Muzaki Corner

Waktu itu akhir 2008 dan saya belum lama-lama meninggalkan status ‘sweet seventeen’ saya. Waktu itu jelas sekali saya belum tahu apa-apa soal zakat dan muzaki, saya cuma anak belum lulus stm yang butuh tempat magang supaya laporan akhir saya bisa dibuat.

Saya menginjakkan kaki ke lembaga ini dan dititipkan ke divisi fundraising untuk mengerjakan laporan donasi dan mengirimkannya kepada muzaki. Waktu itu saya bahkan belum paham flow pengiriman laporan donasi ini. Saya mencetak saja, melakukan pengemasan, kemudian memberikannya kepada seorang kurir vendor.

Melakukan tiga langkah itu, diam-diam saya mulai mengecek laporan pengiriman yang saya terima dari kurir. Ada sebuah kata yang terus menerus muncul di laporan-laporan itu: RETUR. Wah, laporan donasi yang sudah capek-capek saya cetak ternyata tidak diterima si muzaki. Sayang sekali.

Beberapa bulan ada di sana, bergaul dengan guru-guru super keren membuat saya mulai terbantu untuk tahu lebih banyak. Ternyata jangankan terpenuhinya semua aspek pelayanan, pelaporan sederhana seperti bukti setor dan laporan donasi ini saja rasanya masih sangat sulit tersampaikan kepada muzaki. Apalagi setelah saya tahu bahwa daftar konfirmasi pembayaran muzaki mengular panjang dan masih belum terselesaikan.

Di awal-awal 2009, kesukaan saya terhadap membaca buku diiringi dengan kemalasan saya berjalan ke toko buku tapi dibarengi pula dengan ketidaktegaan saya membaca ebook bajakan, telah mempertemukan saya dengan teknologi baru: TOKO BUKU ONLINE. Saya suka sekali belanja-belanji di toko buku online dan saya punya sebuah toko buku online andalan.

Awalnya saya tidak pernah mengait-ngaitkan pekerjaan saya di tempat magang itu dengan hobi baru beli buku di toko buku online. Sampai suatu hari saya memperhatikan halaman konfirmasi pemesanan buku di toko buku online andalan. Setelah saya melakukan transfer dan mengkonfirmasi, pemesanan buku yang semula berstatus ‘submitted’ sekarang berubah menjadi ‘process’ dan 2 hari kemudian menjadi ‘completed’ ketika akhirnya buku saya terima.

Berawal dari melihat halaman website itulah, saya akhirnya mulai diskusi-diskusi kecil dengan guru-guru saya di lembaga, termasuk salah satunya dengan alumnus stm saya juga. Kami sadar bahwa masalah konfirmasi pembayaran ini sangat kritis dan perlu dicarikan solusinya. Dan kami rasa, halaman konfirmasi pemesanan buku itu bisa dijadikan contoh yang cukup baik. Dengan syarat, proses penelusuran transaksi pun tak boleh terlampau lama. Hingga berkembang ide bahwa nantinya muzaki tidak perlu menunggu-nunggu kurir datang, bukti setor dan laporan akan terakses dengan mudah dari gadget mereka sendiri. Yippiii!!!

Time after time, bertahun-tahun setelah masa-masa itu, sampailah saya di hari ini. Sistem konfirmasi pembayaran yang diam-diam menjadi mimpi kami itu akhirnya terwujud. Masih sangat jauh dari sempurna, memang. Dan mungkin tidak akan pernah jadi sempurna. Kami pun tidak menghendaki kesempurnaan itu. Karena kami takut kesempurnaan akan menjauhkan kami dari keinginan untuk berbuat lebih dan berdoa lebih lagi.

Welcome to the world, muzaki corner!

muzaki corner

One thought on “Muzaki Corner

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s