[ Cerita ] : Sera

“Tuan, jarak mereka tinggal empat hari lagi dari bukit ini.”

“Ya,” komentar Zaha, singkat.

“Anda harus mengutus seseorang.”

“Menurutmu, siapa yang harus ku utus?” tanya Zaha.

“Tuan yang lebih tahu siapa yang pantas.”

Pengawal Han menundukkan kepalanya. Tapi lewat gerakan bola matanya yang samar, Zaha bisa membaca maksud hati pengawal muda itu.

Zaha bangkit dari tempat duduknya. Ia mengusap-usap janggutnya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut putih. Melihat tuannya bangkit dan berjalan menuju luar tenda, para pengawal segera menempati posisi mereka. Han termasuk di antara mereka. Ia berdiri tepat di belakang Zaha.

Sesampainya di luar, Zaha mendengar suara dentingan pedang saling beradu. Ia tahu ada yang sedang berduel.

Zaha naik ke atas bukit tak jauh dari tenda dibangun. Dari atas bukit kecil itu, ia bisa melihat duel itu. Zaha tak ingin tahu siapa yang sedang berduel. Ia tahu dari dentingan pedang-pedang itu. Salah satu dari mereka pasti Sera.

Zaha mengambil posisi tepat di tengah puncak bukit. Di bawah bukit tepat di depannya, Sera, sang jenderal pasukan panah sedang berduel dengan Jenderal Lang yang berusia delapan tahun lebih tua dan lebih senior. Suara dentingan pedang masih mengudara di dingin pagi.

“Han, bagaimana menurutmu? Siapa yang akan memenangkannya?” tanya Zaha.

“Tuan sungguh-sungguh ingin tahu pendapat saya?” Han balik bertanya. Zaha mengangguk.

Han mengamati sebentar. Ia, seperti juga tuannya, bisa melihat dengan jelas arah pertandingan. Walaupun belum ada satu pun yang terluka, tapi Han dapat melihat dari cara Jenderal Lang menarik napasnya, ia sudah kelelahan. Berbeda dengan Sera yang masih semangat menggempur.

Han ingin menjawab pertanyaan tuannya tadi. Tapi ia melihat mata tuannya mengikuti tiap gerak Sera dengan tatapan penuh kekaguman.

“Tuan.”

“Ya? Kau sudah menemukan jawabmu?” tanya Zaha.

“Betul, Tuan.”

“Aku tahu siapa yang akan kau sebut.”

“Ya, tuan tentu memiliki pengamatan yang lebih baik daripada saya.”

“Kau tahu Sera terlibat pada penarikan pasukan di barat daya dekat hutan hitam?” tanya Zaha.

Han tercekat. Itu peristiwa delapan bulan lalu. Zaha tentu sudah memaafkan Sera. Han tahu itu.

Zaha mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada Sera dan Lang untuk menghentikan duel mereka.

“Sera!”

Sera menunduk dan mendekat kepada tuannya.

“Serahkan pasukanmu kepada pengawal Han,” titah Zaha. Han hampir pingsan mendengarnya. Ia ingin membantah, tapi ia tahu itu sama saja dengan sebuah pengkhianatan.

Takut-takut, Han yang sejak tadi menunduk memberanikan diri melihat ke arah Sera. Ternyata, Sera sedang melihat kepadanya. Sambil tersenyum hormat.

Han terkejut. Ini lebih dari naik pangkat tiga kali dalam sebulan.

Sera mengalihkan pandangan kepada Tof, wakilnya. Tof datang dengan panji pasukan panah dan memberikannya kepada Sera. Sera tersenyum dan memberikannya kepada Han. Han memegangnya dengan teguh.

“Kau diizinkan pergi, Sera,” kata Zaha.

Sera ternyum sekali lagi kemudian menunduk. Ia membayangkan air terjun hutan Rota yang sedingin es akan menusuk-nusuk punggungnya. Tapi Sera masih tersenyum. Baginya, hanya dengan cara itu harta termahalnya akan kembali. Kepercayaan Zaha.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s