.”

“Kenapa? Ayolah, cepat katakan!”

“Begini, Non. Ini sudah hari kedua kau tak bisa berhenti tersenyum membaca itu. Dia menyebutmu apa? Luna?”

“Iya. Dan aku suka itu.”

“Mungkin terdengar bagus, tapi mungkin sebenarnya maksudnya itu gila.”

“Maksudmu?”

“Yah– luna, lunatic. Orang yang jadi gila tiap fase bulan purnama. Semacam werewolf.”

“….”

“Tapi itu cocok sih untukmu.”

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s