[ Cerita ] : 1999 – 2012 (5)

“– Cerita, enggak. Cerita, enggak. Cerita, enggak. Cerita, enggak. Cerita.”

Kututup jari kesepuluhku ke dalam genggaman. Cerita? Apa benar bahwa aku harus bercerita padanya tentang apa yang kulihat di rumah ini? Ah, seandainya ia adalah orang yang baik tentu akan mudah bagiku untuk bercerita padanya. Bukan hanya tentang hantu-hantu itu. Tapi juga tentang segalanya. Tentang hari-hariku, tentang perasaanku, tentang apa yang ku pikirkan, bahkan apa pendapatku tentang rasa ayam goreng yang tidak karuan ini.

Namun masalahnya adalah, wanita di depanku ini benar-benar tidak menyenangkan. Ia seorang jomblo akut yang bahkan belum menikah di usianya yang ke 37 tahun! Tapi aku bisa mengerti itu. Bagaimana mungkin ia bisa dekat dengan lelaki kalau garis bibirnya selalu berbentuk kurva tertutup. Ia hampir tak pernah tersenyum.

“Kenapa? Kamu ‘nggak suka ayam gorengnya?”

Gawat. Ia sadar aku tak berminat makan. Baiklah. Aku akan mengunyahnya sedikit demi sedikit. Mungkin aku bisa sambil bertanya tentang hantu-hantu itu.

“Eh– ‘Nggak kok. Ngomong-ngomong, siapa penghuni rumah ini sebelum kamu?”

“Maksud kamu, sebelum kita?” Ia malah balik bertanya.

“Lho, bukannya tante tinggal di sini sendirian sebelum ada aku?”

“Kita tinggal bersama sejak–”

Ah, apa ku bilang. Selalu tidak menyenangkan bicara dengannya. Selalu tidak jelas dan tanpa kesimpulan. Ia akan terus menerus memotong kata-katanya sendiri. Itulah sebabnya aku benci tinggal bersamanya. Beruntung mulai minggu depan aku tidak tinggal di sini lagi. Ah, iya. Bunda akan datang sebentar lagi. Ya sudah, aku akan mengalihkan topik.

Tiba-tiba pintu diketuk sebelum aku membuka topik baru tentang bundaku.

“Itu pasti Bunda. Aku akan kenalin tante.”

“Oh, ya–” Lagi-lagi, memotong kata-katanya sendiri dan sering kikuk.

Aku bangkit dari kursiku dan segera menuju pintu. Ketika membuka gagang pintu, wajah cantik bundaku menyambut.

“Ela! Akhirnya ketemu lagi sama bunda. Bunda kangen.” Bunda memelukku, hangat. Seperti biasa. Ia langsung berceloteh tentang perjalanannya selama ke Makassar dan mengatakan betapa rindunya ia padaku. Aku membawanya ke ruang makan di mana tanteku dan ayam gorengnya yang tak enak itu sudah menunggu. Ia sedang duduk menunduk menatap ayam goreng itu ketika aku dan bunda sampai di sana.

“Tante, kenalin. Ini Bunda.” Aku menepuk bahunya.

Tante menoleh, lalu seketika raut wajahnya berubah. Aku menoleh kepada bunda. Ia terkejut luar biasa melihat wajah tanteku. Ada apa ini?

“Rani!!” pekik tanteku, tiba-tiba.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s