[ Cerita ] : Purannaha

“Boneka kayu.”

Sejuta berkas cahaya tiba-tiba menyerang mataku. Perih sekali rasanya. Sedetik yang lalu, aku masih berada jauh di dasar mimpi. Ya, mimpi-mimpi itu lagi. Mimpi tentang seorang gadis yang kurasa adalah aku, namun dengan bentuk yang nyaris seluruhnya berbeda. Aku membuka mataku pelan-pelan. Sinar-sinar tadi menjinak, menelusup lambat memberiku ruang untuk melihat. Hingga kedua mataku membuka sepenuhnya, baru aku sadar di mana aku sekarang. Sebuah kamar serba putih dan higienis.

“Bagaimana tidur siangmu?”

Seorang wanita sedang melipat baju dan memasukkannya ke dalam tas besar. Keriput di sudut senyumnya membentuk mimik ramah, penyayang, murni, dan menenangkan. Ia adalah seorang ibu walau tak pernah melahirkan.

“Lumayan,” jawabku, sambil setengah menimbang-nimbang bagaimana tidur siangku tadi tanpa mencampurkannya dengan nuansa dalam mimpi itu. Aku mengangguk. Ya, tadi itu lumayan.

Aku melirik jam dinding. Sudah jam lima sore. Aku harus ke kamar mandi dan membasuh wajahku sebelum keluar untuk memotret.

“Perlu kubantu? Sini, nak.”

Wanita itu menghampiriku, menggenggam lembut pangkal lenganku dan membantuku turun dari tempat tidur kayu. Kayu. Boneka kayu.

Bayangan mimpi itu berkelebat lagi. Seorang lelaki, tak lebih dari dua puluh tahun usianya. Sama seperti aku di mimpi itu. Ia berlari di depanku, menggenggam sebilah pedang besar dan menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi langkahnya. Aku menunduk, melihat kaki-kakiku merah mengeluarkan darah segar. Tanah berkerikil itu mengoyak keduanya. Aku meringis, perih sekali rasanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya wanita yang sedang membimbing langkahku. Suara lembutnya mengenyahkan anak lelaki itu dari kepalaku.

Aku mengangguk.

“Aku tahu kau pasti gugup sekali. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Anak itu membuat catatan di buku kecilnya. Ibunya menangis waktu menemukan catatan itu dan tersenyum bangga waktu menemukan nama anaknya di daftar pendonor.”

Tiba-tiba jantungku terasa sakit sekali.

“Kenapa, nak? Sakit? Ayo, duduk dulu di sini.”

Aku duduk, mengusap pelan dadaku yang nyeri. Kurang dari dua puluh empat jam lagi aku akan berpisah darinya. Jantung ini, yang menemani masa dua puluh empat tahun hidupku dengan rasa sakit yang ia denyutkan.

Selang beberapa saat, sakit itu mereda. Aku bangkit dari kursi dan membersihkan diri ala kadarnya. Waktu cahaya kemerahan masuk dari jendela kamar, aku bergegas mengenakan kardigan rajut kesukaanku dan melangkah keluar sambil menenteng kamera kecilku.

“Jangan sampai gelap, ya. Sedang banyak angin di luar.”

 

Enam kurang sepuluh menit dan tiga foto saja yang kudapat. Aku duduk di sebuah kursi di taman. Kursi yang agak jauh dari anak-anak yang riuh bermain kejar-kejaran. Aku lebih suka kursi yang jauh ini. Karena dengan duduk di atasnya, aku akan melihat anak-anak itu bermain dinaungi langit senja yang merah bercampur ungu di selapis awan terluarnya.

“Sannaha!”

Aku menoleh. Benar-benar menoleh karena seseorang menyebut kata itu. Seolah-olah itu adalah namaku padahal aku berani bersumpah baru kali ini aku mendengar kata itu. Seorang ayah melambaikan tangan pada salah satu anak perempuan yang sedang tertawa girang karena kedatangannya. Anak perempuan itu berlari dan melompat ke pelukan si ayah. Aku bisa merasakan hangat itu. Ayah.

“Boneka kayu, cabut pedang ratu dan bersiaplah.”

Lelaki itu menoleh tanpa menumbukkan tatapannya kepadaku. Tapi aku bisa merasakan tubuhku menghangat. Hangat yang sama seperti saat ayah menepuk bahuku. Mereka pasti memiliki suhu yang sama. Tak peduli setelah itu puluhan makhluk kekar menyeramkan mengepung kami, aku tak merasa takut. Aku bisa mengayunkan pedangku dengan ringan namun tetap tanpa belas kasihan. Darah-darah merah kehitaman bercipratan menodai pakaian sutraku.

Setelah berhasil melumpuhkan belasan orang dengan pedang besarnya, lelaki itu mulai bergerak memberi aba-aba kepadaku lewat matanya. Ia menyuruhku untuk maju sedikit untuk kemudian menjauh dari area pertempuran. Aku menuruti perintah sorot mata itu, mempercayakan keselamatanku kepada kehangatan yang terpancar dari keduanya.

“Lupa pesanku, ya? Ayo masuk! Sudah mulai dingin.”

Wanita itu sudah tiba di sampingku. Kemudian membawaku masuk ke dalam kamarku yang higienis. Aku kehilangan bayangan lelaki itu lagi. Di balik selimut yang mendekapku, tubuhku menggigil tak karuan. Rasa-rasanya, aku ingin menangkap tatapan lelaki itu, atau telapak tangan ayahku. Hanya keduanya yang mampu memberi hangat.

Purandara.

Walau napasku sesak oleh air sungai yang masuk ke paru-paru, tapi aku bisa merasakan tangannya yang besar menarik tubuhku menjauh dari arus ganas. Purandara, sungguh, aku pun ingin segera membuka mata dan tak membiarkan kau berlama-lama mencemaskanku. Tapi cairan ini, menekan kesadaranku untuk tetap bertahan. Aku akan bangun. Tunggulah.

Aku terbatuk-batuk dan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia menghampiriku dengan tatapan cemas. Ia membantuku duduk dan mengusap punggungku. Kemudian ia memberiku segelas air putih segar. Aku minum pelan-pelan dan berterima kasih padanya.

“Aku baik-baik saja. Tidurlah lagi.”

Aku menggenggam tangannya. Semoga itu cukup meyakinkannya untuk kembali beristirahat. Aku bersyukur saat melihatnya tersenyum dan mengecup keningku. Ia kembali ke sofa besar di pojok kamar.

“Bagaimana kalau tidur di sini?” pintaku, tiba-tiba. Aku rasa aku membutuhkan itu. Ia berada di sampingku, menepuk-nepuk punggung tanganku. Kemudian ia akan tertidur duluan.

“Yah─ boleh juga.”

Ia bangkit dari sofa yang sudah didudukinya. Menghampiriku, membuka selimut dan ikut berlindung di baliknya bersamaku. Kami saling mendekap. Benar saja, aku merindukan tepukannya. Selang beberapa tepukan, ia tertidur. Sementara aku memejamkan mata walau tetap terjaga. Purandara, aku ingat namanya.

 

“Tenang saja, Love. Hari ini, Dave milikmu satu-satunya. Eh salah, milik kalian berdua maksudnya. Kau dan pendonormu. Semoga anak itu berada di taman yang indah sampai kau tiba untuk berterima kasih padanya,” kata Luile, perawat yang sedang sibuk mencatat kondisi tubuhku.

“Tolong bilang Dave untuk pelan-pelan dengan pisaunya. Love kita ini orangnya lembut sekali, kan?” Gadis kecil itu, yang bernama Sannaha itu, baru saja berkenalan denganku tadi pagi. Begitu tahu aku hari ini akan dioperasi, ia ngotot ingin menemaniku. Ia cukup dikenal di rumah sakit ini. Ya, aku tahu mengapa ia bisa seperti itu hanya dengan melihat caranya berbicara dengan Luile.

Sejujurnya, aku merasa sangat aneh ketika menyebut nama Sannaha. Aku seperti menyebut nama seseorang yang sama dengan namaku. Padahal tidak begitu. Aku merasa nama itu milikku.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat anak lelaki setelah kau makan? Barangkali ada yang tampan dan jatuh cinta padamu. Kau harus punya yang seperti itu setelah dapat jantung baru, kan?” celoteh Sannaha dengan bersemangat. Sulit dipercaya ia leukemia.

“Dia puasa, Sannaha.”

Luile mengacak-acak rambut Sannaha kemudian melangkah keluar dari kamarku.

“Kalau begitu, ayolah!” Sannaha menarik tanganku. “Sekali-kali tidak perlu pakai kardigan, Love,” kata gadis cilik itu lagi saat melihatku seperti akan meraih kardiganku.

“Baiklah.”

Aku pasrah mengikutinya. Kadangkala aku harus mempercepat langkahku agar tak terseret-seret olehnya.

“Pelan-pelan, Sannaha. Ia tak mau kau ajak berlari begitu!”

Seorang perawat jaga di depan pintu paviliun khusus lelaki menegur kami.

“Dia harus cepat sedikit kalau mau dapat jodoh!” seru Sannaha dengan wajah sok tahu. Aku mengacak-acak rambut tipisnya, seperti yang Luile lakukan tadi.

“Jangan berkeliaran di koridor, ya!” pesan perawat jaga itu. Sannaha mengangguk patuh sambil terus menarik tanganku.

Tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras. Cukup keras sehingga aku yakin bahwa Sannaha akan mendengarnya. Aku harus duduk dan menenangkan diri. Dadaku tak terasa amat sakit. Hanya saja, detaknya sungguh terlalu keras tak beraturan. Saat tanganku benar-benar hampir terlepas dari genggaman Sannaha, tiba-tiba gadis itu berhenti. Kami tiba di depan pintu sebuah kamar. Aku melirik papan namanya. Elang.

“Dia ini tampan sekali, Love. Ayo kita masuk. Aku akan memperkenalkanmu padanya.”

Baru saja Sannaha ingin menarik gagang pintu, seseorang keluar dari kamar itu. Seorang ibu. Seperti yang kupunya.

“Sannaha.”

Ia menyebut nama itu sambil melihatku kepadaku. Sekali lagi, aku merasakan nama itu adalah milikku.

“Hai, ibu. Kami mau masuk dan lihat Elang Merah. Dia ada, kan?” tanya Sannaha. Aku hampir pingsan. Jantungku berdebam. Aku seperti kehilangan separuh napasku.

“Dia sudah dibawa ke Dave. Sudah, ya. Ibu harus keluar sebentar.”

Ibu itu berlalu. Aku masih sibuk menenangkan jantungku yang masih bergemuruh.

“Hei, Love, kau dengar yang tadi itu, tidak?”

“Apa?”

“Ibunya Elang bilang dia sudah dibawa ke Dave. Kau ingat, kan, Luile bilang hari ini Dave hanya milikmu dan pendonor itu. Artinya─”

Tiba-tiba saja detak jantungku normal. Terasa sangat normal. Ia tak bergemuruh. Pendonorku? Si Elang ini? Aku refleks menoleh ke arah ujung koridor, mencari ibu itu. Tapi ia sudah menghilang.

“Kau pasti mau melihatnya, kan?” tanya Sannaha. “Ayo kita ke sana!” Gadis kecil itu sudah menarik tanganku lagi tanpa memberi kesempatan untuk mempertimbangkan apalagi menolak.

Sannaha.

Nama itu terus bergaung di kepalaku sepanjang perjalanan kami dari paviliun pria menuju ruang operasi. Seolah-olah itu namaku dan bukan milik gadis cilik ini. Bayangan Purandara kadang ikut bermunculan. Berganti-gantian dengan gaung nama Sannaha. Seperti Purandara yang memanggilku dengan nama itu.

“Love, kau baik-baik saja?” Kami sudah sampai di depan ruang operasi. Tapi di sana masih sepi dan tidak ada tanda-tanda ada yang lain kecuali mereka berdua.

“Aku tidak apa-apa.”

Sannaha.

                “Love, kau tidak apa-apa, kan?”

Sannaha, kau tidak apa-apa, kan?

                “Jawab aku dulu! Siapa sih namamu sebenarnya?”

“Sannaha.”

Aku menutup mulutku, tak menyangka bahwa jawaban itu yang akan keluar. Tadinya aku mengira Sannaha akan memprotes. Tapi ia hanya menatapku dengan tatapan mencemooh. Aku kebingungan.

“Kau capek, ya? Kita masuk ke sana saja yuk!”

Sannaha menuntunku masuk ke sebuah ruangan.

Awalnya aku pikir kamar itu kosong sampai aku melihat sosok itu. Wajahnya pucat seperti tak bernyawa. Seolah-olah ia hanya hidup karena sokongan alat-alat yang membelitnya. Aku mendekati tubuh itu, ingin mengamati wajahnya dari dekat sebab aku merasa mengenali─

“Purandara.”

Aku merasakan air mata meleleh tanpa bisa kucegah. Ia di sini. Terbaring kurang dari satu meter dekatnya denganku.

“Apa-apaan kau, Love? Namanya Elang.”

untuk Sannaha dan Purandara, dua jagoan keren di Citra Rashmi-nya Kang Tasaro GK. really love the story!! can’t wait for the second book >.<

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s