Kramat Sentiong – Kramat Jaya – Kp. Rawa, Johar Baru

Aku terdiam di depan pintu rumah kontrakan. Maksudku, rumahku, tempat aku mengontrak. Maksudku, aku membayar beberapa rupiah untuk mengontrak rumah itu, tempat aku tinggal untuk sementara. Ah, rasanya sulit sekali menyebut tempat semacam itu sebagai ‘rumahku’. Rumah-ku, tempat aku pulang.

Aku berdiri di depan pintu cokelatnya yang terlalu lebar. Aku memandangi anak kunciku yang cuma satu. Sementara pintu itu terkunci 2 kali. Satu oleh sebuah gembok, dan satu lagi ya kunci di pintunya. Aku tidak bisa masuk. Lelah seharianku hanya butuh selembar kasur untuk berbaring. Tapi nyatanya aku tidak bisa masuk sekarang. Aku memutar anak kunciku yang cuma satu itu ke lubang kunci. Terbukalah kuncinya. Tapi tidak dengan gemboknya. Padahal aku tahu itu sebelum aku mencoba membuka kuncinya. Aku tahu sekeren apapun anak kuncinya, aku tetap tidak bisa membuka gemboknya.

Huftt, aku lepaskan tas besar yang mengungkung pundak kurusku. Aku ambil telepon genggamku dari saku, melapor ‘current condition’-ku kepada Ahmad Yunus. Aku sedikit tenang. Dia memintaku mencari anak kunci satunya. Aku tahu itu percuma, toh memang aku tidak membawanya pagi ini walaupun beberapa hari sebelumnya 2 anak kunci itu ada di sakuku. Namun nyatanya, sekarang tidak ada.

Aku memutuskan menelepon kakak iparku, penghuni lain kontrakan ini. Berharap kakakku (suaminya), sudah pulang dan bersedia bergegas ke tempat ini. Satu nomor, 2 nomor, 5 nomor, tidak ada yang tersambung. Hah, situasi ini betul-betul bikin gerah. Keringat dari dahi mengalir sampai ke bulu mataku. Setelah beberapa kali menekan tombol hijau, barulah tersambung. Sudah kuduga, kakakku belum pulang, aku harus ke tokonya, aku harus kesana, aku harus ke tempat itu. Demi sebuah anak kunci kecil yang adalah pasangan sebuah gembok yang juga kecil. Yasudahlah.

Setelah adegan singkat tawar-menawar ongkos bajaj, aku naik. Melaju menuju tempat itu dengan bajaj biru. Biasa saja sih. Sampai sebuah halte busway lengkap dengan jembatan penyeberangannya berada di depanku. Kramat Sentiong. Aku seperti terserap ke masa sebelum 12 hari yang lalu. Bajaj biru itu berbelok, masuk ke Jl. Kramat Sentiong, seperti masuk ke masa lalu yang tidak lalu-lalu amat. Cuma 12 hari. Segalanya masih lama. Jajaran toko handphone + pulsa, warteg dan warung kopi, toko obat, indomaret, gerobak pizza mini, semuanya sama. Seolah selama lebih dari 20 tahun aku di sini, orang-orang tak pernah berganti. Mereka hanya bergerak statis untuk menyajikan pemandangan yang sama padaku. Ya, segalanya sama. Kecuali aku.

Wusshh.. Kramat Jaya. Kramat Sentiong yang ramai dengan puluhan tukang dagang segala rupa kini berganti menjadi jalan sempit dengan rumah-rumah berdempet yang kadang diselingi warung makan dan toko pulsa (gak jual handphone). Masih ramai. Riuh bocah-bocah yang tengah bermain di tengah jalan seperti tidak menghiraukan, atau mungkin tidak tahu sama sekali ada mobil maut menabrak orang-orang di halte. Itu di halte. Lha ini, di tengah jalan. Main gundu atau sepak bola atau main karet. Mereka tak peduli. Sementara ibu-ibu bergerombol di depan pintu. Gerah dengan suhu Jakarta Pusat yang pengap. Bapak-bapak pun sama. Nongkrong di pos RW sembari memperhatikan orang jalan. Diselingi kopi hitam panas dan obrolan ringan. Kramat Jaya masih sama, masih seperti tak tahu dunia di luarnya sedang apa. Mereka tetap tenang dalam keramaiannya. Sampai sini, segalanya masih sama. Kecuali aku.

Semakin dekat dari mantan rumahku. Ya, mungkin lebih nyaman disebut begitu. Aku pikir mungkin akan berbeda. Mungkin anak-anak nongkrong di depan gapura akan melihatku dan memandangiku barang sejenak. Pemilik warung teh botol dan jajanan bocah akan mengenaliku dan menegur dengan sapaan yang berbeda, tidak seperti hari sebelum 12 hari yang lalu itu. Hep. Mesin bajaj biru dimatikan. Aku menarik napas. Turun dari situ. Anak lelaki seusiaku dan beberapa yang lebih muda sedang main bola di tengah jalan. Abg-abg duduk di pinggiran rumah orang sambil bergosip. Ngomongin cowok inceran atau mungkin pacar mereka yang sedang main bola atau genjreng-genjreng gitar di pojokan. Masuk ke gapura, anak kecil berlari-larian kesana kemari. Ibu mereka duduk di depan rumah tetangga sambil nonton sinetron bersama-sama. Sudah pukul 8 malam, tapi masih ramai luar biasa. Bapak-bapak sedang ramai mengerubungi tv di pos kamling, seperti laron. Menatap cahaya dari tv itu dengan serius. Aku lewat-lewat saja. Dan ternyata, tidak ada yang sadar. HoreeeeeeπŸ˜€ aku masuk ke toko kakakku. Menyelesaikan urusan anak kunci dan kembali ke kontakan. Ternyata, Kp. Rawa juga masih sama. Semuanya benar-benar sama. Kecuali aku.

Aku membalikkan tubuhku dari gapura itu. Pintu masuk menuju negeri Kp. Rawa dari sebuah jalan bernama Kramat Jaya. Aku berusaha tidak ambil pusing. Toh aku juga salah satu pemprakarsa acara pindahan rumah. Tapi ada sesuatu yang aneh. Aku merasakan rindu. Kangen. Aku kangen tempat ini. Kangen berisiknya, kangen ramainya, kangen makanannya (hehehe), kangen semuanya. Bagaimana pun jeleknya tempat ini, kumuhnya tempat ini. Tempat ini adalah mother land-ku. Berliter-liter iler kutumpahkan disini selama 21 tahun aku bermimpi untuk keluar dari sini menuju ‘rumah’ yang lebih baik.

Terima kasih dariku, kepada sepanjang jalan yang kulewati, untuk 21 tahun ini. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan pada tempat ini.

P.S.: kagak sempet liat mantan rumah, takut singit :p

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s