Aku mau telur

“Adik kecil, waktu kita tak banyak. Ambil salah satu kacang di mangkuk itu.”

Si Adik Kecil memandangi jam pasir di sebelah mangkuk yang disodorkan wanita itu, Sang Pemegang Stempel.

“Tapi aku tak mau kacang, aku mau telur milik Pak Farmer,” bisik Adik Kecil.

“Aku belum lapar. Aku akan memakan sesuatu ketika aku benar-benar lapar,” kata Adik Kecil akhirnya, sambil berlalu dari meja makan itu.

Sebelum Adik Kecil sampai di depan pintu, Pemegang Stempel sudah mendahuluinya. Mencengkeram tangan Adik Kecil. Kesabarannya sudah habis.

“Makan sekarang atau aku tidak akan memberimu makan! Pilih salah satu kacang dimangkuk itu!”

Adik Kecil memandangi mata cokelat Pemegang Stempel. Kemudian ia membalikkan badannya, memunggungi wanita itu. Ia mendatangi meja makan. Selain semangkuk kacang berbagai jenis, sekarang ada Penyimpan Stempel ikut duduk disana. Ia tersenyum pada Adik Kecil.

“Kemarilah, duduk di sampingku. Jangan pikirkan mangkuk itu.”

Adik Kecil duduk. Ia tahu, bagaimana pun Penyimpan Stempel yang ramah ini pasti ingin membuatnya makan salah satu jenis kacang itu. Entah yang mana.

“Apakah kau lapar, Adik Kecil?” tanya Penyimpan Stempel terang-terangan.

“Sebenarnya. ya!” jawab Adik Kecil.

“Kau tidak suka kacang ya?” tanya Penyimpan Stempel lagi sambil memandang kacang-kacang di mangkuk. Pandangannya meremehkan.

“Ya,” entah mengapa Adik Kecil mulai merasa bahwa Penyimpan Stempel sudah tahu apa yang akan ia jawab. Pertanyaan-pertanyaan itu sekedar formalitas saja. Termasuk pandangan meremehkan itu, pasti formalitas juga.

“Aku mau telur milik Pak Farmer. Tapi seperti yang kau tahu, ayamnya belum bertelur. Dan sekalipun kau menanyakanku segala macam, ayam itu tidak akan bertelur lebih cepat. Jadi sebaiknya aku meninggalkan ruangan ini,” kata Adik Kecil sebelum Penyimpan Stempel mulai menanyakan sesuatu.

“Oh, jadi kau mau telur ya. Akan kusampaikan itu pada Nyonya Pemegang Stempel!”

—–

Beberapa hari sebelumnya…

“Lihat, itu telur Pak Farmer!” kata Adik Kecil, menunjukkan adegan Pak Farmer sedang membawa sekeranjang telur kepada Penyimpan Stempel. Wajah Adik Kecil memerah senang.

—–

“Aku rasa Pemegang Stempel akan mengizinkanmu makan telur.”

“Adik Kecil, aku rasa Pemegang Stempel akan mengizinkanmu makan telur milik Pak Farmer,” kata Penyimpan Stempel mengulangi.

“Lalu, aku harus bilang ‘wow!!!’?” komentar Adik Kecil, pura-pura tidak terganggu.

“Semestinya kau bilang ‘bagai mana bisa?? ah, betapa baiknya kau wahai Penyimpan Stempel!'” balas Penyimpan Stempel, serupa. “Aku hanya mau bilang itu, ya sudah ya!”

Pintu tertutup rapat di detik yang sama saat tubuh Penyimpan Stempel menghilang di baliknya.

“Terima kasih,” Adik Kecil tersenyum.

—–

“Mau kemana kau?”

Adik Kecil terlonjak kaget. Upaya diam-diamnya menemui Pak Farmer untuk ikut memberi makan ayam sepertinya akan  gagal hari ini. Sosok tinggi semampai Penyimpan Stempel kini berdiri tepat di hadapannya.

“Eng, aku…..”

“Pergilah, kembali sebelum kau mencium bau matahari dari rambutmu,” kata Penyimpan Stempel sembari meremas rambut Adik Kecil.

Tanpa segeming pun pita suaranya bergetar, Adik Kecil berlari kencang menuruni bukit itu dan menghambur pada ayam-ayam Pak Farmer. Wajahnya memerah lagi, senang.

—–

to be continued…

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s