lima waktu

Alarm ponselku berteriak nyaring. Sekedar pengingat dariku untukku sendiri. Sudah jam 4.30 pagi. Bangun pagi. Setidaknya, subuh-an dulu lah. Kupejamkan mataku sekejap, membukanya lagi. Mematikan alarm itu. Bangkit, ambil wudhu.

—–

Kulirik jam besar di salah satu dinding ballroom ini. Sedetik yang lalu, jarum penunjuknya menggeser jarum panjang menuju 6 dan memposisikan jarum pendek tepat di antara angka 2 dan 3. Tepat pukul 14.30 sudah. Keringat membasahi dahiku. Beberapa menit berselang, acara selesai. Kakiku tak terkontrol, berlari. ‘Mengejar’ dzuhur.

—–

Dosen masih konsentrasi mengajar di depan. Kakiku goyang-goyang. Sudah hampir gelap. Mau izin keluar sebentar, tak enak. Materi sedang seru-serunya dibahas. Tapi belum sholat ashar. Ah, kalau kutinggalkan kelas ini bisa jelek nilai ujianku nanti. Materi ini terlalu sulit untuk kutinggalkan mesti tak lebih lama dari 10 menit. Matahari terbenam sepenuhnya. Lewat sudah.

—–

Huft. Antrian mobil mengular panjang. Menyisakan sedikit sekali aspal yang mampu terlihat. Macet semacet-macetnya. Dadaku berdegup. Tidak terlalu keras degupnya, mungkin ia pun sudah tak terlalu resah untuk meninggalkan perintah-Nya barang satu waktu. Tapi si mata tak mampu berdiam tenang, melirik kesana-kemari. Mencari masjid atau mushola di sudut-sudut sempit gang yang masih bertahan dihimpit ratusan gedung pencakar langit. Kadang ia memandangi gedung-gedung itu, mungkin ada mushola di dalamnya. Kubayangkan nikmatnya sujud. Namun sebentar kemudian, adzan isya berkumandang.

—–

Lelah. Bagusnya, waktu isya jauh lebih panjang dari waktu yang lain. Kujatuhkan tubuh penatku pada kasur empuk. Tak benar-benar kantuk, hanya ingin berbaring. Pakaian sejak pagi tadi masih melekat sempurna di badan. Tak lama, mata terlelap. Hati, sepertinya ia berbisik “Gusti Allah, maafkan kelalaianku hari ini. Berikan aku kekuatan yang lebih di esok hari, untuk tak mengizinkan lalai itu datang lagi.” Namun entah bagaimana, alarmku berbunyi. Sudah pagi.

—–

kubuka jendela pagi dan dosa pun menghampiri,

suara jerit hati kuingkari..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s