[ Novel ] : Rahasia Meede

Sebelum berangkat, marilah kita mengerjakan pe er dahulu. Dapet tugas bikin review novel yang disuka. Banyak sebenernya novel yang bikin jatuh cinta, tapi berhubung yang lagi ngejogrog di atas kasur yang ini dan memang bukunya bagus banget, uweslah dia yang kena sasaran review. Sila simak😀

IMG00319-20130121-1655

Dari melihat covernya, para pecinta thriller sejarah yang doyan teori konspirasi pasti langsung beli buku ini. Terlebih ini bukan novel sejarah yang menceritakan tentang negerinya orang Barat, tapi novelnya ini menceritakan sejarah bangsa kita. Indonesia tercinta. Huehehehe.

Diawali dengan kisah Bung Hatta dan tim dalam Konferensi Meja Bundar, novel ini langsung bikin gue merasa bahwa KMB itu berhasil bukan hanya karena kepiawaian para pejuang kita dalam bernegosiasi tapi juga karena harta karun VOC itu memang ada dan menjadi salah satu bargaining dari bangsa Belanda biar kita mau membayar hutang-hutangnya VOC yang banyak banget itu.

Masih berkaitan erat dengan sejarah, Si Rahasia Meede ini juga menghadirkan thriller dan misteri lewat kasus pembunuhan berantai yang berpola 7 dosa sosial yang dicetuskan oleh Gandhi. Penyelidikan kasus itu oleh Batu, si wartawan muda yang cerdas dan ternyata adalah pengemban misi rahasia oleh negara itu bikin kita ikut menebak-nebak siapa sih nih kira-kira pembunuhnya. Dan ya, seperti bagaimana cerita misteri, kaget juga pas tau yang bunuh adalah ‘Si Orang Suci’. Oh iya, aksinya Batu yang sampe harus menyamar demi menyelesaikan kasus-kasus itu, bikin bayangan gue terhadap polisi sini jadi 180 derajat lebih keren gitu. Beda sama polisi-polisi gendut yang keliaran di lampu merah atau tv dan tentara-tentara yang lari pagi lewat kontrakan gue tiap pagi. Yang menarik lagi, banyaknya tokoh yang tadinya seakan enggak punya hubungan apa-apa bisa ‘dipertemukan’ dengan baik dan ternyata masing-masing emang punya hubungan erat dengan alur cerita utamanya – which is pencarian harta karun VOC.

Deskripsi-deskripsi tentang Jakarta masa lalu dengan kanal-kanalnya yang konon selalu ramai dilewati kapal-kapal dengan sistem privatisasi seperti jalan tol, sungguh memberikan pengetahuan baru bagi gue. Sebuah teluk kecil di Pulau Banda yang indah dan tak tersentuh tangan pariwisata dengan aroma kebun palanya bikin gue ngiri sama Cathleen yang bisa menikmati semilir angin pantainya dan biru jernih lautnya. Sambil menyeruput teh pala dengan campuran kayu manis, Cathleen yang lagi diculik pun sampe enggak merasa lagi diculik dan malah pengen berlama-lama ada di sana.

Yang lumayan bikin gue tercengang adalah kenapa juga harus Lusi yang jadi istrinya Kalek. Kesannya kurang pas gitu. Kalek itu keren dan punya kesan anti-hero yang bikin gregetan tapi kenapa bisa-bisanya malah dipasangkan sama Lusi yang anak gaul Jakarta dan doyan party serta enggak minat-minat amat sama sejarah. Mungkin sih ya, masalah doyan party dan enggak minat-minat amat sama sejarahnya itu cuma pura-puranya dia biar enggak ketauan sama penjahat-penjahat itu. Tapi kan tetep aja, image Lusi nan seksi udah melekat erat di dirinya dan bikin gue enggak setuju aja kalo dia sama Kalek yang sederhana, namun brilian dan menghanyutkan. Eh iya, tapi gue sih trenyuh juga pas Si Kaleknya bilang bahwa wanita adalah soko guru peradaban yang meneruskan tonggak perjuangan. Sungguh Lusi amat beruntung.

Pokoknya nih buku bagus banget deh. Pada bilang sih Dan Brown-nya Indonesia. Tapi gue justru jauh lebih suka buku ini dari pada buku-bukunya Dan Brown, karena menurut gue Dan Brown cenderung agak menonjolkan karakter Langdon dan bikin gue mikir, “kayaknya Langdon nih khayalan Dan Brown tentang dirinya sendiri deh.” Menurut gue lagi, itu jadi bikin Si Dan Brown keliatan narsis banget. Tapi Ito enggak melakukan itu dengan Kalek atau Batunya. Kalek dan Batu tetap 2 tokoh utama di novel itu yang punya karakter kuat dan sangat menentukan jalannya cerita, tapi enggak ada kesan narsisme Ito di sana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s