What will my wall be?

…. kita terlahir bagai selembar kertas putih

tinggal kulukis dengan tinta pesan damai….

Beberapa saat yang lalu saya mengunjungi wall seorang teman yang sudah lebih dahulu dipanggil Allah. Sampai hari ini, – hampir 2 bulan sejak kepergiaannya – sahabat, keluarga, dan kerabatnya rajin mengunjungi wall itu. Dan keren, semua menyampaikan rasa cinta, rasa rindu, doa-doa penuh kebaikan. Tidak ada secuil cela tersampaikan di sana. Apalagi sinisme.

Saya sungguh tidak heran, apalagi mau memprotes orang-orang itu. Tidak. Karena selama saya mengenal beliau pun memang beliau itu sangat baik, ceria, percaya diri, dan tidak pernah menunjukkan rasa sakit – sesakit sakit yang ia derita – . Selalu ada senyum di sana.

Argh, seperti itukah pula “wall” saya nanti?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s