[ FF ] : Di Pangkalan

“Nasi goreng aja, yuk!”

Dr. D menunjuk ke arah gerobak berwarna cokelat tua dengan tulisan “NASI GORENG” tercetak tebal di kacanya. Aku mengangguk setuju dan menjajari langkahnya menyeberangi jalan.

“Nasi gorengnya berapa, Mbak? Pedes?” tanya bapak berwajah ’empat puluh tahunan’ yang sudah siap dengan kualinya.

“Dua. Satu pedes, satu nggak pedes,” jawab dr. D.

Setelah itu, kami duduk di atas sebuah kursi kayu panjang. Bapak penjual nasi goreng memulai pekerjaannya. Aku mengamati sekitar. Jalan raya ini cukup sepi dan lengang. Tak heran, kelima tukang ojek sampai sempat bermain catur mengusir kebosanan menunggu penumpang.

“Pak, Cempaka Putih, dong!” Seorang calon penumpang datang dan menyapa salah seorang tukang ojek. Si bapak tua tukang ojek mengangguk. Tak lama kemudian mesin motor dihidupkan. Mereka meninggalkan pangkalan. Entah mengapa tiba-tiba aku menatap lekat-lekat ekspresi tiap tukang ojek yang tertinggal. Empat orang. Mereka bermimik tidak senang bahkan sebagian ada yang menggerutu.

Tak nyaman melihat itu, ku alihkan pandangan kepada kuali milik tukang nasi goreng. Tapi tidak ada nasi sedang digoreng di sana. “Nasi goreng kita belum dibuatin, katanya ada yang pesen kwetiau dulu tadi,” kata dr. D, menyadari ekspresi bingungku.

“Oh–”

Tak lama kemudian, tukang ojek yang pergi tadi sudah kembali ke pangkalan. Ia langsung memarkirkan motornya di tempat semula. Aku memperhatikan lagi ekspresi kawan-kawannya. Wajah mereka masih tak enak dilihat. Tiba-tiba salah seorang dari mereka –yang tadi sedang bermain catur– berdiri. Ia menghampiri kawannya yang baru saja sampai.

“Motor lo parkir di situ, dong, Lam. Lo kan abis bawa sewa.” Ia menggandeng kawannya. Tapi aku tidak melihat tanda persahabatan dari gandengan itu. Malah ada nada sinis, nyinyir, dan sejenisnya yang keluar dari mulutnya.

Alam –ku anggap namanya itu– hanya tersenyum sambil manggut-manggut lalu memindahkan motornya ke tempat yang dimaksud kawannya. Kemudian, ia menghampiri lagi kawannya. Aku terperangah. Alam ternyata bisu. Ia menunjuk-nunjuk motornya dan gang kecil tak jauh dari situ. Sepertinya ia bermaksud menitipkan motornya karena ia ingin pulang sebentar, atau ada keperluan lain.

“Iya, iya. Udah, sana pergi!” Kawannya mengangguk tak sabar sambil mendorong Alam.

Begitu Alam tak terlihat dari jalan, kawan-kawannya –tukang ojek lain– menghampiri motor Alam. Kemudian, salah seorang di antara mereka mengeluarkan pisau. Tiba-tiba saja, ia merobek jok motor Alam dengan pisau itu. Dr. D yang tadinya sedang asyik dengan ponsel pintarnya sampai menoleh.

“Ambil kunci inggris!” kata seseorang di antara mereka. Si pemilik pisau, menyerahkan pisaunya kepada salah seorang tukang ojek yang langsung asyik mencongkel spion motor Alam.

“Wah, banyak amat, Don!” Si pemilik pisau, yang kuduga bernama Doni, sudah datang dengan empat pisau inggris yang terlihat berat. Ia menyerahkan kunci inggris itu kepada teman-temannya, satu per satu. Kemudian, motor Alam dirubuhkan. Dengan dikomandoi Doni, mereka mulai menghancurkan motor itu. Aku, dan tentu saja dr. D, panik melihatnya. Termasuk tukang nasi goreng. Tapi kami bertiga hanya terdiam. Dr. D dengan ponsel pintarnya, tukang nasi goreng dengan spatula dan kualinya, serta aku dengan degup jantung yang saling berdentam.

Begitu Alam datang, awalnya aku lega karena itu berarti ia bisa menyelamatkan motornya. Tapi aku berubah pikiran ketika aku melihat seringai di wajah Doni dan kawan-kawannya. Tiba-tiba aku merasa amat takut. Aku berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Sama seperti apa yang terjadi pada Alam ketika melihat motornya dirusak. Tapi Alam memang bisu, sedangkan aku tidak.Β Aku ingin sekali menyuruh Alam pergi dari situ, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia berlari menerjang kawan-kawannya yang sudah siap menyambutnya dengan kunci inggris.

“Haha, ini dia yang kita tunggu-tunggu!” Doni dengan seringainya yang jahat, menatap lurus ke arah Alam yang sedang berlari. Doni mengangkat kunci inggrisnya. Begitu pula teman-temannya. Dan saat salah satu kunci inggris itu menyodok perut Alam, tiba-tiba dr. D berdiri.

“Mbak, aku duluan, ya!” kata dr. D sambil melangkah cepat-cepat. Aku ingin mencegahnya pergi meninggalkanku, tapi tangan, mulut dan tubuhku tak bereaksi apa-apa. Mereka menolak mematuhi perintahku. Aku terkurung di sini dengan kelumpuhanku yang entah sampai kapan dan harus menyaksikan peristiwa di depanku.

Tubuh tua Alam sudah tersuruk di atas tanah. Doni dan teman-temannya sedang sibuk menginjak-injak tubuhnya sambil tertawa puas. Darah kental membasahi aspal. Sesekali, Doni menghantamkan kunci inggris ke kepala Alam yang sudah dipenuhi darah.

Aku terpaku di tempat dudukku. Tukang nasi goreng entah sudah kemana. Aku yakin bahwa Alam sudah mati. Tapi Doni dan teman-temannya masih terus menyiksa tubuhnya. Saat aku ingin memaksa tubuhku untuk berdiri dan lari, tiba-tiba mata Alam terbuka. Kedua mata sayu itu menatap ke arahku. Aku kaget melihatnya. Tanpa sadar, aku berlari sekuat tenaga. Entah ke mana. Aku berlari melewati gedung-gedung tua yang jarang terlihat penghuninya. Aku berlari hingga ku rasakan kaki-kakiku melemas. Di depan pintu sebuah rumah mungil sederhana, aku berhenti. Pintu itu terbuka. Wajah teduh ayahku muncul dari dalam rumah itu. Aku hembuskan napas lega.

“Ada apa?” tanya ayahku yang wajahnya berubah cemas.

“Yah–” Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh ke belakang. Doni berdiri di sana dengan napas terengah-engah seperti baru saja mengejar sesuatu. Mungkinkah?

“Ayah, tolong–” kataku, terputus. Aku bingung. Apa yang harus ku katakan?

Tiba-tiba Doni menatapku tajam. Jika matanya adalah pisau, aku pasti sudah mati. Ia berjalan mendekatiku. Aku ingin berlari dan bersembunyi di belakang tubuh ayahku. Tapi sialnya, lagi-lagi tubuhku tak bisa digerakkan. Ketika Doni akhirnya sampai di dekatku, ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku hampir saja berteriak saking takutnya. Tapi Doni mengabaikan wajahku yang pasti sudah sangat pucat. Ia membuka mulutnya dekat telingaku dan berkata, “berani bilang sama ayahmu, saya akan bunuh Hera.”

Kemudian pintu di belakang tubuh ayahku terbuka lebar. Seorang anak kecil dengan rambut berpita merah keluar dari sana. Ia mengucek mata kantuknya lalu melihat ke arahku dan Doni. “Ayah sama Ibu baru pulang?”


920 kata

3 thoughts on “[ FF ] : Di Pangkalan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s