[ Cerita ] : vs Moura

“Sebentar lagi mereka sampai di sini, Ja!” seru Nadya dari dalam ruang persiapan. Ia sibuk memilihkan mana bantalan-bantalan yang bagus untuk dipasang ke pakaianku sebagai perisai. Ia selalu tahu mana yang terbaik.

“Nyonya Rava akan menonton juga,” kata Nadya, sambil memeriksa ekspresiku dari cermin di depanku. Tentu saja ia melihat raut kaget di wajahku. Tapi sebentar saja, aku cepat-cepat menyesuaikan diri dan berusaha terlihat biasa.

“Oh iya, tadi kau bilang mereka. Mereka siapa?”

“Moura dan makhluk-makhluk yang mengubahnya menjadi monster. Aku masih belum bisa menyebutnya sebagai Moura saja. Karena aku tahu Moura saja tidak pernah bisa menjadi sekejam ini.” Wajah Nadya berubah agak mendung. Melihat kedua saudaranya harus berada di jalan raya dan saling membunuh pasti sangat buruk baginya.

“Ja, aku tetap mendukungmu. Kau tidak dirasuki makhluk-makhluk menjijikkan itu. Kau layak menang dan membebaskannya dari mereka,” kata Nadya menyemangatiku sambil berusaha tersenyum.

Puh, membebaskan? Dengan membunuhnya? Cara Nadya mengatakannya seperti aku ini pahlawan pembasmi kejahatan. Tapi nyatanya, siapa yang monster di sini? Apakah Moura yang dengan ketidaksadarannya membunuh semua yang diminta Nyonyanya untuk dibunuh, ataukah aku yang masih sehat fisik dan akal tapi mau saja dijadikan algojo?

Tiba-tiba saja, bau busuk tercium di dalam ruangan. Kulirik jam yang tergantung di atas cermin. Seharusnya masih dua puluh menit lagi. Tapi mengapa baunya sudah sampai ke sini?

“Sial, pengaruh makhluk-makhluk itu sudah sampai ke tulangnya dan membawanya ke sini lebih cepat dari yang seharusnya. Kita harus bergegas, Ja!” Nadya segera memakaikanku perisai yang telah ia siapkan. Ia hanya butuh beberapa menit melakukannya. Tak lama, aku melihat bayangan berbeda di cermin. Wajahku menghitam karena aura perisai. Tubuh kurusku sudah berubah menjadi lebih berisi karena bantalan-bantalan. Sementara itu, bau busuk tercium lebih menyengat lagi. Bahkan aku sudah bisa mendengar bunyi isi perut Moura yang bergolak. Aku menahan diriku untuk tidak muntah.

“Nadya, cepat masuk ke kamar dan selimuti dirimu segera setelah aku keluar. Jangan pernah membuka pintu atau jendela,” kataku sambil memakaikan Nadya sebuah tutup telinga. Aku yakin ia akan menangis jika sampai mendengar suara yang ku dengar.

Nadya mengangguk dan segera menaiki tangga. Aku siap-siap membuka pintu. Ku yakinkan diriku sendiri dengan mengucap beberapa doa yang Nadya ajarkan.

“Ja, tunggu sebentar!” panggil Nadya.

“Pakai ini.” Nadya memakaikan kain yang menutupi rambut di kepalaku sampai ke leher.

“Nadya, apa ini?” tanyaku.

“Segera setelah kau mengalahkannya, berlarilah ke danau dan basuh wajahmu di sana. Buang kerudung itu. Aku– aku tidak mau melihat darah Moura di sana,” jawab Nadya sebelum berlari menaiki tangga dan menghilang dari tatapanku. Aku membayangkannya langsung masuk ke kamar dan berselimut.

Bau busuk semakin tercium dan menusuk hidungku. Tanpa menunggu waktu berlalu lebih lama lagi, ku buka pintu dan melangkah ke luar. Awan hitam sudah menaungi jalan raya.

Aku menoleh ke depan sana. Moura berlari dengan kecepatan tinggi. Bahkan makhluk-makhluk yang menempeli tubuhnya tak membuatnya melambat sama sekali. Dalam beberapa detik, wajahnya sudah berada persis di depan hidungku.

Ia membuka serangan dengan sebuah tinju tepat di wajahku. Darah langsung muncrat dari mulut dan hidungku. Bibirku sobek. Aku membalasnya dengan sebuah tendangan yang dengan mudah ia tangkap. Ia menarik kakiku dan dengan mudahnya membanting tubuhku. Beruntung, bantalan-bantalan itu tak membuat tubuhku langsung rangsek membentur aspal.

Moura tertawa bengis melihatku. Ia menepuk-nepuk dadanya seperti seorang raja gorila yang menaklukkan hutan. Jika aku memang hutanmu, aku mengizinkanmu tinggal selamanya, pikirku. Tapi sepertinya ia menganggapku sebagai musuh yang akan merebut hutan darinya, bukan sebagai hutan itu sendiri. Ia menghujaniku dengan pukulan yang mengenai tulang rusukku. Jangankan memberikan balasan, aku bahkan tak sanggup menggerakkan jari-jariku.

Setiap kali aku ingin melawan, yang terbayang di pikiranku adalah Moura yang menggendongku di atas bahunya. Dengan Nadya menggenggam tangannya sambil tertawa-tawa. Ingatan itu membuatku tak sanggup bahkan untuk menekan kukuku di kulitnya.

Kesal melihatku tak memberikan perlawanan, ia meniban tubuhku dan mulai mencakari wajahku. Aku sudah tidak mampu merasakan apa-apa. Sebentar lagi aku pasti mati, pikirku. Sesekali, ia akan meninju perutku dan membuat darahku terciprat di wajahnya.

Tiba-tiba, langit yang berwarna hitam bergerak dan memperlihatkan wajah Nyonya Rava yang sedang tersenyum licik. Bibirnya mengucapkan sesuatu yang tak bisa ku dengar karena telingaku sudah hancur dirusak makhluk-makhluk yang menempeli jari Moura yang tadi mencakarinya.

Moura berdiri dan menggunakan kukunya untuk mencongkel tangan kirinya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dagingnya yang terbuka. Sebuah jarum. Aku mengenali jarum itu dan mengingat akibat yang terjadi jika jarum itu sampai menempel di tubuhku. Jarum itu akan mengeluarkan racun dan membuat ratusan makhluk kecil menguasai tubuh dan mengubahku menjadi monster seperti yang terjadi pada Moura.

Sontak kuberikan seluruh tenagaku yang tersisa untuk bergerak persis sedetik sebelum Moura melemparkan jarum itu ke tubuhku. Jarum itu terjatuh di atas aspal dan membuat aspal yang keras menjadi tanah lembek dan berbau busuk dalam sesaat. Makhluk-makhluk kecil dari tanah lembek itu keluar dan berusaha mendekatiku.

Aku berlari menghindar tapi kemudian Moura mengejar dan menangkapku. Ia menyeret tubuhku dengan satu tangannya dan mendekatkanku ke makhluk-makhluk menjijikkan itu. Aku berusaha melawan dengan menendang, memberikan pukulan, atau apapun. Tapi Moura terlalu kuat. Nyonya Rava telah mengubahnya menjadi monster dan memberinya kekuatan yang tak terkalahkan.

Kemudian ketika satu makhluk kecil itu berhasil sampai di kakiku, aku teringat sesuatu. Nadya pernah mengatakan kepadaku bahwa ada sebuah bagian di tubuh seseorang yang tak mampu ditempati makhluk-makhluk kecil itu. Bagian tubuh itu akan tetap menjadi milik manusia sedangkan yang lainnya berubah menjadi monster.

Aku berusaha memutarkan tubuhku yang sedang diangkat oleh tubuh besar Moura. Aku ingin melihat jelas dirinya.

“Jadi kau melihat tubuhku, hah?” kata Moura tiba-tiba. Suaranya tak berubah dan itu mengingatkanku pada sesuatu. Pita suara. Mungkin di dekat bagian itulah aku bisa menyerangnya. Aku mencoba menggapai lehernya. Tapi terasa sulit sekali. Tiba-tiba Moura melemparkan tubuhku ke aspal.

“Kau mau melawanku? Ayo, lawan!” Ia berdiri perkasa di depanku. Aku berusaha bangun pelan-pelan. Aku melihat lehernya diselimuti makhluk-makhluk kecil itu. Jika bukan lehernya, lalu di mana? pikirku.

Moura mendekat dan kembali menyarangkan tinju di dekat perutku. Aku merasakan sakit yang amat sangat. Mungkin salah satu tulang rusukku sudah patah. Ia mencengkeram leherku dengan satu tangannya. Aku tidak mampu bernapas sama sekali.

Aku megap-megap berusaha memasukkan oksigen melalui hidungku. Saat itulah, aku melihat satu bagian di bawah dagu Moura bersih. Tidak ada makhluk kecil kelabu yang menempel di sana. Bahkan salah satu makhluk kecil itu terlihat menjauhi wilayah itu. Aku berusaha menggerakkan tanganku dan menjangkaunyaa. Percobaan pertama, gagal. Tubuhku terlalu jauh dari tubuhnya. Walaupun Moura sedang mencekikku dengan sebelah tangannya, tapi tanganku jauh lebih pendek. Aku mencoba sekali lagi dan gagal. Sementara napasku sudah benar-benar hampir terhenti.

“Nadya..” Hanya mengeluarkan kata itu yang mampu kulakukan.

“Apa katamu?” tanya Moura sambil mendekatkan tubuhku kepadanya.

Berbarengan dengan itu, ku kepalkan jariku kuat-kuat dan kuhantamkan ke bagian bawah dagu itu. Moura langsung membantingku. Kemudian terdengar teriakan yang sangat keras keluar dari mulut Moura. Ia seperti merasakan sakit yang tertahan selama ini. Makhluk-makhluk kecil itu keluar dari mulutnya dan tumpah di tanah. Tak lama, sebuah jarum keluar dari lehernya dan ikut terjatuh ke tanah. Kujauhkan tubuhku dari tempat jatuhnya jarum itu.

Tubuh Moura hancur seketika. Daging terlepas dari tulangnya dan berubah menjadi darah kental yang membanjiri tanah. Dan ketika darah kental itu menyusut menjadi segumpal darah, awan hitam berarak pergi berganti menjadi sinar matahari cerah yang membakar habis gumpalan darah itu menjadi abu. Ku punguti serpihannya yang hampir terbawa angin. Kemudian, aku berlari menuju danau dan mencelupkan tubuhku bersama abu saudaraku.


1207 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s