[ Cerita ] : 1999 – 2012 (2)

Alarm berdering. Aku lupa, dering keberapa ini. Siapa suruh aku menyetel beberapa alarm dalam sehari? Jam lima pagi untuk bangun, jam enam pagi untuk benar-benar bangun, jam tujuh pagi untuk mandi, jam delapan pagi untuk berangkat, dan seterusnya setiap satu jam sekali hingga jam dua belas siang. Aku tahu itu tak efisien dan agak percuma terutama karena setiap hari pun akan sama saja. Aku akan mematikan alarm pertama, kedua, dan baru benar-benar bangun di alarm ketiga, lalu berlarian sepanjang koridor menuju kamar mandi. Belum lagi aku akan kerepotan mematikan alarm itu ketika sedang berada di kelas, atau di toilet, atau di kantin, atau di mana saja yang tak wajar jika sampai terdengar bunyi alarm.

Ibuku sudah memintaku menghentikan kekonyolan alarm itu. Aku pun sudah mencobanya. Tapi entahlah, hidupku terasa sunyi tanpa alarm-alarm itu. Jadi ku putuskan untuk tetap membawa alarm itu -beserta seluruh resikonya- ke dalam hidupku.

Jadi, sampai di mana aku tadi? Ah, ya! Aku sedang mencari-cari di mana telepon genggamku yang sedang menderingkan alarm itu. Aku menggapai-gapai di sekitar tubuhku berbaring, tapi aku tak juga mampu menemukannya. Klik. Kemudian sepi, tak ada bunyi. Siapa yang mematikan alarm itu?

“Makanya, buka dong matanya. Dicari sampai kamu bodoh pun, nggak akan ketemu.” Ternyata Si Tante. Malas menanggapinya, aku bangkit dari kubangan lem super bermerk “KASUR”.

Ouch. Ini memalukan. Liur bercampur darah kental jatuh dari mulutku ke atas bantal. Aku lupa semalam adalah malam paling panjang bagiku. Kemarin sore, aku dioperasi. Hanya operasi gigi. Tapi ini adalah gigi bungsu terakhirku. Butuh rontgen berulang kali sebelum akhirnya pembedahan dilakukan. Dan rasanya sakit sekali walaupun aku yakin sudah dibius lokal. Sebenarnya tak masalah kalau saja aku tak makan semangkuk besar mie ramen super pedas. Tapi ya itu tadi, ramen itu membuat pendarahan terjadi lagi dan susah dihentikan sampai aku tertidur pulas tak sadarkan diri.

Aku mencari tisu, tapi tak ketemu. Si Tante sudah asyik dengan novel kesukaannya, “Pride and Prejudice”. Padahal seingatku ia sudah berulang kali membacanya. Ya sudah, dia tak melihat. Tak seorang pun melihat. Aku tak membutuhkan tisu lagi. Jadi aku berjalan menuju kamar mandi di ujung koridor sambil menutup mulut dengan tangan, menahan agar darah tak jatuh mengotori lantai.

Srek. Suara gorden ditarik. Ada seseorang di kamar itu? Bukannya kosong? Ah, barangkali ada Si Tante sedang berbenah. Eh, dia ‘kan sedang di kamarku. Jadi, siapa?

Aku ingin menoleh, tapi aku takut. Ada angin bertiup dari gorden yang tadi dibuka di kamar itu. Angin itu meniup rambutku, memainkan ujung gaun tidurku hingga dinginnya menyentuh kulitku. Aku merinding.

Saat itu, rasanya aku ingin berlari kencang. Tapi kakiku terpaku dan menahanku di titik itu. Tepat di depan pintu yang terbuka itu. Apakah aku harus menoleh? Tapi bagaimana jika hantu seram akan muncul?

Pluk. Sesuatu jatuh di dalam kamar itu. Refleks, aku menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita berambut panjang melewati bahu. Anehnya, aku bisa melihat jendela dan gorden ungu melambai-lambai walaupun aku yakin wanita itu sedang membelakanginya. Bibir wanita itu gemetar, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Sorot matanya yang sendu, menatap tepat di mataku. Tiba-tiba, ia pingsan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s