“Pesona Gadis Pecenongan”

Suatu hari, di Pecenongan.

“Pisang gorengnya, Pak.”

“Tidak, Dek. Terima kasih,” kataku sambil tersenyum pada gadis kecil yang juga tersenyum itu.

Dia mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Di samping kelompok kecil kami.

Temanku, -seorang perempuan- sepertinya merasa iba dan mengeluarkan selembar uang seribuan dari sakunya.

“Tidak, Bu. Terima kasih,” si gadis kecil mengulang perkataanku padanya di awal tadi, sambil terus tersenyum.

Temanku itu, mengganti uang seribunya dengan selembar 2 ribuan dan memberikannya pada si gadis kecil.

“Tidak, Bu. Tidak usah. Terima kasih,” katanya lagi, menolak.

“Enggak apa-apa, Dek. Saya memberikan ini untuk kamu,” kata temanku, agak memaksanya.

Si gadis kecil menolak sambil tetap tersenyum dan berkata, “Tidak, Bu. Pesan ibu saya, saya harus jual pisang goreng ini.”

Cerita simpel, sering terdengar dimana-mana. Cerita simpel itu, agaknya mengingatkan kita pada sesuatu yang saat ini mulai sulit ditemui: etos kemuliaan diri, atau etos harga diri.

Etos kemuliaan diri ini, menjaga harga diri atau kemuliaan diri kita sendiri dengan memiliki dan menerapkan standar atas kualitas diri kita.

Gadis kecil itu mungkin tidak mengerti bahwa tangan di atas memang lebih baik dari tangan di bawah. Apa itu standar atas kualitas diri pun mungkin ia tidak peduli. Tapi tanpa sadar, ketidakinginan untuk menerima uang itu tanpa harus menjual pisang goreng adalah cerminan dari etos kemuliaan diri si gadis kecil. Ia menjaga kemuliaan dirinya dengan memegang standar berupa: keharusan menjual pisang goreng itu, baru kemudian menikmati uang hasil dari penjualannya.

Kalau ada yang bilang sangat sulit membuat diri kita dimuliakan orang lain, namun sebenarnya menjaga etos kemuliaan diri dari diri kita sendiri itu lebih sulit.

Banyak hal yang mampu dilakukan oleh diri kita untuk menghancurkan kemuliaan itu, di antaranya adalah dengan mengukur-ukur bahwa pengorbanan yang telah kita lakukan jauh lebih besar dan menganggap remeh apa-apa yang dilakukan orang lain. Contoh kecilnya, mungkin selama ini kita mengganggap bahwa apa yang kita lakukan untuk orang tua sudah cukup banyak untuk membayar habis apa yang mereka lakukan namun nyatanya itu tidak cukup, Kawan. Mau tahu kenapa? Karena saat orang tua mencurahkan segalanya untuk mengurus dan merawat anaknya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar anak ini kelak menjadi anak yang sehat, cerdas, sukses dunia akhirat. Namun ketika tiba waktunya kita yang mengurus orang tua, apa yang dipikirkan? “Kapan ini akan berakhir?” Maka kita tidak pernah layak merasa telah membayar habis jasa mereka.

Kemudian, hal lain yang dapat menghancurkan kemuliaan diri adalah sifat permisif terhadap kekurangan dirinya. Misalnya saja, kita sangat permisif pada diri kita sendiri untuk malas bekerja dengan alasan mood sedang tidak baik, atau sedang suntuk. Padahal mood itu diciptakan, bukan datang dengan sendirinya.

Yang terakhir, hal yang dapat menghancurkan kemuliaan diri adalah dengan terlalu banyak melakukan hal remeh temeh yang dapat mengurangi produktivitas diri kita sendiri. Mau belajar tapi terlalu banyak melamunnya, kerja terlalu banyak ngobrolnya, dan lain sebagainya.

Menjaga kemuliaan diri mungkin adalah sebuah pilihan, namun pilihan yang baik nature-nya akan menuntun diri pada hasil yang baik pula

 

Disarikan dari kajian Rabu pagi

oleh Direktur Pelaksana BAZNAS,

Bpk Teten Kustiawan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s