Sabtu, R 501 13.30 – 15.30

“Being a teacher isn’t easy, you know..”, he said.

Kemarahan yang terkumpul itu akhirnya keluar (lagi). Setelah ditahan berminggu-minggu dalam gundukan kecewa di dada, akhirnya ia menyeruak keluar. Dengan kalimat itu, ia awali ungkapan kemarahannya.

Setiap hari Sabtu pukul 13.30 sampai dengan setengah hingga satu jam setelahnya, ia duduk di pojok kanan ruang kelas. Menatap layar komputer terus-terusan. Bukannya dengan sengaja. Ia hanya menghindari pemandangan di hadapannya. Seorang mahasiswa duduk melongo, tanpa kawan-kawannya yang seharusnya sudah duduk di sana. Di kanan – kirinya, di belakangnya. Memenuhi tiap bangku yang disediakan di sana. Tapi, kemana mereka?

Kemudian setelah satu jam berlalu, barulah satu-persatu berdatangan. Yang sepi jadi riuh, yang hening jadi ramai. Segalanya seperti akan membaik. Setidaknya, ada lagi yang datang. Selain bocah yang melongo saja itu. Tapi takdir berkata lain. Ia harus kecewa lagi. Setelah kesunyian kelas meremukkannya, keriuhan itu pun tak kalah mengiris hati. Keriuhan itu sukses membuatnya merasa lebih kosong daripada kesunyian tadi. Keinginannya menyampaikan apa yang harus disampaikan, ditolak oleh keriuhan itu.

Seperti air dipanasi di atas kompor. Air yang semula sejuk, menghangat, memanas lalu mendidih dan menggelegak. Keluar dari wadahnya. Begitu pun kekecewaannya. Hingga keluarlah kalimat pertama itu. Dan kalimat-kalimat lainnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s