Aku Mau Telur (cont’d)

Istri Penyimpan Stempel meraih tas besar yang tadi disandarkan ke tembok. Kantung matanya lebar dan sembab. Hidungnya memerah, bekas menangis. Adik Kecil ternyata di situ, berdiri saja memperhatikan adegan pertengkaran Penyimpan Stempel dan istrinya.

—–

“Kau sibuk?”

“Apakah seorang kecil sepertiku bisa sibuk?” jawab Adik Kecil tanpa mengalihkan pandangannya pada bebijian di telapak tangannya. Mendekati bulan Oktober, pepohonan mulai berguguran. Menjatuhkan biji-biji buah dan daun-daun kecokelatan.

“Istriku pergi.”

“Ke?”

“Entahlah. Ia tak mau mengatakannya.”

“Lalu?”

“Pinjami aku kunci untuk keluar dari tempat ini.”

“Tapi kau tidak akan bisa menjadi Penyimpan Stempel lagi.”

“Tak apa, asalkan aku dapat menemui istriku.”

Adik Kecil membuka genggamannya. Bebijian di telapak tangannya sudah berganti menjadi setangkai anak kunci. Ia memberikan benda itu pada Penyimpan Stempel.

“Terima kasih banyak Adik Kecil-ku,” katanya sambil mencium pelan kepala Adik Kecil, kemudian berlari.

“Sama-sama.”

—–

Seperti setiap waktunya makan, semangkuk kacang-kacangan masih ada di meja makan. Tepat di depan wajah Adik Kecil. Ia menahan nafas, menolak aroma kacang-kacangan itu dari rongga hidungnya.

“Aku tidak mengerti mengapa kau belum juga mau makan kacang itu. Dan omong-omong, kemana Penyimpan Stempel?”

“Hari ini ia libur.”

“Kau yakin?” tanya Pemegang Stempel pada Adik Kecil.

“Ya,” jawabnya pelan.

—–

“Aku sungguh tak percaya kau melakukan semua ini,” Penyimpan Stempel memandang setengah tak percaya. “Aku berjanji akan membuat Pak Farmer dan Pemegang Stempel mengizinkanmu makan telur itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga.”

Adik Kecil hanya menggangguk.

—–

“Selamat makan, Adik Kecil,” Nyonya Pemegang Stempel tersenyum lebar sambil menghidangkan sepiring telur dadar.

Adik Kecil pun tersenyum tak kalah lebar. Ia merasa tak pernah sebahagia itu sebelumnya. “Terima kasih, Nyonya.”

“Bagaimana rasanya?” tanya Penyimpan Stempel saat Adik Kecil selesai menelan satu potong telur dadar lezat itu.

“Hmm, tentu saja ini enak. Dan aku senang karena bisa memakan ini di depan kalian. Kalau aku mau, aku mungkin bisa melakukannya diam-diam waktu aku ke rumah pak Farmer. Tapi aku senang aku tak perlu melakukannya. Aku menyayangi kalian,” kata Adik Kecil panjang lebar. Senyumnya terus mengembang.

“Wow, kejutan!” seru Penyimpan Stempel, takjub.

“Sudah lama kami tidak mendengarmu berbicara sebegitu banyak,” kata Pemegang Stempel dengan pandangan menggoda Adik Kecil. Kali ini senyumnya hanya bersimpul.

—–

Malam sudah benar-benar datang. Karena telah kenyang, Adik Kecil bisa tidur sekarang setelah bermalam-malam tak pernah mampu tidur sebab kelaparan. Tapi sebelum tidur, ia ingin menemui Pak Farmer. Ia sangat bahagia dan ingin mengucapkan terima kasih pada Pak Farmer.

“Hai, Adik Kecil.”

“Selamat malam, Pak Farmer. Aku ingin berterima kasih,” kata Adik Kecil sambil membuka lebar-lebar pintu rumah Pak Farmer.

“Untuk?”

Tiba-tiba sebuah angin dingin seperti masuk ke rongga dada Adik Kecil. Matanya meredup seketika.

“Bercanda. Pasti untuk telur siang ini kan? Hahahaha..” kata Pak Farmer sambil mengangkat Adik Kecil ke pangkuannya dan tertawa terbahak-bahak.

Adik Kecil tersenyum lega. Menyandarkan kepala mungilnya ke dada Pak Farmer lalu menguap.

“Baiklah, seperti yang kau lihat aku mengantuk sekarang. Tugasku sudah selesai. Selamat malam, Pak Farmer,” kata Adik kecil, menurunkan tubuhnya dari pangkungan Pak Farmer.

Setelah menginggalkan rumah Pak Farmer, Adik Kecil bergegas masuk ke rumahnya. Merekatkan mantelnya. Entah bagaimana, angin dingin tadi belum meninggalkan rongga dadanya. Masih terasa tak nyaman.

“Adik Kecil, belum tidur?” sebuah suara hampir saja menjungkalkan Adik Kecil saking kagetnya. Ia menoleh. Istri Penyimpan Stempel.

“Terima kasih karena kau telah memberikan anak kunci itu pada suamiku. Sekarang, adik-adikku bisa masuk negeri ini.”

Adik Kecil tahu sekarang penyebab dingin itu. Ia menatap langit. ‘Adik-adik kecil’ Istri Penyimpan Stempel menyerbu datang berupa gulungan tornado yang mulai terbentuk di kejauhan setelah bertahun-tahun terkunci di balik gerbang besi di Utara. Adik Kecil tahu situasinya sekarang.

“Aku tidak meminjamkan benda itu untuk ini!!!” jeritnya, pasrah.

“Tapi ia sudah amat berjasa padamu juga kan? Telur itu. Sekedar angin lewat tentu tak mengapa0. Kau bisa mengungsi ke tempat lain.”

Adik Kecil merasa mual. Tanpa arah, ia berlari jauh dari tempat itu. Dadanya sesak oleh kemarahan yang tak mampu ia muntahkan. Bersamaan dengan itu. Angin besar datang. Mengantarkan jutaan wabah penyakit dari Utara, menyerang rakyat yang tengah terbuai mimpi memanen esok hari. Sementara ratusan hektar lahan pertanian seketika mati, meninggalkan retak-retak pada tanah yang sebelumnya gembur. Adik Kecil kemudian menunduk, terduduk lemas. Memeluk kakinya dan menangis.

—–

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s