[ FF ] : OAG’s Diary – (Telephone)

Dua menit sudah. Masih hening. Tidak ada bunyi apapun dari ponselku. Tidak ada kedip-kedip merah yang artinya ada pesan masuk. Jadi, aku letakkan ponsel itu pelan-pelan di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Pipiku gatal. Baiklah, aku menggaruk pipiku saja. Tiga kali garukan dan cukup, sudah tidak terlalu gatal lagi.

Ah, jangan-jangan aku gatal karena belum mandi. Aku menarik handuk dari jemuran alumunium di beranda. Aku mengambil ponsel dari atas meja. Tidak ada kedip-kedip merah, tapi aku tetap mengecek pesan. Dan benar, tidak ada yang masuk.Β Aku meletakkan lagi ponsel itu di tempat semula dan segera beranjak meninggalkan kamar sempitku menuju kamar mandi.

Sampai di kamar mandi, aku menggantung handuk ke paku. Setelah itu, pintu kamar mandi siap untuk ku tutup. Sebentar, mungkin tak ada salahnya melihat ponselku dulu. Barangkali ada pesan masuk.

Aku meninggalkan kamar mandi dan menuju kamarku. Ponselku masih tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sama seperti tadi. Wah, ada kedip-kedip merah. Aku segera membuka layarnya yang terkunci dengan password sepuluh huruf rahasia.

Ada pesan! Aku hampir terlonjak bahagia. Aku membukanya cepat-cepat.

eh, materi presentasinya udah gue kirim yaa.

Ah. Ku kira siapa. Ku kunci lagi layar ponsel itu dan melemparkannya ke atas kasur. Aku berlari menuju kamar mandi dan segera menutup pintunya.

Aku meraih sikat gigi dan menggenggam gagangnya dengan kuat. Aku harus menyelesaikan sikat gigi sebelum berlari ke kamar untuk mengecek ponsel.

Pasta gigi berwarna hijau yang katanya mengandung daun sirih —tapi aku tak percaya— siap aku masukkan ke dalam rongga mulut. Tiba-tiba, ponselku berdering.

Aku letakkan sikat gigi —dan pasta gigi hijaunya, lalu segera berlari menerjang pintu kamarku. Sampai di dalam kamar, aku mencari ponselku. Ah, di mana dia? Bukannya aku meletakkannya di atas meja kecil ini? Tidak ada.

Sementara itu, bunyi deringnya masih keras terdengar. Aku mencoba mencari posisinya dengan bermodalkan suara itu. Tapi tidak ada di aman-mana. Aku mencari di atas kasur. Di bawah bantal, di antara lembaran selimut, bahkan di bawah sprei. Tapi tak mampu kutemukan.

Dalam hati, aku sibuk mengingat-ingat di mana ku taruh telepon genggam itu. Sementara itu, satu ruang di kepalaku merasa cemas luar biasa karena lima dering sudah suara yang terdengar dari ponsel itu. Dua dering lagi, maka mesin penjawab otomatis dari operator akan menggantikan dering itu. Tidak boleh. Aku tak boleh membiarkan itu terjadi.

Tanganku masih berusaha menggapai-gapai celah tersempit tempat tidur dan area sekitar meja kecil di sampingnya. Masih tak ada. Sebentar— ah, itu dia. Tergeletak bodoh di atas bantal yang tak ikut ku acak-acak tadi. Aku meraihnya. Aaaaakkk, ada namanya di layar!!! Aku siap menekan tombol hijau dan —klik. Tak ada dering lagi. Mati.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s