Antara Aku dan Hujan

Jakarta basah. Diguyur hujan deras merata setidaknya di Jakarta Pusat. Macet? Pasti. Sepanjang perjalanan dari Kebon Sirih menuju Menteng Raya saja, kendaraan hampir tak bergerak. Motor-motor mencoba peruntungan naik ke trotoar. Di antara licinnya trotoar yang kadang digenangi “vanilla latte” yang aku yakin tak akan diminum siapapun, mereka menyelip ke sana kemari. Mencoba bersaing dengan para pejalan kaki yang entah mengapa hari ini seperti bertambah signifikan jumlahnya. Ah, sebenarnya aku pun sedikit tahu mengapa. Bus gak jalan, bo! Maka para penumpang bus pun menyerah. Mereka turun ke jalan.

Di antara keruwetan itu, aku menyembul dengan payung pink penuh beruang. Harus ke kampus, berbecek-becekan demi UTS. Dan entah mengapa, selalu ada sesuatu antara aku dan hujan. Aku hampir tidak pernah bisa menahan senyum setiap melihat hujan. Bersentuhan dengan hujan. Di pojok tersempit jalan Jakarta. Terhimpit di antara motor-motor di sekelilingku. Kaos kaki yang mulai basah tak peduli seberapa hati-hatinya aku menghindari genangan “vanilla latte” tadi. Hujan selalu mampu membuatku tersenyum. Sejauh ini, ia selalu mampu membangkitkan ingatan yang indah saja. Tentang aku dan guyurannya yang deras dan kadang rintik.

Maka, maafkanlah. Bukannya aku berbahagia di atas derita orang bermacet ria. Aku hanya suka hujan. Sukaaaa sekali. Ia turun, seperti hanya hendak memberikan sebentuk senyum pada wajahku. Terima kasih.

 

 

 

 

 

*besides, i remember you.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s