pesan dari biji congklak

Pada suatu hari, di halaman belakang sebuah pabrik kopi tradisional. Di belakang kami, gunung Marapi mengamati. Bau khas kopi dan campuran kayu manis tercium di sana-sini. Batok kelapa yang menjadi wadah minum kami tergeletak di antara papan-papan kayu dengan 16 lubang. Di tengah kedamaian itu, kami berisik. Saling berseru, tertawa dan menyorakkan kegembiraan layaknya bocah kecil. Ya, kami sedang bermain congklak.

Picture 260

Waktu itu, kami berdebat tentang bagaimana pemenang ditentukan dalam permainan masa kecil itu. Apakah:

  1. yang paling banyak mengumpulkan biji congklak, atau
  2. yang berhasil bertahan terus berjalan sementara lawan mainnya sudah kehabisan biji congklak di wilayahnya tak peduli betapapun lubang induknya penuh diluberi banyak sekali biji congklak itu.

Menurut poin kedua, setelah permainan selesai. Si pemenang bisa berjalan lebih dulu.

Kemudian, seseorang berkata:

“Biji congklak itu cuma aset untuk berjalan terus. Nyatanya banyak yang lubang induknya penuh tapi dia enggak bisa jalan lagi.”

Tapi temanku berpendapat:

“Yaah, masa’ hadiahnya cuma jalan duluan. Justru biji congklak yang banyak itu yang jadi bukti kemenangan.”

Ah kawan, justru menjadi yang terdepan di antara orang lain adalah kemenangan sesungguhnya. Dan sepertinya benar kata seseorang tadi. Biji congklak yang banyak itu hanya aset belaka untuk dikelola.

*btw, tetangga sebelah juga lagi nulis hal yang sama kayaknya. hahahaha*

One thought on “pesan dari biji congklak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s