[ FF ] : 2112

“Pak, ada yang muncul!” Che berseru.

Mimpiku tentang pulang ke rumah dan menikmati teh hangat buatan istriku, seketika buyar bersamaan dengan datangnya seruan itu. Aku segera berbalik badan dan menjauhi pintu keluar yang tadinya hanya dua langkah dariku. Aku menghampiri meja Che yang sekarang dikerubungi anggota tim yang lain. Mereka pasti ingin pulang juga. Biarpun masih lajang, sekedar tidur seharian di kasur yang empuk pasti sangat berarti bagi tubuh lelah mereka.

Aku menyentuh bahu Rama agar ia memberi ruang lebih luas untukku melihat ke layar komputer Che. Rama bergeser sedikit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang menjadi pusat perhatian.

“Ya Tuhan, please. Setidaknya, 1881 yang muncul!” Che kembali berseru, kali ini penuh doa namun tetap bernada cemas.

“1899. Maka kita bisa berlibur seminggu, Che.” Ruth menimpali optimis.

Sementara itu, layar komputer masih sama seperti beberapa menit lalu. Terus menampilkan ratusan ribu angka yang bergerak cepat. Pertanda akan ada kombinasi empat angka yang muncul beberapa saat lagi.

Aku melirik jam digital di pojok kanan bawah layar komputer Che. Sudah dua menit kami menatapnya seperti ini. Tapi ia masih belum berhenti. Seperti memilih-milih apakah akan memberi kami sebuah hadiah atau kutukan.

“Ini terlalu lama, Che. Kau yakin kita sudah di jalur yang benar?” tanya Zed, mewakili rasa penasaran kami.

“Diamlah!”

Che kesal. Ia tentu yang paling cemas. Walaupun aku ketuanya, tapi ia adalah think tank dalam tim ini. Reputasinya yang bagus bisa hancur di mata para sekutu jika kali ini ia gagal. Waktunya hanya sampai di sini. Tidak ada lagi besok.

“Lihat, ia bergerak lebih lambat sekarang!” Rama menunjuk layar. Kami juga melihatnya. Gerakan ratusan ribu angka itu mulai melambat. Sudah ada kumpulan empat digit angka sesekali muncul di layar, kemudian hilang lagi. Setiap melihat angka dengan tiga digit di depan berisi kombinasi angka 7, 8 atau 9; kami hampir-hampir bersorak. Tapi dua detik kemudian angka itu hilang.

Aku melirik lagi jam digital di pojok kanan bawah layar komputer Che. Kali ini sudah genap lima menit. Memang ada perkembangan dari tampilan tadi. Tapi tetap ini terlalu lama. Rasa optimis perlahan-lahan mengendap menjauhi ruangan ini. Anak buahku terlihat lebih banyak cemasnya sekarang.

“Ya sudah, Che. Aku haus. Aku akan ambil minum untuk kita. Berdiri lima menit di sini membuatku dehidrasi.” Zed melangkah mundur. Ruth mengikutinya.

“Pergilah. Mungkin ia memang benci padamu dan baru akan muncul kalau hidungmu tak mengendusnya demikian dekat,” komentar Che, kesal.

“Diam!” Akumenyahut agar ia lebih tenang. Entah mengapa aku sedikit percaya bahwa mesin akan mengikuti perasaan pemiliknya. Dan aku tak mau hal buruk terjadi, seburuk perasaan Che sekarang.

Tapi benar apa yang dikatakan Che. Sesaat kemudian layar semakin lambat. Kombinasi empat digit angka yang keluar semakin sedikit. Aku melihat Rama mendesiskan hitungan mundur dimulai dari angka sepuluh. Kini delapan. Tujuh. Enam. Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu.

Sebuah kombinasi empat angka muncul. Sebuah saja. Tidak ada kombinasi angka lain. Kami menahan napas sejadi-jadinya. Aku bisa merasakan Zed dan Ruth pun menoleh ke arah sini. Mereka tak kalah terkejutnya.

2112.

Bahu Che bergetar. Ia menunduk. Tangisnya pecah tanpa suara. Aku mengelus kepalanya. Ia menoleh. Air mata banjir di pipinya.

“Tidur, nak. Ayah akan pulang dan menemui ibumu.”

Zed, Ruth dan bahkan Rama menatapku hampir seolah-olah aku hantu. Aku menarik senyum sebal. Ah, aku pikir mereka tahu!

529 kata

2 thoughts on “[ FF ] : 2112

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s