Radical Dreamer

“Heh, dirimu! Ngapain di sini?”

Lah, tiba-tiba aja ada tetangga kubik gue yang semalem katanya mau ke stasiun gambir. And yes, dia pake baju yang sama kayak semalem. Atasan hijau dan sepatu ungunya yang baru itu. Gue coba merhatiin baik-baik sekitar gue. Gapura putih, bengkel ketok magic, warung jajanan. Oke, ini adalah lingkungan di sekitar rumah emak gue yang dulu. Berarti gue lagi mimpi. Simpel.

“Bukannya dirimu ke gambir?” tanya gue ke si tetangga kubik.

“Iya, aku turun di stasiun apaan tuh namanya… Warung..”

“Sentiong?”

“Nah iya!”

Kemudian gue bingung bagaimana bisa naik dari stasiun gambir, lalu turun di stasiun gang (bukan warung) sentiong? Oke, bisa aja sih mungkin. Tapi tetep aneh lah. Naik dari gambir, turun di manggarai, terus nyambung naik kereta ke jatinegara, muter-muter sampe daerah barat-utara ke sana, terus turun di stasiun gang sentiong. Lagian, naik dari gambir terus turun di manggarai aja udah kerasa aneh. Fix, ini mimpi.

“Oh iya, ini suamikuh.”

Suddenly, seorang lelaki kurus tinggi kacamataan (tapi yang ini berkulit terang) –if you know what i mean ya, tetangga kubik…gomen- muncul dari belakang tetangga kubik gue itu.

“Bukannya kemarin kita masih searching-searching souvenir?” tanya gue. Terus gak ngarep dijawab karena ini kan mimpi. Hal-hal aneh macem gitu bisa aja terjadi selama gue ada di mimpi. Kenyataan aja seringkali aneh dan kita gak pernah tau mekanisme semesta (jleb), apalagi mimpi.

Dan benar, dia gak menjawab pertanyaan itu. Atau emang pertanyaan tadi cuma gue ucapin dalem hati? Alih-alih, dia malah nanya, “Mau ke …………………. lewat mana ya?” Gue enggak denger atau enggak inget tempat apa yang ditanyain. Tapi gue menjawab yakin, “Oh, lewat gapura ini. Luruuuus, belok kiri, ada lapangan kecil, tanyain aja sama orang situ yang namanya iwan di mana rumahnya.” Oh jadi dia nanya rumah orang bernama iwan? Kenyataan bahwa salah seorang kakak lelaki gue bernama iwan malah gak gue tanya balik ke si tetangga kubik. Kemudian dia berlalu dari situ.

Enggak lama, scene berganti. Gua duduk di sebuah pendopo yang berdiri di atas sungai kecil berair amat sangat jernih. Gua bisa liat ikan kecil-kecil di sungai itu. Cuaca gerimis dan udara di sekitar situ dingin banget. Gue tau gue lagi enggak di Kwitang. Dan bukan di Jakarta juga. Pasti di luar kota lah ini. Jelas banget. Gue ngeluarin handphone 7310 supernova yang telah lama gue rindukan. Warnanya pink loh! Cantik banget ini hape.

Well, gue enggak tau gue lagi ngapain di situ. Sekedar duduk rileks? Atau nunggu orang? Atau menikmati pemandangan? Pas gue nengok ke depan, gue kayak ada di pinggiran tebing gitu. Tapi cukup luas sih. Di kejauhan itu keliatan gunung dan rumah-rumah orang. Di belakang gue dinding tinggi yang di bentuk oleh alam. Yang misahin si dinding tinggi sama tanah ya si sungai kecil tadi itu.

Terus tiba-tiba angin kenceng banget. “Wah, badai rain forest dateng lagi,” kata gue waktu itu. Pas bangun gue enggak ngerti apa itu badai rain forest. Badai hutan hujan? Ada ya? Enggak tau lah.

Abis itu gue lari melawan angin dan hujan.Menelusuri dinding tinggi tadi.  Terus di salah satu bagian dinding itu, ada celah yang cukup lebar. Dan you know, di celah itu ada tangga dari batu yang tinggiiiiii banget. Tapi gue santainya langsung meniti tangga dan naik ke atas. Pas sampe atas, ada rumah emak gue yang sekarang. Oke, nyatanya emang ada tangga bikinan warga untuk menuju rumah emak gue yang sekarang. Tapi gak setinggi itu.

Terus ganti setting lagi. Gue lagi tiduran di tempatnya Asuna biasa dengerin siaran radio. Di atas tebing gitu loh. Pas gue duduk, gue sadar betapa arghh…. indah banget langit di depan gue. Matahari hampir terbenam. Langitnya orens cantik gitu. Manjain mata banget. Sama banget lah kayak scene-nya Asuna. Dan beneran, ada Shun-kun juga di samping gue. Tapi bukan Shun-kunnya Asuna. Errr…

Gue sama si Shun-kun itu lagi dengerin radio juga. Tapi bukan dari kristal clavis macem punya Asuna. Kalo gue dari handphone 7310 supernova. I miss you well, supernova J Btw, perut gue buncit waktu itu. Ada sesuatu bergerak-gerak di perut. Semoga bukan cacing ya. Dan oh iya, gue juga merasa bahwa gue udah jadi orang kaya di situ. Gak tau sih bisa dapet kesimpulan kayak gitu dari mana. Ya namanya juga merasa.

“Mudah-mudahan dia lahir sehat,” kata Shun-kun sambil melirik perut gue. Jadi, bukan cacing kan?

One thought on “Radical Dreamer

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s