[ Cerita ] : 1999 – 2012 (4)

“Wi!” Seseorang menepuk-nepuk pipiku. Syukurlah, artinya aku selamat. Sebentar, bau apa ini? Sepertinya ada yang menjejali hidungku dengan wewangian yang tak wangi. Hentikan, itu sudah cukup. Sekarang perutku mual.

“U..dah..” ku coba menggerakkan bibirku, mencegah siapapun merangsang kesadaranku dengan mengusik kedamaian hidungku.

“Hei, dia udah hampir sadar. Ayo tambahin!” Seseorang dengan kurang ajarnya mengolesi lubang hidungku dengan sesuatu yang aku tahu apa itu. Minyak kayu putih.

“Stop!!!” Aku langsung duduk dan membuka mataku lebar-lebar. Kepalaku sakit dan pemandangan di sekitarku seperti menguning.

“Tuh ‘kan, dia sadar,” kata seseorang. Siapa itu? Oh, Sheila.

“Siapa sih yang ngasih kayu putih?” tanyaku kepada kelima temanku ini.

“Rani, Kak Wi,” tunjuk Sheila.

“Tapi ‘kan lo yang nyuruh, Sheil,” elak Rani.

“Yaudah, stop! Enggak usah pake’ main salah-salahan. Minggir, gue mau bangun.”

“Terus, elu kenapa bisa pingsan di sini, Wi?” tanya Teguh. Ah iya, aku jadi ingat. Aku tidak mau tinggal di sini bersama hantu itu.

“Jo, cicilan pertama belum dibayar, ‘kan?”

“Cicilan apa, Kak Wi?” tanya Ajo, adikku.

“Cicilan rumah ini,” jawabku. Tapi Ajo malah melemparkan pandangan kepada Kak Wahyu.

“Kak Desi udah bayar tunai kemarin. Seratus dua puluh juta. Murah, ‘kan? Nenek-nenek yang punya rumah ini mau pindah ke kampung biar deket cucunya. Jadi dia cuma minta segitu,” jawab Kak Wahyu.

“Oh, no–”

“Emang kenapa, Kak Wi?” tanya Ajo.

“Gue enggak mau tinggal di sini.”

“Lho, kenapa? ‘Kan kemarin Kak Wi sendiri yang minta cepet-cepet pindah,” sambung Sheila.

Benar kata mereka. Memang aku yang minta agar rumah ini segera ditempati. Bagaimana pun, aku sudah tak sanggup lagi menjadi beban keluarga mendiang suamiku. Mulai sekarang aku akan hidup mandiri bersama Icha. Tapi tetap saja, hantu yang kulihat di koridor tadi mengganggu perasaanku. Aku tidak terlalu takut, tapi bagaimana dengan Icha? Aku khawatir sesuatu yang buruk akan menimpanya. Perasaanku benar-benar tidak nyaman akan rumah ini.

“Yaudah, kayaknya Kak Wi baik-baik aja. Mungkin cuma butuh istirahat. Ayo kita turun dan main lagi sama Icha,” tutup Sheila sambil mengajak yang lain.

“Kak Wi, aku bantuin kamu beresin buku-buku ini ya,” kata Rani sambil memindahkan buku-buku dari kardus ke dalam lemari yang masih kosong. Dari tatapannya, aku tahu ia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin ku ceritakan hanya kepadanya. Syukurlah aku punya sahabat sepertinya.

“Sip, kita turun ya!” Kak Wahyu membantuku berdiri kemudian keluar dari kamar bersama Sheila, Ajo dan Teguh.

Begitu pintu tertutup, Rani berhenti merapikan buku dan mengajakku duduk di tepi tempat tidur. “Jadi, apa yang mau Kak Wi ceritain ke aku?”

“Ran, ada seorang tak dikenal di sini. Di rumah ini,” kataku, ragu-ragu.

“Maksud Kakak? Semacam hantu?”

“emm, ya.”

“Jadi, gara-gara itu kakak pingsan? Dia enggak ngapa-ngapain Kak Wi, ‘kan? Nyekik atau yang sejenisnya, gitu”

“Enggak.  Tadinya dia cuma berdiri di depan pintu. Terus dia nengok dengan gerakan pelan banget. Dan pas dia ngeliat Kakak, dia langsung melotot.”

“Ya ampun, terus wujudnya gimana, Kak? Mukanya?”

“Dia pakai baju putih, rambutnya panjang sepinggang. Dan– ada darah ngalir dari ujung bibirnya ke dagu.”

“Hah?”

“Anehnya, Ran. Walaupun ada darah dekat mulutnya. Tapi menurutku, dia enggak serem. Dia masih muda dan seperti manusia. Walaupun tubuhnya transparan.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s