[ FF ] : 2112 (2)

“Belum tidur?”

Che menoleh. Seseorang membuka pintu besi di belakangnya. Wajah orang itu belum terlihat sesaat sebelum ia menyalakan lampu di samping pintu. Blam. Ruangan terang benderang seketika. Che mengerjap, menyesuaikan matanya dari serbuan cahaya dalam jumlah besar yang tiba-tiba memaksa masuk pupilnya.

“Oh, maaf. Aku lupa kau tak begitu suka ruangan terang,” kata orang itu. Che masih belum bisa melihat wajahnya. Gelap dan terang sama saja. Gelap membutakan dengan ketidakadaan cahaya, sedangkan terang memberi cahaya terlalu banyak yang malah berujung sama. Kebutaan. Tiba-tiba Che merasa romantis. Ia ingat ibunya yang mampu melihat dunia jauh lebih jernih justru dalam ketunanetraannya.

Che membuka matanya pelan-pelan. Cahaya yang datang tiba-tiba tadi mulai tak terlalu menyakitinya. Samar, ia mulai mengenali siapa orang di depannya.

“Houru. Bergabung di Lagon sejak Juni delapan tahun lalu.” Ia mengulurkan tangan hendak berjabatan. Che tersenyum sopan. Sr. Houru tak perlu memperkenalkan diri seformil ini. Semua orang di Lagon mengenalnya. Tapi Che tetap menyambut tangan itu seraya berkata, “lama tak jumpa, Senior.”

Sr. Houru menarik kursi di dekat meja Che. Ia hampir saja duduk, tapi kemudian ia berhenti.

“Oh, maaf. Silakan duduk, Senior.” Che tidak enak hati karena tak mempersilakan tamunya.

“Terima kasih.” Sr. Houru tersenyum simpatik, kemudian benar-benar duduk di kursi yang tadi ia tarik. Sementara itu Che menekan tombol “tea” di samping keyboard komputernya.

“Bagaimana Tana Landai, Senior?” Che memulai percakapan agar ia tak terus-menerus pasif membiarkan tamunya berbicara lebih dulu. Che pernah mendengar bahwa membuat tamu kikuk dengan membiarkan mereka terus memulai percakapan dianggap tak sopan di Banyu Camar, daerah asal Sr. Houru.

“Sangat baik, Che. Di sana aman dan nyaman. Seperti kampung halamanku. Tak ada satu pun kerikil yang jatuh menyakiti warganya,” jawab Sr. Houru, masih dengan senyum simpatiknya.

“Wah, syukurlah. Kami yang di sini patut iri.” Che memberikan komentar ringan walaupun entah bagaimana ada yang aneh dengan senyum simpatik itu.

“Iri? Ah, kau ini bisa saja. Bukankah kau yang baru saja menerima sulaman emas di seragammu? 2112! Angin lembut Banyu Camar pun sanggup membawa angka cantik itu ke telingaku, Che. Luar biasa!” Pujian itu terasa tak pada tempatnya bagi telinga Che. Ada yang disembunyikan di dalamnya.

“Tetap tak akan menandingi apa yang telah Anda lakukan, Senior.” Che menunduk sopan, tapi ia sadar perasaan tak nyamannya tak mampu ia sembunyikan sama sekali.

“Hei, kudengar saat itu ibumu sedang kritis. Benarkah?” Apa pula ini? Mengapa sekarang menyebut-nyebut ibunya? Che mulai yakin bahwa kunjungan seniornya ini bukan sesuatu yang bersifat santai. Che menjawab pertanyaan itu dengan anggukan pelan.

Sr. Houru memegang bahunya. “Aku ikut prihatin, Che. Tapi tetap saja aku salut kepada kalian berdua. Loyalitas kalian nomor satu. Sulaman emas itu tak cukup mengapresiasi.”

Jantung Che berdetak keras seketika. Apakah kabar tentang hubungannya dengan ketua tim sudah demikian tersiar sejauh ini? Apakah salah seorang dari anggota tim membocorkannya? Kepala Che terus memproduksi pertanyaan-pertanyaan.

“Che, ayo bicarakan kombinasi angkamu.”

Sr. Houru menatap tajam kepada Che. Itu membuatnya amat gugup. Beruntung suara bel menyelamatkannya. Itu pasti Ruth dengan teh daun kopinya.

“Senior? Ya ampun, tak kusangka kau benar-benar datang!” Ruth berseru riang sambil terburu-buru menghampiri kami. Aku selamat. Setidaknya aku bisa undur diri ketika Ruth mulai menceritakan nasib baiknya lolos tes akademi.

“Terima kasih atas sambutanmu yang selalu berisik, Ruth,” canda Sr. Houru.

“Baiklah, apakah aku boleh undur diri agar tidak mengganggu Anda dan adik kecil Anda ini?” Che berpamitan santai.

“Tunggu, Che. Aku belum selesai. Nah Ruth, bisa tinggalkan kami sebentar? Ada yang harus aku katakan kepada pahlawan kita ini. Setelah itu baru kita bisa minum teh daun kopimu sambil kau berteriak-teriak.”

Ruth menatap Che bingung lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu besi. Sedetik kemudian, pintu besi itu berdebam meninggalkan Che dan Sr. Houru.

“Che, ceritakan padaku bagaimana kau mendapatkan angka itu. Boleh ‘kan?”

Che melipat tangannya di atas meja seperti seorang siswa sekolah dasar tingkat pertama yang patuh.

“Ah, vulgar sekali ya pertanyaanku itu? Begini saja, bagaimana kombinasinya? 9999? Itu pun baru mencapai 2007 kan? Atau jangan-jangan seharusnya ia 1600?”

Che menatap lurus ke sebuah titik di antara kedua alis seniornya. Namun sebenarnya, nyawa Che tak berada di situ. Ia merasa telah dijemput malaikat maut dalam wujud manusia tinggi tegap di hadapannya. Bukan sulaman emas yang Che khawatirkan. Tapi wajah wanita bermata jernih itu.

695 kata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s