Delapan pocong

Matahari masih bersinar dari sela-sela benang cokelat jendela kamarku. Terik. Tidur pasca subuh benar-benar nikmat. Tapi terik itu, berhasil membangunkan mata kantukku untuk beraktivitas, kerja. Kupandangi kaki-kaki kurusku. Lalu tiba-tiba hembusan angin dari kipas membawaku ke sebuah pagi, mungkin jam yang sama, beberapa tahun yang lalu.

——–

“Trap trap trap.”

Derap kaki kami berlari kecil. Napas terengah-engah mengejar ketertinggalan. 4 putaran sudah terlewati dan masih 2 putaran lagi yang harus dihadapi. Sementara kepala sudah pening, perut sudah mual. Tradisi 6 putar di lapangan Velodrome benar-benar tak akan terlupakan.

“Ayo nur, dikit lagi,” wajah memerahnya dengan hidung mancung muncul dari belakangku. Membalapku dengan langkah yang tak lebar pula. Tubuh tegap cenderung bongsornya kelihatan mulai lunglai.

Rrrrrrr. Kutengok belakangku. Kiky, sudah pasrah rupanya. Bekal gula merah dari Ishma sudah tak mampu menjadi dopping. Ia mengubah acara lari pagi ini menjadi jalan santai. Si bocah yang memang jago lari sudah duduk santai sembari berdadah-dadahan, menyemangati kami yang kelelahan.

——-

“Because of you I never stray to far from the side walk…” suara Nona Clarkson dari headset seperti meremas hati kami. Menghayati sepenuh hati, aku dan kawan sepernyanyian menghafal lirik lagu itu. Di pojokan sana ada kawan lesung pipit sedang menggenggam kertas-kertas. Sambil mulutnya berkomat-kamit. Kusambangi, penasaran apa isi kertasnya. Hayyah, lirik lagu juga.

Kami semua, saat itu, entah bagaimana suka mendengarkan lagu. Suka menghafal liriknya. Suka mencari arti lagu itu. Walaupun genrenya beragam. Ada yang geleng-geleng sambil denger SOAD, ada yang tersenyum malu membaca lirik puitis Craig David, dan lain-lain seperti yang tertuang di paragraf sebelumnya. Dan tak jarang, kami beririsan dalam persoalan perlaguan .

——-

“Ki, kok pala lu warna-warni?”

“Iya, ini gua bikin pake kertas karton terus diwarnain pake krayon.”

“Priz, cepetan napa pake jilbabnya. Udah simetris itu.”

“Nur, lu jangan pake kerudungan langsung gitu napa. Bikin mau gua cekek tuh kayak si anak listrik.”

“Ishma, kerudung lu kayak orang mau maen silat dah.”

——

Bel tanda istirahat berbunyi. Sebagai remaja yang sedang bertumbuh, saat istirahat adalah waktunya mengisi energi. Begitu pula dengan kami.

“Yol, makan kantin yuk.”

“Enggak ah, gua nitip baso aja yak.”

Si manis yang kecil menunduk di pojok kelas. Mengeluarkan kantong kresek kesayangannya. Donat, risol dan kawan-kawannya menyembul dari kantong kresek itu.

“Gua ngemil aja ah, gak kuat gigi gua.”

Dua orang itu, cenderung sulit untuk makan makanan kantin. Oh iya, ada satu lagi. Nona romantis juga tidak suka kantin. Tak tahu mengapa.

——-

Lebih dari 4 tahun sejak kami tidak sama-sama duduk di kelas. Suka tidak suka, kami tumbuh. Mekar mendewasa. Udara yang berputar di sekitar kami tidak lagi sepenuhnya sama.

Ada yang sedang bermain dengan putra kesayangannya yang menggemaskan, ada yang sedang berbahagia dengan guncangan dedek bayinya, ada yang sedang menunggu 2 garis di test pack, ada yang sedang deg-degan takut calon suaminya yang bule itu salah nyebut pas ijab kabul, ada yang sedang menunggu lamaran, ada yang sedang sibuk mikirin dismantle sampe gak kepikiran kuliah, ada yang mengagumi kecantikannya sendiri sambil mengetik postingan ini, dan ada satu lagi sahabat kecil yang santai-santai di pondok gede sana.

I love you all. Aku mencintai kalian. Dan berharap kalian pun begitu. Semoga kasih sayang ini diberkahi ya!! Selamat berbahagia.

One thought on “Delapan pocong

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s