[ FF ] : Sebelum Fajar

“Nyonya, Anda baik-baik saja?”

Haruka berbicara dari balik pintu. Heiko berdehem pelan untuk meyakinkannya. Setelah memastikan Haruka sudah benar-benar pergi, Heiko merapatkan mantel yang membungkus tubuhnya kemudian ia selipkan rambut-rambut kecil ke belakang telinga. Angin pelan-pelan datang dan menyambangi lantai puncak menara.

Heiko bangkit dari duduk bersimpuhnya. Ternyata rindu tak mampu membuat kakinya tak merasa kesemutan. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah timur, asal dari angin lembut yang sejak tadi mempermainkan rambutnya. Di ujung timur sana, titik-titik hitam terlihat berserakan. Mereka tampak tercerai-berai tak seperti saat kedatangannya beberapa waktu lalu.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” kata Genji sambil menyarungkan pedang.

“Tak adakah yang bisa kau lakukan?” Heiko maju mendekati suaminya.

“Aku? Tidak.” Genji menjawab singkat sambil membelakangi Heiko. Heiko menelan ludah. Tak sewindu sekali Genji memunggunginya. Namun kini sering sekali.

“Begitupun aku.”

“Jangan membantah, Heiko.” Kali ini Genji berbalik, menghadapi Heiko. Ia meletakkan kedua telapak tangannya ke atas bahu sang istri. Heiko merasakan beratnya telapak tangan itu.

“Kalau begitu aku akan ikut!”

Genji malah tersenyum. Mengejek.

“Aku akan menemuimu hari itu. Datanglah ke atas menara.”

Genji masih tersenyum. Wajahnya teduh. Matahari senja menyusup masuk ke dalam kamar mereka.

Sekarang saatnya. Benteng ini sudah dikepung. Musuh tinggal menunggu fajar datang. Setelah itu, tak ada lagi Heiko. Ia mengusap perutnya yang membuncit. Sesuatu yang basah menggenangi matanya. Ia tak pernah berhenti bertanya mengapa Genji tak melakukan sesuatu untuk menghentikan segalanya. Jika bukan takdir itu, setidaknya perang itu. Atau bahkan jika bukan rindu Heiko, setidaknya air matanya.

Angin kembali bergerak pelan memainkan ujung-ujung rambut Heiko, menusuk-nusuk pipinya. Ia merapatkan kembali mantel beratnya. “Dulu ini milikmu, ‘kan?”

“Benar. Dan kau tak pernah mengembalikannya.”

Heiko menoleh. Tak ada apa-apa. Ia berjalan menyeberangi ruangan kecil itu menuju ke jendela yang menghadap barat. Ia melongok ke arah luar. Ia melihat ke atas langit. Ia mencari di dinding-dinding menara. Tapi tak ada siapa-siapa.

“Genji!” Heiko melepaskan seluruh suara yang ia punya kepada langit.

“Cahaya bulan akan menghalangimu melihatku, Heiko.”

Heiko menoleh lagi ke belakang. Masih tak ada siapa-siapa. Tapi ia segera bergerak menutup jendela-jendela hingga ruangan itu gelap sama sekali. Kemudian, ia menyalakan pelita. Seketika ruangan diterangi cahaya muram.

Heiko memandangi suaminya. Ia terlihat begitu ringan bagi Heiko. Seperti tak berbobot, seperti tak nyata. Ya, ia mungkin tak benar-benar ada. Heiko menjatuhkan bulir-bulir air matanya.

“Kau sudah puas?” Genji tersenyum padanya. Heiko merasa tubuhnya lemas. Ia ambruk bersujud. Wajahnya menekan lantai kayu.

“Aku mohon, bawalah aku.” Suaranya serak tercekat air mata.

“Pasti. Tapi lakukan lah yang ku minta.” Heiko merasakan suara Genji bahkan terdengar sangat ringan.

Heiko mengangkat wajahnya. Sesuatu bergerak dalam perutnya. Bayi itu.

“Perempuan? Atau laki-laki?” Heiko tersenyum kepada suaminya. Ia merasakan gemuruh dalam dadanya. Detak jantungnya dan bayi itu.

“Perempuan. Cantik seperti kau.”

Heiko tak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Ia tertawa. Bayinya kembali bergerak. Kali ini lebih hebat.

“Ia tak mengizinkanku tertawa, Genji!” seru Heiko sambil memegangi perutnya. Tapi Genji tak mengucapkan apapun lagi. Ia hanya menatap Heiko dengan lembut.

“Terima kasih, Genji.”

Pelan-pelan, Heiko membaringkan tubuhnya. Ia menggerak-gerakkan tali untuk membunyikan lonceng. Tak lama, Haruka datang. Ia seperti sangat paham maksud Heiko.

Heiko mengatur napasnya. Seperti yang pernah diajarkan ibunya. Jangan terengah-engah. Bayi dalam perutnya bergerak lincah menuju tempat ia akan keluar.

Ketika tangis bayi itu pecah, jendela-jendela dibuka angin. Membawa masuk cahaya yang pelan-pelan muncul dari timur. Heiko memejamkan matanya dan merasakan tangisan putrinya. Seolah hanya itu yang tersisa dari dirinya. Kemudian, ia merasa ringan dan melayang. Ia melihat putri kecilnya dalam dekapan.

572 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s