[ Cerita ] : 1999 – 2012 (3)

Aku berlari kencang menuju kamar mandi dan segera menutup pintu begitu masuk ke dalamnya. Leherku terasa amat sakit akibat kesulitan bernapas. Aku bahkan masih terengah-engah! Siapa wanita di kamar kosong itu? Mengapa ia pingsan begitu melihatku? Lalu, mengapa aku malah berlari? Barangkali wanita itu membutuhkan bantuanku. Tapi, siapa ia? Bagaimana bisa ia ada di sana? Terlebih lagi, mengapa wujudnya begitu ganjil? Ia transparan! Ia pasti bukan manusia.

Ouch, luka di gusiku terbuka lagi. Darah mengalir keluar dari mulutku dan menetes hingga ke tepi dagu. Ini pasti karena saking terkejutnya, mulutku sampai menganga. Dengan gaun tidur berwarna putih begini, wajar jika wanita itu sampai pingsan. Aku pasti terlihat seperti seorang vampir wanita penghisap darah yang baru pulang dari tugasnya.

Ku buka kran dan kubasuh wajahku. Ah, segar sekali. Wanita itu, siapa ya dia? Apakah aku harus kembali ke kamar kosong itu? Ya, aku harus kembali. Ia memang menyeramkan, tapi— Ya, aku justru harus memastikan itu. Bukankah jika ia memang berbahaya aku jadi tahu siapa musuhku dengan mengeceknya sekali lagi?

Ku raih gagang pintu, ku putar, lalu aku menariknya. Astaga, hampir saja jantungku copot. Wajah Si Tante muncul dari balik pintu. Hanya beberapa sentimeter dari hidungku.

“Ini handukmu,” kata Si Tante sambil menyerahkan handuk biru milikku.

“Oke, makasih.” Ku ambil handuk itu, aku masuk lagi ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Eh, sebentar. Barangkali Si Tante tahu siapa wanita itu. Sekali lagi, aku membuka pintu.

“Tan!” panggilku. Si Tante sudah hampir sampai ke anak tangga. Ia pasti ingin menyiapkan sarapan di dapur.

“Kenapa?”

“Tante tahu enggak—”

Tiba-tiba, lima orang asing datang dari arah tangga. Dua wanita dan tiga pria. Anehnya, aku merasa bahwa orang-orang asing ini baru saja melewati Si Tante yang berdiri di depan tangga. Orang-orang asing itu, melewati Si Tante seolah-olah Si Tante tak pernah ada di situ. Mereka berjalan, menembus tubuh Si Tante. Dan ketika aku ingin berteriak, aku menyadari sesuatu. Seperti juga wanita di kamar kosong itu, orang-orang asing ini bertubuh transparan hingga aku bisa melihat pintu kamarku yang harusnya terhalangi tubuh mereka.

Bibirku gemetar, aku ingin berteriak. Tapi kuurungkan niatku itu. Apa yang akan terjadi jika mereka mendengar suaraku? Si Tante menghampiriku dan bertanya, “kamu kenapa sih?”

“Tante, siapa mereka?”

“Mereka siapa?” tanyanya, sambil melihat ke arah koridor. Dari tatapan bingungnya, aku kini sadar bahwa Si Tante tidak melihat mereka.

6 thoughts on “[ Cerita ] : 1999 – 2012 (3)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s