[ FF ] : Di Gang Kecil

Chika menggeser kakinya sedikit ke kanan. Sekarang, ia sudah tersembunyi dengan sempurna. Ujung sepatunya yang tadi terkena sinar matahari yang menelusup masuk di antara celah rumah-rumah, kini sudah benar-benar tak terlihat dari ujung gang sana. Setidaknya, itulah yang Chika yakini. Orang-orang dewasa yang jahat itu tidak akan sanggup menemukannya.

Chika menunduk menatap ujung sepatunya lagi. Ia berharap, dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, ujung rambut hitamnya bahkan akan ikut masuk ke dalam sepatunya, seperti sepasang kakinya yang kecil sehingga ia tak akan terlihat oleh orang-orang dewasa jahat itu jika mereka melewati gang ini.

Chika mundur lagi sedikit, hingga punggungnya yang berlapis kaos tipis musim panas menyentuh dinginnya air buangan dari pendingin ruangan yang menempel ketat di tembok di belakangnya.

Chika mengintip ujung gang. Masih kosong. Hanya ada rongsokan benda-benda yang tak ia kenali di sana. Teronggok begitu saja seiring waktu datangnya orang-orang dewasa jahat itu ke tempat ini. Chika ingat waktu pertama kali mereka datang. Ia sedang bermain di ujung gang itu, mengejar seekor kupu-kupu berwarna ungu yang sebelumnya tampak mengelilingi tanaman bonsai milik ibu.

Chika mengejar kupu-kupu itu bersama teman-temannya. Lalu entah mengapa kupu-kupu itu tiba-tiba turun ke tanah. Tak jatuh, ia hanya hinggap di atas aspal. Waktu itu sempat terpikir oleh Chika apa menariknya sebuah aspal abu-abu? Mengapa kupu-kupu sampai harus hinggap di atasnya. Sedetik kemudian, Chika menganga saking kagetnya ketika ia melihat kupu-kupu ungu yang cukup cantik itu terlindas sebuah roda hitam pekat yang amat besar. Saat Chika mendongak mencari tahu siapa pemilik roda itu, di situlah pertama kali ia melihat salah seorang dari orang-orang dewasa yang sekarang mungkin sedang mencarinya.

“Cari anak itu!” seru seseorang. Chika mengenalinya. Itu adalah suara orang dewasa yang tadi menarik kerah Roni sebelum melemparkannya ke tembok pemilik warung mie. Chika melihat ingus Roni berubah menjadi merah setelah ia tergeletak di samping tembok bau itu.

Chika merapatkan lagi tubuhnya ke tembok yang basah di belakang. Dingin. Bulu kuduk Chika berdiri. Ia mengosok-gosokkan bulu-bulu yang terhampar di atas lengannya.

“Kau cari di sana, aku akan melihat-lihat gang ini!” Chika tahu ini bukan suara yang tadi. Ini pasti temannya.

Chika menahan napasnya. Ia khawatir hembusan napasnya akan membuat orang dewasa jahat itu datang dan menarik kerah bajunya. Kemudian Chika akan bernasib sama dengan Roni. Walaupun ingusnya tak sesering ingus Roni keluar, tapi Chika tak begitu yakin bahwa itu berarti nasibnya akan berbeda.

Chika mendengar suara langkah yang berat. Sepatu orang dewasa jahat itu sangat besar, sehingga menimbulkan suara yang berdegup kencang seperti suara dadanya saat ini. Chika ingin mengintip, tapi ia terlalu takut melakukannya. Ia takut matanya akan bertemu mata orang dewasa jahat itu dan ia akan ditemukan.

“Hei, apa yang kau lakukan di situ? Gang yang ku masuki tadi sangat bau. Mungkin yang itu juga. Anak kecil tak akan kuat masuk ke dalamnya. Ayo kita kembali!” Itu suara orang dewasa jahat yang melempar Roni.

Chika refleks mengendus-endus. Ia tak menemukan bau apapun yang terasa berlebihan. Walaupun tak bersih, tapi gang ini tak bau.

“Karena itulah aku yakin ia ada di sini, bodoh.” Suara seorang dewasa jahat lagi tetap tenang. Chika merasakan dadanya kian berdegup saat mendengar kalimat itu. Ia merasa seperti ingin muntah. Chika mulai yakin bahwa dirinya ketakutan. Ya, ia sangat takut.

Chika memutuskan untuk memandangi langit di atasnya. Saat ini, langit seperti sebatang penggaris milik guru matematikanya. Panjang, tapi kurus. Warna abu-abu awan mendung menghiasi langit yang tak begitu kentara birunya. Langit itu kurus dan panjang, tapi Chika merasa lapang hanya dengan memandangnya. Andaikan ia seekor kupu-kupu ungu yang pintar —Well, maksudnya tak cukup bodoh untuk hinggap di atas aspal lalu kempes ketika roda hitam besar melindasnya— ia pasti bisa terbang bebas dan berhenti bersembunyi di gang kecil ini.

Chika terus memandangi langit hingga ia mulai merasa mengantuk. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ketika ia yakin akan jatuh pulas, tiba-tiba ia melihat seekor kupu-kupu di langit. Kupu-kupu itu terbang rendah seperti ingin menangkap tubuh Chika. Chika hampir bersorak girang. Tapi ia tahu itu tak mungkin. Orang dewasa jahat itu akan menemukannya dan melemparkan tubuhnya.

Chika menutup mulutnya rapat-rapat sambil terus memandangi kupu-kupu itu. Sementara itu, langkah-langkah berat orang dewasa jahat itu terasa kian mendekat. Tapi Chika tak peduli. Ada kupu-kupu itu, ia berani.

Kemudian, Chika sadar bahwa kupu-kupu ini bodoh ketika tiba-tiba saja ia tak terbang lagi tapi justru hinggap di atas aspal di depan Chika. Seperti kawannya yang dulu.

Suara langkah berat itu maju, terdengar lagi. Chika melompat. Keluar dari persembunyiannya di belakang kotak-kotak kayu. Ia menelungkupkan tubuhnya melindungi kupu-kupu bodoh itu.

Chika menekan wajahnya ke aspal. Ia melihat kupu-kupu bodoh itu terlindungi di balik tubuhnya yang menelungkup. Lalu, terdengar bunyi gesekan sebuah benda besi keluar dari sarangnya. Chika tahu benda apa itu. Sedetik kemudian, ia mendengar suara letusan.

776 kata

2 thoughts on “[ FF ] : Di Gang Kecil

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s