Senyum

Sungguh, tidak akan ada jurang sosial yang teramat jauh di sini. Tidak ada orang kaya yang sangat kaya akan kupertemukan dengan orang miskin yang sangat miskin, meski realita memang kadang mempertemukan mereka. Dan pertemuan kami tidak terkait dengan hal itu.

Jakarta buruk. Sangat. Sekalipun Jl. Sudirman dengan gedung-gedung pencakar langitnya ada dan tetap ada, pada nyatanya Jakarta masih buruk. Sangat.

Adalah pagi di sebuah trotoar sepanjang Jl. Kebon Sirih mempertemukan kami. Dalam orkestra tak berharmoni yang dijejali suara kendaraan bermotor komplit dengan klaksonnya, serta suara salam sapa dan obrolan manusia-manusia yang berada di trotoar ini. Satpam gedung-gedung perkantoran menyapa bos atau penghuni kantornya, tukang kopi keliling dengan langganannya, tukang ojek dan penumpangnya, pedagang dan para pembelinya. Bahkan anak SD yang tengah berlarian di balik gerbang sekolahnya.

—–

Tadinya, aku tak menyadari kehadiranmu. Berlalu lalang hampir setiap pagi di sekitar Kebon Sirih 57, menenteng alat kerjamu. Dengan rompi bergaris hijau terang atau oranye, mirip rompi polisi lalu lintas. Tapi, lalu-lalangmu itu tak pernah cukup membuat kehadiranmu tertangkap mataku hingga pada suatu hari seorang teman bercerita bersemangat.

Singkatnya, kami yang bernaung di lembaga sosial mengadakan santunan untuk memperingati hari Ibu. Beberapa ibu-ibu dipilih untuk menerima santunan itu. Temanku itu, ia bersemangat sekali menceritakanmu. Tentang keramahanmu, ketelatenanmu mengerjakan pekerjaanmu, tentang senyummu, tentangmu. Semua orang setuju, dan kau dianggap layak menerima santunan itu.

—–

Beberapa bulan setelah itu, aku ‘direlokasi’ ke Kwitang. Berjalan kaki setiap pagi dan sore dari dan menuju Kebon Sirih. Aku memang suka berjalan kaki. Di hari-hari awal relokasi itu, tidak ada yang istimewa. Namun beberapa hari kemudian, kau menyapaku.

“Sekarang jalan kaki, neng geulis?”

Hah? Apa? Siapa itu yang bicara? Aku yang terbiasa melamun dan berkata-kata dalam pikiranku kaget luar biasa. Ada sebuah suara, menegurku. Kadang perjalanan pagi memang mempertemukanku dengan teman-teman seperjuangan. Dan itu tidak mengagetkanku. Tapi ini lain. Sebuah suara yang tak kukenal datang, seperti menyapaku. Ya, menyapa. Aku kaget bukan kepalang hingga mungkin wajahku membiru.

“Eh, kaget ya neng geulis?”

Lagi. Aku menoleh kesana kemari. Dari jarak pandang terdekat hingga terjauh. Lalu kutemukan sosokmu.

Gemuk. Tak terlalu tinggi. Wajah tembam dengan mata ramah, namun berubah agak khawatir melihat wajah biruku. Ini bukan pertama kalinya aku ditegur seseorang. Tapi aku sangat kaget dan bingung harus bagaimana.

“Eh, enggg. Iya,” hanya itu yang keluar dari mulutku. Suara musik jedak-jeduk dari System Of A Down masih memberisiki telingaku yang memang tengah kusumpal headset.

Kau tersenyum sederhana. Itu membuatku menirukan senyummu. Walau mungkin senyumku agak hambar. Lalu aku melangkah sedikit cepat. Masuk ke Kebon Sirih 57. Dari situ hingga hari-hari setelahnya, senyum itu menemui pagiku. Hangat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s