[ Cerita ] : 1999 – 2012 (1)

Kardus-kardus berisi koleksi buku masih bergelimpangan tak teratur di depan pintu calon kamarku. Sudah lima belas menit berlalu, suara riuh teman-temanku dari lantai bawah masih terdengar. Tapi entah mengapa, aku merasakan sepi mengungkung tempat ini.

Aku menoleh ke arah pintu. Aku merasakan ada yang datang. Sedetik, dua detik, lima detik, hampir setengah menit. Tidak ada siapa-siapa. Aku masih menunggu, mematung tak bergerak. Padahal seharusnya deburan suara jantung sanggup membuat tubuhku berguncang.

Kemudian, seberkas cahaya seperti turun dari atap, jatuh menyorot lantai kayu berwarna beige di depan pintu. Sesuatu bergerak melewati cahaya itu. Bukan sesuatu, seseorang. Wanita dengan rambut panjang hampir sepinggang, yang tak dapat kukenali wajahnya. Ia lewat seperti angin, ringan dan melayang. Aku melihat ke bawah. Kakinya yang berpijak di atas lantai kayu itu ternyata transparan.

Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku terasa tercekik. Udara dingin menjalari kepalaku hingga turun ke kaki. Aku merasa darahku seperti menguap dan meninggalkan tubuhku yang kehilangan oksigen. Sakit sekali. Napasku mulai tak teratur. Ketika aku merasa siap untuk pingsan, wanita itu menoleh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s