Goodwill, Amortisasi dan….. Cinta

Suatu hari di Gandaria City, duduklah 2 orang sahabat.

…..

#SahabatSatu :

Jadi, investasi dalam saham itu ketika terjadi akuisisi mencakup 3 hal:

Pertama, penentuan biaya perolehan.

Kedua, alokasi kelebihan biaya perolehan pada aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi.

Ketiga, akuntansi untuk goodwill

#SahabatDua :

Bentar deh, alokasi kelebihan biaya perolehan itu maksudnya gimana sih? Gue lupa deh.

#SahabatSatu :

Gini lho, dalam mengakuisisi suatu perusahaan ada 3 macem hal yang harus clear dulu. Ada biaya perolehan, ada nilai buku, ada nilai wajar. Ketiga hal ini boleh jadi berbeda nilainya karena emang mereka adalah tiga hal yang berbeda.

Biaya perolehan, adalah segala daya upaya yang lu lakuin buat mendapatkan perusahaan yang lu akuisisi tadi. Nilai buku, adalah nilai yang tercatat mengenai perusahaan itu. Dan nilai wajar, adalah nilai sebenarnya dari perusahaan itu.

Misalnya gini, lu mau mendapatkan seorang lelaki. Nilai buku dari lelaki itu adalah…. dia ganteng. Dan lu mengeluarkan banyak usaha untuk mendapatkannya. Usaha lu itu banyak banget. Mulai dari cari tau tentang dia, kenalan, nraktirin temen-temennya, berkonsultasi dengan temen-temen lu mengenai kelanjutan hubungan lu sama dia, dll. Itu semua masuk ke biaya perolehan. Sedangkan yang namanya nilai wajar adalah nilai sebenernya lelaki yang lu deketin itu. Tau-tau selain ganteng, dia juga pinter, kaya, atau bahkan artis! Mungkin aja kan? Nah itu nilai wajar.

Antara biaya perolehan, nilai buku dan nilai wajar itulah sangat mungkin banget ada perbedaan. Biaya perolehannya 1 milyar misalnya, tau-tau nilai bukunya 800juta. Dan nilai wajarnya 900juta. Beda kan?

Selisih antara biaya perolehan dan nilai buku itu harus lu alokasikan pada aktiva dan kewajiban yang nilai wajarnya beda sama nilai bukunya. Caranya, setiap selisih yang terjadi pada nilai wajar dan nilai buku aktiva dan kewajiban itu lu kaliin persentase kepemilikan lu.

#SahabatDua Β :

Oke, udah kelar nih gua alokasi-alokasiin. Tapi kok masih selisih ya. Masih ada 100juta nih yang gua gak tau apaan.

#SahabatSatu :

Nah, itu yang namanya goodwill. Nilai lebih dari biaya perolehan yang keluarin dengan total selisih-selisih nilai wajar dan nilai buku yang udah lu itung tadi.

Jadi ketika lu udah menginventarisir kecerdasan, kekayaan, kebaikan hati lelaki ganteng itu tadi; masih ada satu hal aneh yang tidak teridentifikasi. Yaaa, bisa gua ibaratkan goodwill ini dengan… cinta. Cinta beda kan ya sama kebaikan hati?

Lu enggak pernah bisa memegang atau melihat cinta itu, tapi lu ngerasain kan? itu jadi aset konsolidasi hati antara lu dan dia kan? Nah, itulah cinta. Itulah goodwill. Dan itu harus diamortisasi setiap tahun.

#SahabatDua :

Hah, diamortisasi?

#SahabatSatu :

Ya, kayak aktiva macem rumah dan bangunan. Goodwill juga harus diamortisasi. Lu kan gak pernah bisa ngeliat si goodwill ini. Masa lu mau mengakui sesuatu yang gak bisa lu liat sih? Sisihkanlah uang lu sebagai alokasi penyusutan alias amortisasinya.

#SahabatDua :

Oh, oke. Berarti kurang tepat dong kalo goodwill kita ibaratkan dengan cinta. Kalo cinta kan semakin hari semakin bertambah.

#SahabatSatu :

Yakin lu, bahwa cinta sudah pasti akan bertambah semakin hari? Kan lu gak pernah liat cinta itu. Okey, lu mungkin masih liat lelaki yang ganteng tadi itu baik. Tapi apa itu bisa diartikan dengan cinta? Atau okey, setelah beberapa tahun lu liat nih lelaki kurang perhatian. Terus lu bisa bilang dia udah gak cinta? Gak bisa gitu dong. Perkara perasaan itu yang tau cuma Alloh. Maka, sebagai antisipasi lu harus menyisihkan beban amortisasi atas cinta rrr… goodwill itu.

Kenapa amortisasi ini penting? Karena ketika lu sudah bertahun-tahun menikmati kebersamaan dengan lelaki tadi, dan lu sudah mengalokasikan beban amortisasi; jika kemudian lu menghadapi kenyataan bahwa lelaki tadi udah gak cinta lagi sama lu, lu gak akan over-shockΒ terus pengen bunuh diri. Lu bisa bangkit dengan tegak dan move on. Karena lu paham bahwa sangat mungkin cinta akan memudar.

#SahabatDua :

Yahh, pesimis banget dong..

#SahabatSatu :

Gak juga lah. Rumah aja ada beban penyusutannya. Padahal kan rumah nilainya naek terus. Sama ama goodwill err…. cinta. Jadi walaupun kita udah mengalokasi beban amortisasi atas cinta lelaki itu terhadap kita, tapi jika memang ia tetap cinta dan mau bersama kita ya bagus kan? Gak usah dipusingin. Kita pun akan hidup bahagia!

———

Demikianlah diskusi antara 2 sahabat tentang goodwill, amortisasi dan….. cinta.

4 thoughts on “Goodwill, Amortisasi dan….. Cinta

  1. wah,, keren!! ternyata akuntansi yang notabene mengandalkan logika bisa juga diimplementasikan dalam ruang lingkup ketidaklogisan seperti emosi dan sejenisnya,, πŸ™‚

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s