Bukan sebuah awal

“Jangan-jangan, anak kita yang matre.”

Tiba-tiba terdengar lagi kalimat itu. Ucapan seorang Ibu. Waktu itu aku menganggapnya sepele. Tapi malam ini, dengan mata terpejam kuresapi kata-kata itu. Kata-kata itu begitu biasa, tapi nyatanya tidak demikian. Seperti bagaimana kata-kata seorang Ibu lain. Namun, bagaikan sebuah kutukan yang tak bisa dicabut kembali. Kata-kata itu hidup di dalam diriku. Berkuasa.

Kubuka mataku. Kuingat lelaki itu. Sosok kurusnya, wajah sedihnya. Air mataku menggenang. “Ah, jangan menangis Lung. Air mata seorang seperti aku tidak pernah bermanfaat kecuali untuk memanfaatkan orang lain.” Lagi-lagi suara dalam hati. Entah itu nurani, atau sekedar lamunan seorang yang sendirian. Ia menggema dalam relung dadaku. Beresonansi, perih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s