Rindu Hujan

“Juni, coba perhatikan awan-awan itu. Apakah mereka bergerak ke sini?” tanya Mei, matanya tertutup hampir seakan ia telah tertidur.

“Belum. Lagipula, aku akan membawamu masuk ke dalam begitu mereka datang.” Juni memandang jauh ke ujung langit barat yang didominasi kelabu pekat.

Mei mengulurkan kedua tangannya yang tadi bersedekap. Wajahnya mendongak kepada langit biru yang menaungi mereka. Matanya masih tertutup. Angin lembut memberi kehangatan pada ujung hidungnya yang tadi dingin dan mendamaikan kedutan matanya yang sejak pagi tak mau berhenti.

“Tapi, Juni, aku suka sekali hujan. Ia turun, seperti hanya ingin memberiku sebentuk senyum.”

4 thoughts on “Rindu Hujan

      • “Juni, coba perhatikan

        awan-awan itu. Apakah mereka
        bergerak ke sini?” tanya Mei,
        matanya tertutup hampir
        seakan ia telah tertidur.

        “Belum. Lagipula, aku
        akan membawamu masuk
        ke dalam
        begitu mereka datang.”
        Juni memandang jauh
        ke ujung langit barat
        yang didominasi kelabu pekat.

        Mei mengulurkan kedua tangannya
        yang tadi bersedekap.
        Wajahnya mendongak kepada
        langit biru yang menaungi
        mereka. Matanya masih
        tertutup. Angin lembut
        memberi kehangatan
        pada ujung hidungnya
        yang tadi dingin
        dan mendamaikan kedutan
        matanya yang sejak pagi
        tak mau berhenti.

        “Tapi, Juni, aku suka sekali
        hujan. Ia turun, seperti
        hanya ingin memberiku
        sebentuk senyum.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s